15 Kesenian Tradisional Sulawesi Tenggara yang Patut Dilestarikan

10 min. membaca Oleh Nadhillah Kusindriani on

Terdiri dari banyak pulau, membuat Indonesia memiliki banyak kesenian tradisional yang patut dibanggakan dan dilestarikan, tidak terkecuali kesenian tradisional Sulawesi Tenggara. Beragam alat musik, seni tari hingga upacara adat, menjadi suatu hal yang kini harus diketahui seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

15 Kesenian Tradisional Sulawesi Tenggara yang Patut Dilestarikan

Hal tersebut sangat penting, agar generasi muda dapat lanjut melestarikan kebudayaan dan kesenian tradisional yang ada. Sehingga, semua kesenian tradisional selalu lestari, tidak diambil alih negara lain, atau bahkan mencapai titik kepunahan.

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini CekAja.com telah merangkum beberapa kesenian tradisional Sulawesi Tenggara, dan akan mengulasnya secara lengkap agar generasi muda dapat melestarikan, atau setidaknya mengetahui apa saja kesenian tradisional Sulawesi Tenggara.

Mengenal Sulawesi Tenggara

Sebuah provinsi yang kerap kali disebut dengan Sultra ini, sejatinya terletak di bagian tenggara pulau Sulawesi, dengan ibukota yang berada di daerah Kendari.

Jika dilihat secara geografis, Sulawesi Tenggara terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, yang terbentang di antara 02°45’ – 06°15’ Lintang Selatan dan 120°45’ – 124°30’ Bujur Timur, dengan daratan seluas 38.140 km² dan lautan selas 110.000 km².

Sulawesi Tenggara sendiri, awalnya merupakan salah satu nama kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara Sulselra, dengan Baubau sebagai ibukota kabupaten. Kemudian, Sulawesi Tenggara akhirnya ditetapkan sebagai Daerah Otonom, berdasarkan Perpu No. 2 tahun 1964 Juncto UU No. 13 tahun 1964.

(Baca Juga: Kesenian Tradisional Kalimantan Utara)

15 Kesenian Tradisional Sulawesi Tenggara

Setelah mengetahui sekilas informasi tentang Sulawesi Tenggara di pembahasan sebelumnya, maka kini saatnya untuk kamu mengetahui beragam kesenian tradisional Sulawesi Tenggara.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa kesenian tradisional Sulawesi Tenggara sangat banyak dan beragam. Tidak hanya kaya akan seni tari tradisionalnya saja, tetapi juga memiliki segudang alat musik tradisional dan upacara adat, yang menjadi ciri khas dari kesenian tradisional Sulawesi Tenggara itu sendiri.

Adapun semua kesenian tradisional Sulawesi Tenggara tersebut, nantinya akan diulas secara lengkap berdasarkan tiga sub-pembahasan, yaitu sub-pembahasan seni tari, alat musik dan upacara adat.

Seni Tari

Kesenian tradisional Sulawesi Tenggara yang akan dibahas pertama adalah Seni Tari. Pada dasarnya, tari tradisional Sulawesi Tenggara sangat banyak. Namun, kali ini CekAja.com akan mengulas lima tari tradisional yang menjadi kesenian tradisional Sulawesi Tenggara paling populer, yaitu:

1. Tari Tradisional Molulo

Tari tradisional pertama yang menjadi kesenian tradisional Sulawesi Tenggara adalah Molulo. Tari yang kerap kali disebut dengan tari Lula ini merupakan sebuah tarian sakral, yang memiliki banyak makna dan filosofi.

Tari ini juga menjadi salah satu tarian yang digemari oleh suku bangsa Tolaki, karena mencerminkan suku Tolaki yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan serta persatuan. Sehingga, tarian ini biasanya hanya akan ditampilkan apabila ada acara penting atau peristiwa tertentu saja.

Seperti misalnya, ketika menjelang musim panen untuk menghargai para dewi panen, upacara pernikahan, pelantikan raja, atau bahkan ketika ada suatu penyakit yang menjangkit masyarakat suku Tolaki. Maka dari itu, tidak heran apabila tarian ini dianggap sebagai tarian sakral.

Namun, seiring perkembangan zaman, tarian ini menjadi sebuah tarian rakyat yang seringkali ditampilkan di acara-acara kerakyatan maupun acara resmi.

Terlebih, beberapa alat musik yang digunakannya pun mengalami perubahan, seperti gong yang kini sudah tergantikan dengan electone atau organ tunggal.

2. Tari Tradisional Lariangi

Sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada para tamu, tari tradisional Lariangi kerap kali ditampilkan sebagai tarian pembukaan pada sebuah acara pesta pertemuan. Kesenian tradisional Sulawesi Tenggara yang satu ini, umumnya ditarikan oleh satu orang penari pria dan beberapa orang penari wanita.

Tetapi sayangnya, tidak semua orang bisa menarikan tari lariangi. Pasalnya, hanya gadis-gadis keturunan bangsawan saja yang dapat menarikan tarian ini. Oleh karena itu, tarian lariangi pada masanya dianggap sebagai tarian sakral.

Dalam pertunjukannya, para penari akan menggunakan kostum yang terdiri dari kain, hiasan sanggul, logam berukir untuk gelang, serta manik-manik untuk penari wanita. Sementara, penari pria hanya akan mengenakan hiasan sarung saja.

Setiap bagian pada kostum yang dikenakan penari tersebut mencerminkan nuansa Kerajaan Buton. Tidak hanya dari derajat kebangsawanannya saja, tetapi juga mencerminkan kemegahan istana Kerajaan Buton itu sendiri.

3. Tari Tradisional Mowindahako

Di urutan ketiga ada tari tradisional Mowindahako, yang menjadi kesenian tradisional Sulawesi Tenggara. Tari yang satu ini menjadi salah satu tarian para bangsawan yang berhasil meminang gadis pujaannya.

Hal itu dilakukan sebagai wujud rasa Bahagia dan senang atas diterimanya sebuah pinangan. Untuk itu, tarian ini tidak bisa ditarikan oleh sembarang orang. Karena, tari ini meman hanya ditujukan untuk golongan bangsawan atau anakia saja.

Tari Mowindahako juga kerap disebut sebagai tarian mombesara. Bahkan, sebagian besar orang melihat tarian ini sebagai upacara adat perkawinan, karena gerakan dari tarian ini serupa dengan kegiatan adat perkawinan. Seperti memakai klao, siwole hingga meniru gaya percakapan antara juru bicara laki-laki dan perempuan.

4. Tari Tradisional Mangaru

Sebagai salah satu kesenian tradisional Sulawesi Tenggara, tari tradisional Mangaru menjadi salah satu ikon kebudayaan Indonesia yang sangat populer.

Tari yang berasal dari Desa Konde, Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara ini memiliki pesan positif berupa semangat dan keberanian dalam berperang.

Di mana, dalam pertunjukannya tarian ini akan menunjukan gerakan yang memperlihatkan kegigihan dan semangat juang laki-laki, dalam beradu kekuatan menggunakan keris. Disisi lain, beberapa penari lainnya pun yang menarikan tarian mangaru menggunakan belati.

Tari ini nantinya akan ditampilkan dengan iringan musik tradisional Sulawesi Tenggara, dan umumnya dipertunjukan di acara-acara penting yang melibatkan masyarakat Desa Konde, seperti pesta rakyat dan lain sebagainya.

5. Tari Tradisional Umoara

Tari tradisional yang terakhir adalah Umoara. Kesenian tradisional Sulawesi Tenggara ini, kerap kali digunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu penting atau tamu agung, pada acara perkawinan para bangsawan dan acara pengantaran jenazah bangsawan. Selain itu, tari umoara juga dipertunjukan ketika berlangsungnya upacara pelantikan seorang raja.

Tarian ini sejatinya memiliki gerakan yang serupa dengan tari mangaru, karena memperlihatkan ketangkasan, kewaspadaan, kemampuan menyerang musuh hingga kemampuan dalam membela diri di tengah peperangan.

Maka dari itu, tidak heran apabila tari ini dilakukan oleh dua hingga tiga orang penari laki-laki. Yang mana, para penari tersebut akan membawakan tarian dengan penuh semangat.

Terlihat dari banyaknya gerakan melompat, berduel dengan saling menyerang satu sama lain, yang dihiasi dengan teriakan-teriakan keberanian.

Alat Musik Tradisional

Jika beberapa informasi terkait seni tari tradisional khas Sulawesi Tenggara sudah kamu ketahui di atas, maka kali ini kamu akan mengetahui beberapa alat musik yang menjadi kesenian tradisional Sulawesi Tenggara, seperti berikut ini.

6. Alat Musik Dimba Nggowuna

Alat musik pertama yang menjadi kesenian tradisional Sulawesi Tenggara adalah Dimba Nggowuna. Terbuat dari bahan dasar rotan, alat musik ini pada zaman dahulu banyak dimainkan oleh para wanita, saat sedang menenun kain di rumah.

Bagi mereka, memainkan alat musik ini menjadi salah satu media hiburan, ketika bekerja di rumah agar tidak jenuh. Alat musik yang memiliki ukuran berkisar 40-45 cm ini, merupakan salah satu bentuk perwujudan seni musik leluhur, yang memiliki ciri khas bunyi di setiap petikannya.

Menariknya, alat musik dimba nggowuna ini dipercaya sudah ada sejak zaman Neolitikum. Namun sayangnya, perkembangan zaman serta teknologi yang semakin pesat, membuat alat musik suku Tolaki ini perlahan ditinggalkan oleh masyarakat.

7. Alat Musik Ore-ore Nggae

Alat musik yang namanya terdengar asing di telinga ini, nyatanya menjadi salah satu kesenian tradisional Sulawesi Tenggara. Ya, alat musik Ore-ore Nggae, sebuah alat musik yang dibuat menggunakan bahan dasar bambu dan rotan.

Jika melihat bentuknya, alat musik ini memiliki sebuah kayu kecil yang terletak di antara dawai dan badan alat musik ini. Cara memainkan ore-ore nggae pun sebenarnya sangat mudah, namun kamu perlu melibatkan kedua tanganmembawmu untuk bisa memainkan alat musik ini.

Pertama, kamu hanya perlu mengambil posisi duduk dengan badan tegak, serta alat musik diletakkan dengan posisi miring. Setelah itu, tangan sebelah kanan bisa digunakan untuk menepuk dan memetik. Sementara, tangan kiri digunakan untuk membuka dan menutup lubang tempat keluarnya suara.

8. Alat Musik Baasi

Selanjutnya ada alat musik tradisional Baasi, yang menjadi kesenian tradisional Sulawesi Tenggara. Alat musik yang terdiri dari 10 buah alat musik bambu ini, biasanya dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu daerah dan nusantara pada saat pertunjukan.

Uniknya, 10 buah Baasi ini memiliki panjang yang berbeda-beda, dengan lubang yang terletak di setiap bagian pangkalnya. Sehingga, ketika alat musik ini dimainkan, suara yang dihasilkan dari masing-masing bambu baasi pun akan berbeda.

9. Alat Musik Kanda Wuta

Kanda wuta sejatinya menjadi salah satu alat musik yang terbuat dari bahan yang unik. Sebab, tidak hanya terbuat dari kayu, alat musik ini juga terbuat dari tanah liat, rotan dan pelepah sagu. Alat musik ini juga hanya dimainkan khusus untuk mengiringi tarian daerah Sulawesi Tenggara, yaitu Lulo Ngganda setelah panen.

Selain itu, alat musik kanda wuta pun berbeda dari alat musik tradisional Sulawesi Tenggara lainnya, karena hanya dimainkan di tiga malam secara berturut-turut.

Tiga malam tersebut, di antaranya malam pertama ketika terbit 14 bulan di langit (Melamba), malam kedua ketika terbit 15 bulan di langit (Meta Omehe) dan malam ketiga ketika 16 bulan terbit di langit (Tombara Omehe).

10. Alat Musik Gambus

Alat musik yang terakhir adalah Gambus. Alat musik yang memiliki bentuk menyerupai mandolin ini, merupakan jenis alat musik petik dengan jumlah senar paling sebanyak tiga buah.

Jika melihat sejarah, alat musik ini sejatinya berasal dari daerah Timur Tengah. Hal tersebut dikarenakan, masuknya gambus ke Indonesia awalnya disebabkan oleh pengaruh dari penyebaran agama Islam di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Sulawesi Tenggara.

Meski dikenal sebagai pengiring lagu-lagu berbahasa Arab, namun seiring perkembangan zaman, gambus juga digunakan untuk mengiringi lagu-lagu berbahasa Melayu.

Upacara Adat

Upacara adat nyatanya juga menjadi salah satu bentuk kesenian tradisional Sulawesi Tenggara. Yang mana, upacara adat milik provinsi ini sangat banyak dan beragam. Adapun beberapa upacara adat yang sering dilakukan, di antaranya yaitu:

11. Upacara Adat Kelahiran

Jika berbicara tentang upacara adat kelahiran, beberapa suku di Sulawesi Tenggara mungkin memiliki upacara adatnya sendiri. Tetapi di daerah Muna sendiri, upacara adat kelahiran yang dimiliki daerah ini bernama kasambu. Yang mana, upacara adat ini akan dilakukan sebelum bayi lahir ke dunia.

Kemudian ketika sang bayi sudah lahir, maka akan diadakan upacara adat lagi yang bernama kampua, setelah bayi berusia 44 hari. Lalu, ketika bayi sudah mulai belajar berjalan dan menapak tanah, akan diadakan lagi upacara turun tanah yang disebut dengan upacara kaghabui.

12. Upacara Adat Perkawinan

Bagi masyarakat Sulawesi Tenggara sendiri, mereka umumnya mengenal empat cara upacara adat perkawinan. Empat cara tersebut di antaranya, yaitu:

  • Upacara perkawinan bersama, yang dikenal dengan sebutan humbuni atau ropolusu
  • Upacara perkawinan dengan peminangan, yang dikenal dengan sebutan monduutudu
  • Upacara kawin lari karena mendapat paksaan dari pihak laki-laki, yang dikenal dengan sebutan pinola suako atau popalaisaka
  • Upacara perkawinan yang didesak oleh pihak laki-laki, meskipun gadis sudah dipertunangkan dengan laki-laki lain, yang dikenal dengan sebutan moruntandole atau uncura.

13. Upacara Adat Motasu

Motasu merupakan salah satu upacara adat suku Tolaki, Sulawesi Tenggara, yang dilakukan dalam rangka pembukaan ladang baru. Upacara adat ini sejatinya ditujukan kepada Dewi Kesuburan atau songgoleobae, untuk menunjukan ladang baru tersebut.

14. Upacara Ghoti Katumpu

Upacara adat Sulawesi Tenggara berikutnya adalah Ghoti Katumpu. Upacara adat yang satu ini, biasanya dilakukan oleh masyarakat Muna pada awal pembukaan hutan dan setelah panen tiba.

15. Upacara Adat Monahu Ndau

Upacara adat yang terakhir adalah Monahu Ndau. Upacara adat yang masuk ke dalam salah satu kesenian tradisional Sulawesi Tenggara ini, diadakan setelah panen padi dilakukan di lapangan terbuka.

Dalam prosesi upacara, para pengunjung nantinya akan menarikan tari lulo ngganda yang akan diiringi dengan musik dari tabuhan okanda.

(Baca Juga: 20 Kesenian Tradisional Kalimantan Selatan)

Itulah beberapa informasi seputar kesenian tradisional Sulawesi Tenggara. Semua informasi tersebut bisa kamu jadikan referensi untuk menambah pengetahuan dan wawasan mu tentang kebudayaan Indonesia, khususnya kesenian tradisional Sulawesi Tenggara.

Dengan mengetahui semua kesenian tradisional tersebut, sudah sepatutnya kamu bangga dan ikut melestarikannya agar tidak punah atau diambil alih oleh negara lain.

Nah, buat kamu yang tertarik dengan dunia kesenian dan kebudayan, kamu bisa mempelajarinya lebih lanjut dengan datang langsung ke Sulawesi Tenggara.

Namun tentu saja, perjalanan wisata tersebut sebaiknya dilakukan setelah pandemi virus Covid-19 berakhir. Tetapi, kamu bisa mempersiapkan semuanya sejak saat ini, termasuk biaya perjalanan.

Mengingat, biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan wisata cukup besar, kamu dapat menghematnya dengan menggunakan kartu kredit. Seperti yang diketahui, saat ini sudah banyak bank yang menyediakan produk kartu kredit khusus perjalanan wisata.

Sehingga, kamu bisa memilihnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansialmu. Pasalnya, dengan menggunakan kartu kredit, kamu tidak hanya mendapatkan banyak keuntungan saja, tetapi juga mendapatkan kemudahan khususnya dalam proses transaksi.

Oleh karena itu, buat kamu yang belum memiliki kartu kredit, kamu bisa langsung mengajukannya secara online melalui CekAja.com. Tidak perlu repot-repot keluar rumah, cukup menggunakan smartphone dan koneksi internet yang dimiliki, maka kamu bisa langsung melakukan pengajuan kartu kredit dengan mudah dan cepat.

Lantas, tunggu apalagi? Yuk, segera ajukan kartu kredit terbaikmu di CekAja.com dan dapatkan segudang keuntungan dan kemudahan perjalanan wisata!

Tentang kami

Nadhillah Kusindriani

Nadhillah Kusindriani