Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Laut Natuna Memanas, Segini Ternyata Potensi Kekayaannya!

by Gito on 7 January, 2020

Belum lama ini, kedaulatan Indonesia terusik. Kapal asal negara China diketahui kembali masuk ke perairan Natuna di Provinsi Kepulauan Riau. Tidak hanya masuk, negeri tirai bambu tersebut juga mengklaim bahwa wilayah tersebut merupakan bagian dari China. Natuna memang bukanlah sekedar wilayah dengan panorama indah, Natuna juga diketahui menyimpan kekayaan sumber daya alam yang jumlahnya tidak main-main.

Memanasnya hubungan antara China dan Indonesia terjadi karena perbedaan penggunaan dasar hukum.

Ya, jika berdasarkan hukum internasional yang disepakati dalam The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki batasan wilayah laut di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang membentang di laut sepanjang 200 mil dari garis pantai.

Kapan berbendera China yang akhirnya diusir oleh petugas keamanan Indonesia itu menganggap bahwa wilayah perairan Natuna masih menjadi bagian China atas dasar nine dash line.

Aturan yang hanya dibuat dan disepakati oleh China sudah berlaku sejak tahun 1947, dulu dinamakan eleven dash line oleh Partai berkuasa kala itu, Kuomintang.

Kemudian pada tahun 1953 aturan tersebut disederhanakan menjadi nine dash line yang mencakup mayoritas wilayah Laut Cina Selatan.

Klaim kepemilikan wilayah oleh China tidak hanya dengan Indonesia, pada tahun 2016 China juga terlibat seteru dengan Filipina perihal teritori wilayah lautnya.

China sejatinya merupakan salah satu negara yang tergabung dalam UNCLOS 1982. Namun nyatanya, negeri dengan populasi terbesar di dunia itu tidak mengikuti hukum yang digunakan melalui kesepatan PBB.

China memilih untuk menggunakan nine dash line-nya yang membentang ribuan kilometer dari garis pantainya sendiri.

(Baca juga: Yuk Jaga Laut Kita!)
Potensi alam Natuna

Natuna merupakan salah satu wilayah terluar Indonesia yang memiliki kekayaan melimpah. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia, potensi perikanan yang ada di Natuna tidaklah sedikit.

Setidaknya terdapat tangkapan lobster sebanyak 500 ton per tahun, k kemudian cumi-cumi 23 ribu ton ribu ton per tahun, ratusan ribu ton ikan pelagis kecil dan demersal yang ditangkap setiap tahunnya.

Selain itu, berjarak 1.250 kilometer dari Ibukota tercinta, Jakarta Natuna juga memiliki kekayaan alam di bidang minyak dan gas bumi yang tidak kalah menariknya. Bahkan disebut-sebut cadangan gas yang dimilikinya merupakan terbesar di dunia.

Mengacu pada data Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam Mineral, cadangan gas bumi yang ada di Natuna mencapai 49,87 Trilion Cubic Feet (TCF). Sementara total cadangan gas bumi yang ada di Indonesia mencapai 144,06 TCF. Artinya 34,61% dari total cadangan gas Indonesia berada di Natuna.

(Baca juga: Ironi Nelayan yang Terpinggirkan di Negeri Kaya Laut
Ayo Jaga Kedaulatan Negara

Masih segar di ingatan, ketika Indonesia akhirnya harus rela kehilangan dua pulau terluarnya, Sipadan dan Ligitan pada tahun 2002 lalu.

Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda memutuskan bahwa kedua pulau tersebut menjadi bagian dari Malaysia.

Perlu peran serta dari kita semua untuk tetap dapat menegakkan kedaulatan bangsa. Kamu bisa mulai dengan sering menggunakan Bahasa Indonesia di kancah internasional atau di lingkungan dimana kamu berada.

Dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2019 Tentang Penggunaan Bahasa Indonesia merupakan hal yang patut diapresiasi. P

asalnya melalui peraturan itu, Presiden, Wakil Presiden dan Pejabat Negara Lain wajib berpidato menggunakan Bahasa Indonesia baik di dalam maupun di luar negeri.

Dengan begitu, dunia akan menjadi semakin mengenal Bahasa Indonesia. Para calon investor yang selama ini aktif menggunakan Bahasa Inggris, akan belajar menggunakan Bahasa Indonesia untuk berdialektika ketika berada di negeri ini.

Hal tersebut akan membuat kita menjadi raja di negeri sendiri. Jika kamu pernah ke Jepang, kamu akan kaget melihat turis-turis dan juga calon investor yang ingin membenamkan dananya di sana “dipaksa” untuk bertutur dengan Bahasa jepang.

Kamu juga harus menjaga kedaulatan negara. Caranya bisa dengan melakukan promosi kerajinan dari daerah tertentu. Kamu juga bisa menjualnya lo.

Dengan begitu, negara lain akan mengetahui bahwa barang kerajinan tersebut dihasilkan di Indonesia dan milik Indonesia. Butuh modal? Jangan ragu, akses CekAja.com

Tentang Penulis

Gito

Veritas Vos Liberabit