Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Keputusan Finansial yang Bisa Membuatmu Menyesal Seumur Hidup

by Ariesta on 11 April, 2016

keputusan finansial - CekAja.com

Penyesalan. Kita semua pasti pernah mengalaminya. Apalagi jika penyesalan tersebut berkaitan dengan finansial. Menyesal dalam hal finansial berarti mengalami kerugian.

Namun ada perbedaan mendasar antara menyesal karena membeli sepatu high heels yang tidak kamu butuhkan dengan menyesal karena membelinya.

Bahkan beberapa keputusan finansial yang salah terkadang bisa membuat penyesalan yang bisa menghantuimu seumur hidup. Agar kamu bisa terhindar dari hal itu, berikut beberapa daftar keputusan finansial dan cara untuk memperbaiki kesalahan yang mungkin bisa terjadi;

Mengambil uang dari tabungan pensiun

Uang pensiun yang sudah sekian lama ditabung dari penghasilan memang sangat menggoda untuk diambil. Selain karena tidak perlu berutang pada orang lain, kamu pasti berpikir kalau usia pensiunmu masih jauh.

Akan tetapi meski pun dalam rangka kebutuhan emergensi, mengambil uang dari tabungan pensiun merupakan ide yang buruk. Apalagi jika tabungan pensiunmu dialokasikan menjadi dua bagian (deposito dan investasi), kamu telah menyia-nyiakan kesempatan uangmu tumbuh.

(Baca juga: Mengenal Bunga Anuitas dalam Kredit Perbankan)

Bencana lebih buruk bisa datang ketika kamu tidak punya kemampuan mengembalikan uang tabungan pensiun padahal usia pensiunmu sudah semakin dekat. Niat awalnya ingin pensiun kaya raya, tapi malah harus pensiun serba pas-pasan.

Membayar cicilan dalam jumlah minimum

Katakanlah sebenarnya kamu punya uang tunai untuk membeli mobil, tapi kamu memilih membeli dengan cara mencicil dan dengan tenor panjang. Memang, membeli dengan cara mencicil terkesan lebih murah, apalagi jika waktu pelunasan panjang.

Padahal, sebenarnya hal ini sangatlah merugikan karena harga total mobil tersebut pastinya jauh lebih besar. Misalnya, etika kamu membelinya secara kredit selama 3 tahun cicilan per bulan Rp 3 juta, tapi kalau kamu beli dengan kredit selama 5 tahun hanya Rp 2,5 juta.

Faktanya total saat kamu menyicil selama tiga tahun hanya menghabiskan uang sebesar Rp 108 juta sementara kalau kredit selama 5 tahun total harganya menjadi Rp 150 juta atau lebih mahal Rp 42 juta!

Menunda tabungan pensiun

Banyak orang memiliki pola pikir, “Aku akan mulai menabung pensiun saat aku sudah menghasilkan banyak uang.” Padahal ini jelas-jelas pola pikir yang salah.

Uang yang kamu tabung pada usia 25 meskipun jumlahnya sedikit akan tumbuh lebih banyak. Jika kamu baru menabung di usia 40, tentunya kamu harus mengejar banyak ketinggalan. Apalagi seirng bertambahnya usia, semakinj bertambah pula kebutuhan dan makin sulit pula menyisihkan uang untuk ditabung.

(Baca juga: Cara Membuat Laporan Arus Kas Keuangan Pribadi)

Nekat menjadi investor tanpa belajar

Investor yang sukses tahu kapan waktu yang tepat membeli dan kapan harus menjual saham. Kamu yang baru memulai investasi pasti ingin pembelian pertamamu menguntungkan.

Tapi bagaimana jika kamu kepalang membeli dalam jumlah banyak namun perusahaan yang kamu danai langsung bangkrut hanya dalam hitungan 1-2 tahun? Selain rugi banyak, pengalaman ini bisa membuatmu kapok seumur hidup.

Salah hitung saat beli rumah

Urusan membeli, menjual, atau pindah rumah terkadang menjadi keputusan finansial jangka panjang. Karena itu, keputusan ini bisa menjadi mempengaruhi hidup. Sebab, keputusan soal rumah melibatkan kelangsungan keluarga dan finansial dalam waktu 5 tahun, 10 tahun, bahkan hingga 20 tahun. Tergantung dari jangka waktu kredit yang kami ambil. Tak hanya itu, keputusan membeli rumah juga bisa berdampak pada masa depan karier.

Putus sekolah/drop out

Contoh miliader dunia seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg memang tidak lulus kuliah. Tapi bukannya bermaksud mengecilkan, tidak semua bernasib semujur mereka. Pada dasarnya Bill dan Mark adalah pribadi-pribadi cerdas yang terus belajar meski tanpa pendidikan formal.

Namun keputusan berhenti sekolah karena alasan mahal dan ingin bekerja merupakan keputusan yang salah. Khususnya di Indonesia, gelar masih dibutuhkan untuk mencari pekerjaan. Dan meski kamu berminat menjadi entrepreneur, gelar berguna untuk membangun koneksi.

Sebuah survei yang dilakukan oleh University of Kansas Business School di Amerika mengungkap bahwa lulusan universitas berpenghasilan dua atau tiga kali lebih banyak daripada lulusan SMA. Berdasarkan data Departemen Ketenagakerjaan Amerika, rata-rata penghasilan lulusan SMA adalah US$1,4 juta sementara sarjana menghasilkan US$2,4 juta. Sementara itu pengasilan rata-rata mereka yang bergelar doktor berada di angka US$3,4 juta.

Tentang Penulis