Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Langgar Adalah Masjid Kecil untuk Beribadah, Bagaimana Sejarahnya?

by Ayunindya Annistri on 18 Desember, 2019

Sebagian dari kita pasti masih asing dengan kata langgar, atau bahkan ada yang menafsirkannya sebagai melanggar lalu lintas. Padahal kata tersebut sangat luas, dan salah satunya merujuk pada tempat ibadah umat Islam.

Dalam bahasa Jawa, langgar adalah tempat ibadah dengan ukuran relatif kecil untuk umat Islam yang ingin menjalankan shalat maupun mengaji. Namun istilah langar sebetulnya berbeda dengan masjid.

Jika masjid biasanya digunakan sebagai tempat mendirikan shalat lima waktu secara kontinu termasuk pula shalat Jumat, langgar adalah tempat ibadah yang tidak dipergunakan untuk mendirikan sholat Jumat, kecuali bila memang diperlukan.

Langgar dan Musala, Berbedakah?

Sebelum kata musala populer selama 50 tahun belakangan ini, tempat ibadah umat Islam dengan ukuran kecil terutama di Pulau Jawa dulu dikenal dengan nama langgar. Penafsiran kata langgar adalah serupa dengan musala, sebab kedua tempat ini sama-sama digunakan untuk umat Islam menunaikan kewajibannya.

Menurut laman Republika, penggunaan kata langgar mulanya berasal dari julukan yang diberikan oleh penganut agama lokal kepada “langgara” atau orang yang melanggar adat istiadat leluhur, dimana tempat berkumpulnya dulu dikenal dengan sebutan langgar.

Tempo dulu, ketika masyarakat Pulau Jawa belum sepadat sekarang, langgar adalah tempat untuk beribadah yang dapat menampung 5 hingga 10 orang untuk menjalankan aktivitas keagamaan.

Namun kini, keberadaan langgar relatif berkurang seiring dengan perkembangan Islam yang lebih condong membangun masjid dan musala sebagai tempat ibadah.

Pembuatan langgar rata-rata menggunakan kayu dengan lantai yang beragam, mulai dari lantai bebatuan, lantai keramik, hingga paling tradisional yaitu lantai dengan lapisan anyaman bambu.

Bentuknya sendiri menyerupai rumah panggung dengan 3 bagian ruangan, meliputi serambi, tempat pengimaman, dan ruang induk untuk menjalankan sholat dan mengaji.

Kini bangunan sederhana ini telah berganti peran menjadi musala, karena penggunaannya yang dapat menampung lebih banyak orang dan sering kali ditemukan sebagai pelengkap dalam suatu kompleks bangunan, mulai dari gedung perkantoran hingga sekolah.

(Baca Juga: Rekomendasi Wisata Halal di Jepang, Ada Masjid Camii Tempat ‘Syahreino’ Menikah)
Bangunan Langgar yang Masih Tersisa

Walaupun jarang ditemukan, bukan berarti beberapa kota di Indonesia sudah tidak memiliki langgar sebagai bekas bangunan bersejarah peninggalan umat Islam tempo dulu.

Sebut saja Jakarta, Kudus, dan Solo yang hingga saat ini masih menjaga langgar, sebagai bagian dari sejarah Islam kala itu agar tetap ada dan tak lekang oleh waktu.

Nah, buat kamu yang penasaran mengenai cerita langgar dari ketiga kota tersebut, berikut penjelasan lengkapnya.

  • Langgar Tinggi Pekojan, Jakarta

Salah satu tempat ibadah peninggalan masa lampau yang bisa kamu temui di Jakarta adalah Langgar Tinggi Pekojan, Jakarta Barat.

Langgar ini dibangun dengan paduan gaya Eropa, Tiongkok, India, dan Jawa.

Seperti dikutip dari Tirto pada catatan Jacques Dumarcay dan Henri Chambert-Loir, gaya Eropa yang terdapat pada Langgar Tinggi Pekojan bisa dilihat dari adanya pilar batu, bilik masuk, dan kerangka atap.

Sedangkan penyangga luar sebagai kerangka banyak menyerap unsur budaya Tiongkok dan pada bagian rangka sudut hingga usuk (kayu panjang pada atap rumah) di sisi barat menggunakan unsur Jawa.

Konon Langgar Tinggi Pekojan adalah musalah yang digunakan oleh warga keturunan Arab untuk melakukan aktivitas keagamaan sekaligus tempat perniagaan.

Uniknya, bangunan sederhana yang terdiri dari 2 lantai ini sama sekali tidak tampak seperti tempat ibadah sebab pada lantai 1 bangunan sering digunakan untuk berdagang.

Berbagai versi cerita mengenai pembangunan Langgar Tinggi Pekojan pun banyak beredar.

Dimana salah satunya menurut Alwi Shahab dalam bukunya yang berjudul Saudagar Baghdad dari Betawi (2004) menjelaskan bahwa pendiri Langgar Tinggi Pekajon adalah seorang pelaut asal Arab bernama Syaikh Said Naum.

  • Langgar Bubrah, Kudus

Cerita mengenai langgar selanjutnya datang dari kota Kudus, Jawa Tengah. Langgar Bubrah adalah bangunan bersejarah bekas peninggalan Raden Poncowati, pada sekitar tahun 1456 M.

Kala itu, Raden Poncowati yang merupakan seorang keturunan Majapahit menggunakan bangunan ini untuk melakukan ibadah selayaknya keturunan Hindu.

Namun, setelah ia memutuskan untuk menjadi mualaf, bangunan ini diubah menjadi langgar yang bisa digunakan untuk berbagai aktivitas keagamaan, mulai dari menunaikan salat, tempat pertemuan dan selamatan, hingga menjadi tempat untuk menimba ilmu agama Islam.

Konon, menurut sumber yang beredar, Langgar Bubrah sudah berada di Desa Demangan, Kabupaten Kudus jauh sebelum adanya Menara Kudus.

Desain arsitekturnya pun masih sangat lekat dengan kebudayaan Jawa kala itu, dimana struktur bangunannya masih menggunakan tumpukan batubata merah dengan beberapa tembok yang diukir sedemikian rupa.

(Baca Juga: Masjid Bersejarah di Jakarta yang Cocok untuk Wisata Religi Saat Ramadan)
  • Langgar Merdeka, Solo

Langgar adalah nama lain dari Musala yang digunakan oleh umat Islam untuk menunaikan salat. Salah satu langgar bersejarah lainnya yang masih terjaga hingga kini adalah Langgar Merdeka di kawasan Kampung Batik Laweyan, Jalan Radjiman nomor 565, Kota Solo.

Ada sepenggal kisah menarik dari pembuatan Langgar Merdeka, dimana dulunya tempat ibadah ini digunakan sebagai kios candu pada sekitar tahun 1930an silam.

Penamaannya sendiri dipilih sebagai bentuk gertakan masyarakat Laweyan terhadap penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia pada masa itu, dimana mereka seolah menegaskan bahwa tidak akan pernah takut maupun tunduk dengan siapapun.

Sedangkan pembangunan Langgar Merdeka dilakukan pada sekitar tahun 1937 dan selesai tahun 1943 berkat Imam Mashadi, seorang pengusaha batik asal Laweyan yang kala itu membeli kios candu dan mengubahnya menjadi tempat ibadah untuk umat Islam.

Gimana penjelasan mengenai langgar tersebut, membuat kamu penasaran dan ingin mengunjunginya kan? Jika iya, agar setiap transaksimu mudah saat wisata religi nanti, gunakan kartu kredit BRI World Access yang banyak memberikan keuntungan, salah satunya adalah free ex lounge di Indonesia.

Jadi, tunggu apalagi? Yuk, apply sekarang juga hanya melalui CekAja.com!

Tentang Penulis

Ayunindya Annistri

Penulis amatir yang hobi merantau