3 Negara Ini Sukses Ubah Kotanya Jadi Surga Pejalan Kaki

3 min. membaca Oleh CekAja on

Macet sudah menjadi masalah dunia. Tidak sejalannya jumlah produksi mobil dan penambahan panjang jalan menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kemacetan lalu lintas. Beragam upaya dilakukan pemerintah untuk mengurai kemacetan, mulai dari disiapkannya moda transportasi massal yang nyaman hingga pemberian pajak kendaraan yang mahal.

Namun tetap hal tersebut tidak membuat orang “gerah” untuk membeli kendaaraan baru.

Disamping itu, pemerintah pun seakan kehabisan ide untuk memperlambat laju produksi kendaraan namun tetap bisa mendatangkan devisa yang baik bagi negara.

Padahal negara yang terkenal sebagai produsen mobil dunia seperti Jepang dan juga Amerika tingkat kemacetannya tidak separah di Indonesia.

Mereka lebih memilih untuk mengekspor barang produksinya ke negara berkembang seperti Indonesia dan banyak negara lainnya di Asia.

Tengok saja hasil riset dari TomTom Traffic Index periode 2018, peringkat 5 besar negara termacet bukan ada di Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan ataupun Jerman. 5 wilayah termacet ada di negara India, Colombia, Peru, India dan Rusia.

(Baca juga: LRT, Jurus Lain Pangkas Kemacetan Jakarta)

Macet Tanda Kemajuan Bangsa

Macet tidak hanya menampilkan citra buruk bagi negara. Kemacetan bagi beberapa orang dianggap sebagai indikator kemajuan. Dengan adanya kemacetan berarti roda ekonomi berputar, ekonomi bertumbuh.

Karena artinya daya beli masyarakat mengalami peningkatan. Maklum, produksi mobil biasanya sejalan dengan permintaan akan mobil itu sendiri.

Jika permintaan masih ada, perusahaan otomotif selaku pemasok akan berupaya memenuhi permintaan tersebut.

Meski begitu, banyak juga negara yang mulai berbenah dan memilih untuk mengkerdikan ruang gerak bagi para pemilik mobil. Tujuannya untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan nyaman.

Nah berdasarkan data dari World Economic Forum, terdapat 3 negara yang sukses melakukan transformasi di kotanya demi lingkungan yang lebih baik. Simak yuk

1. Oslo

Oslo - 3 Negara Ini Sukses Ubah Kotanya Jadi Surga Pejalan Kaki

Ibukota Norwegia, Oslo sukses mengubah kotanya menjadi surga pejalan kaki. Langkah yang dilakukan pun tergolong ekstrim. Ya Oslo menghilangkan kantung-kantung parkir yang ada di pusat kota.

Setelah itu, pemerintah setempat langsung membangun bangku-bangku dan juga jalur sepeda.

Sementara untuk infrastruktur yang memang tidak dapat dipindahkan, seperti mesin parkir otomatis, dijadikan speaker yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat.

Transformasi yang dilakukan oleh Oslo sebenarnya bisa dilakukan oleh negara lain. Hanya butuh keseriusan dari pemerintah untuk mau merubah budaya yang sudah ada.

Di Indonesia misalnya, dengan dihadirkannya moda transportasi massal seperti Transjakarta, MRT dan LRT dipercaya mampu menciptaka budaya baru, yakni budaya antri.

2. Paris, membuat hari bebas kendaraan setiap hari minggu

Paris membuat hari bebas kendaraan setiap hari minggu - 3 Negara Ini Sukses Ubah Kotanya Jadi Surga Pejalan Kaki

Car free day (CFD) atau hari bebas kendaraan tidak hanya ada di Indonesia. Ibukota Perancis, Paris juga memberlakukan CFD setiap hari minggu.

Untuk menunjang program tersebut, pemerintah setempat menutup 4 jalan yang ada di jantung kota.

Dengan adanya kegiatan tersebut, ilmuwan menghitung terjadi penurunan nitrogen dioksida sebanyak 25 persen setiap hari minggu. Hal tersebut tentunya berpengaruh positif terhadap kehidupan masyarakat disana.

Pasalnya nitrogen dioksida merupakan salah satu gas beracun yang diakibatkan oleh gas buang kendaraan yang dapat mengganggu pernapasan.

(Baca juga: Capek Macet di Depok, Main Ke Sini Aja Yuk!)

3. Brussel

Brussel - 3 Negara Ini Sukses Ubah Kotanya Jadi Surga Pejalan Kaki

Ibukota Belgia, Brussel melakukan cara yang mirip diimplementasikan di Oslo.

Pemerintah setempat memotong seperempat dari tempat parkir yang ada. Aksi itu dilakukan untuk mencegah orang membawa kendaraan ke pusat kota.

Selain itu, pemerintah di Brussel juga membuat 65 ribu titik untuk memberikan ruang lebih bagi pejalan kaki, pesepeda dan pengguna transportasi umum.

Dari transformasi yang dilakukan oleh 3 negara tersebut, mengindikasikan bahwa lebih sedikit mobil berarti lebih sedikit polusi udara yang dihasilkan.

Selain itu, jalan raya juga bisa menjadi semakin aman dan tidak mengalami polusi suara akibat deru mesin kendaraan. Terpenting adalah kemudahan bagi pejalan kaki dan juga pesepeda untuk menjalankan aktivitasnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Kamu juga bisa mendukung pemerintah dengan memulainya dari diri sendiri. Cobalah menggunakan transportasi masal. Dengan begitu, kamu sudah tidak lagi berkontribusi terhadap parahnya polusi udara yang terjadi di ibukota.

Tentang kami

CekAja

CekAja