Kesalahpahaman tentang Tes Psikologi Melamar Kerja

Kesalahpahaman tentang tes psikologi Melamar Kerja

Banyak pelamar kerja yang berlatih psikotes sebelum panggilan tes, salah satu yang sering digunakan adalah psikotes online yang banyak beredar di Internet.

Bisa jadi persepsi setiap orang berbeda-beda. Terdapat tipe orang yang cukup mudah dalam wawancara atau dalam fase FGD, tetapi tidak dalam tes psikologi.

Bahkan ada yang tidak pernah sampai ke tahap akhir CPNS karena hanya tes psikologi yang hilang beberapa poin, serta melamar perusahaan BUMN gagal dalam tes psikologi.

Gagal psikotes bukan berarti kita bodoh ya yang namanya psikotes. Mereka yang melihat kita sebagai psikiater dan beberapa orang perusahaan.

Mereka yang melihat apakah karakter kita cocok atau tidak dengan organisasi mereka. Jadi jika Anda tidak berhasil dalam tahap psikotes, jangan berkecil hati dan berpikir kita tidak memiliki kemampuan.

Harus dipahami bahwa tes psikologi dalam proses rekrutmen bukanlah proses penilaian seperti ujian umum yang kita ikuti di sekolah untuk menguji apakah kita bisa lulus atau diterima di sekolah tertentu.

Proses psikotes adalah proses memeriksa kemampuan dan kekuatan serta kepribadian pelamar untuk melihat apakah mereka cocok dengan posisi yang mereka lamar.

Katakanlah Anda melamar menjadi tenaga penjual, tetapi setelah tes psikologi tampaknya Anda tidak suka berbicara atau pemalu, kurang berorientasi pada tujuan dan lebih memiliki kemampuan dengan angka dan penalaran.

Ini tidak membuat Anda cocok untuk posisi penjualan, tetapi lebih cocok untuk bekerja di belakang meja, misalnya sebagai keuangan.

Jadi ya, sebenarnya tidak ada yang perlu “diperbarui”. Bahkan, terkadang saya melihat buku-buku seperti lulus tes A atau tes B sebagai upaya menipu pelamar agar pelamar menjadi bunglon dan mengelabui HRD agar ditempatkan pada posisi yang tidak sesuai dengan kelebihannya.

Tapi saya mengerti bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan, jadi mari kita kembali ke diri kita sendiri.

Selain itu, hasil penilaian diteruskan ke pihak yang meminta, yaitu user, bukan pelamar.

Kenapa harus ada Psikotes di seleksi melamar kerja?

Tes psikologi dalam proses rekrutmen karyawan sebenarnya bergantung pada posisi yang Anda lamar dan peraturan perusahaan mana yang berlaku. Ada jabatan tertentu dan perusahaan tertentu yang hanya menggunakan wawancara.

Kembali ke pertanyaan kenapa harus ada psikotes?

Tes psikologi umumnya digunakan untuk melihat kekuatan diri, kepribadian calon karyawan, dan gaya kerja calon karyawan.

Hal ini dilakukan untuk mencocokkan prospek individu dengan pekerjaan yang akan dilamar, budaya perusahaan dan sebagai bahan pemikiran dari sisi People Development/SDM untuk suatu saat memutuskan langkah yang tepat untuk meningkatkan kinerja karakter karyawan tersebut.

Akhir-akhir ini semakin banyak calon karyawan yang melamar pekerjaan tetapi tidak memahami pekerjaan yang akan dilamar karena tidak memiliki pengetahuan tentang perusahaan sehingga dapat dikatakan mereka melamar pekerjaan secara sembarangan.

(Baca juga: 5 Daftar Startup Incaran Pekerja Milenial)

Untuk itu, tim rekrutmen memasukkan psikotes dalam rangkaian rekrutmen, salah satunya untuk mempertimbangkan munculnya masalah SDM yang disebabkan oleh perbedaan kepribadian karyawan dengan jabatan yang dijabatnya.

Tes psikologi digunakan ketika memilih karir karena dapat dibuktikan dan memprediksi kinerja masa depan karyawan di perusahaan. Karena terkadang ada hal-hal yang tidak terlihat dalam wawancara.

Bisa jadi dia tampil optimis, berkomitmen, kompeten, dan pandai menjawab pertanyaan selama wawancara.

Tetapi ketika berhasil masuk, segalanya tampak berbeda. Sering terlambat, kurang loyalitas, tidak ada motivasi kerja, pada akhirnya perusahaan rugi karena membayar karyawan tersebut.

Dengan tes psikologis, beberapa jenis hal rahasia ini sedikit banyak akan muncul. Beberapa instrumen tes psikologi dapat dengan tepat memprediksi kinerja, motivasi, dan kepribadian karyawan di masa depan.

Kasus asal mengisi psikotes dapat diperiksa kembali saat wawancara dengan psikolog.

Lalu seleksi seperti apa yang tidak memerlukan psikotes?

Secara umum, hanya beberapa wawancara dan bahkan wawancara panel yang dipilih dengan beberapa orang yang kompeten. biasanya untuk posisi direktur, manajer senior atau wakil presiden. Misalnya, saat fit-and-proper test calon direksi BUMN.

Kesalahpahaman tentang tes psikologi

Secara tidak sadar, Anda akan mengasosiasikan tes dengan jawaban benar/salah, apa pun bentuk tesnya.

Sebenarnya, tes psikologi bukan tentang jawaban benar atau salah, atau juga seberapa cepat/lambat tes selesai, atau berapa banyak nilai tertinggi yang dicapai.

Menurut pendapat pribadi saya, beberapa orang akan mencari berapa banyak jawaban yang benar yang bisa mereka dapatkan dalam waktu tertentu.

Jika mereka menemukan bahwa jawaban yang diberikan salah, mereka mencoba mengkonfirmasinya dengan menghapus atau mencoretnya.

Ingat bahwa dengan tes psikologi berdampak pada evaluasi hasil tes. Meskipun pada kenyataannya setiap tes psikologi memiliki persyaratan penilaian yang berbeda untuk tes lainnya.

Jadi mungkin sebagai saran, yaitu untuk mengikuti dan memahami instruksi penguji dengan sebaik-baiknya.

Selain itu, perusahaan memiliki persyaratan sendiri yang diperlukan untuk bisnisnya. Jadi jika seseorang gagal dalam tes psikologi, hasil tes psikologi tersebut mungkin tidak menunjukkan persyaratan yang disyaratkan oleh perusahaan.

Ini adalah kesalahpahaman tentang tes psikologis. Banyak yang mengira dan beranggapan bahwa tes psikologi itu seperti ujian sekolah dimana kamu harus menjawab dengan benar untuk mendapatkan nilai yang bagus agar bisa lulus.

Hal ini mengakibatkan, Orang-orang mencari soal tes psikologi untuk dipelajari agar lulus tes psikologi.

Bukan begitu cara kerjanya untuk tes psikologi.

Dikutip dari laman Loker Pintar, Anda mungkin atau mungkin tidak lulus tes psikologis berdasarkan persyaratan perusahaan tertentu dari departemen Sumber Daya Manusia yang diharapkan untuk mengisi posisi di perusahaan.

Perusahaan lebih tahu orang seperti apa yang cocok untuk posisi tersebut, misalnya posisi HR yang tahan terhadap tekanan, teliti, dll.

Hasil interpretasi psikotes akan menentukan apakah Anda memenuhi persyaratan yang diamanatkan oleh perusahaan atau tidak, dan keputusan untuk mempekerjakan karyawan sepenuhnya ada di tangan perusahaan.

Psikotes ini hanya membantu perusahaan untuk menemukan staf dengan persyaratan yang tepat (sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan) untuk mendapatkan orang yang tepat di tempat yang tepat.

Jadi jika Anda gagal dalam tes psikologi, itu tidak berarti Anda berkinerja buruk atau apa pun, tetapi mungkin saja Anda tidak memenuhi persyaratan SDM yang diharapkan perusahaan.

(Baca juga: 12 Pekerjaan Tanpa Keluar Rumah Ini Bisa Datangkan Cuan Besar)

Jika Anda mencari trik yang tepat untuk lulus psikotes dan tidak menjawab dengan jujur, ya, itu bukan hanya risiko bagi Anda tetapi juga untuk perusahaan.

Dapatkah Anda membayangkan bahwa sebuah perusahaan harus memiliki orang yang dapat menerima tekanan, tetapi Anda adalah orang yang mudah stres? Kinerja tidak optimal dan Anda cenderung stres dan sering sakit karena penekanan pada tanggung jawab yang diberikan perusahaan kepada Anda.

Memang benar bahwa ada orang yang akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan “ketidaksesuaian” tapi ini, menurut saya itu tidak mudah.

Saran saya tidak usah mencari trik atau kunci jawaban untuk psikotes. Jawab saja apa adanya. Harus diingat bahwa persyaratan yang dibuat oleh setiap perusahaan bisa berbeda, meskipun posisi yang dibutuhkan saat itu bisa sama. Anda harus menyadari bahwa fase psikotes adalah fase yang paling sulit dan menakutkan dari rangkaian fase rekrutmen. Wawancara psikiater? wawancara pengguna? bahkan FGD (Group Discussion Concentration) juga lebih mudah dari psikotes.