Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

Lima Hal yang Bikin Kamu Takut Investasi Rumah

by Ariesta on 10 Februari, 2016

beli rumah - CekAja.com

Meski menjanjikan, tidak sedikit orang yang masih takut menginvestasikan uang di bidang properti karena takut dengan risiko yang diterima. Padahal jika dilakukan sejak muda, investasi rumah bisa menjadi passive income yang mendatangkan keuntungan hingga 50%.

Investasi rumah memang menggiurkan karena harga properti meningkat setiap tahun. Tak heran bila banyak yang menjadikan investasi jenis ini sebagai modal pensiun di hari tua. Kebutuhan tempat tinggal, terutama yang terletak di lokasi strategis kian hari semakin tinggi sehingga investasi jenis ini dianggap menjanjikan.

Sayangnya, seperti yang telah disinggung sebelumnya, masih ada yang takut untuk berinvestasi properti. Lima hal ini biasanya yang menjadi penyebabnya.

Tidak punya uang untuk membayar Down Payment (DP)

Uang muka bisa diakali dengan meminjama dana dengan bunga rendah. Setelahnya, kalkulasikan pula tingkat suku bunga yang diberikan oleh peminjam. Perhitungan ini penting agar kamu tetap menghasilkan keuntungan di akhir masa investasi. Selain meminjam, kamu juga bisa mencari seller financing, sewa (leasing) rumah dengan opsi membeli, take over, dan melakukan kemitraan. Untuk lebih jelasnya, baca di sini: 6 Cara Punya Properti Tanpa Modal

Takut membayar lebih mahal dari yang seharusnya

Banyak properti yang dijual secara lelang sehingga tidak memiliki panduan harga yang akurat. Hal ini membuat pembeli sering khawatir dalam mengambil keputusan dan pada akhirnya menghabiskan terlalu lama waktu untuk meneliti dan melakukan analisis. Kondisi ini berakhir dengan posisi di mana calon pembeli tidak mampu membuat keputusan.

Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah rajin melakukan riset terhadap pasar properti. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mencari saran dari para ahli/agen berpengalaman atau update harga pasar yang terdapat di internet.

Takut membeli properti yang salah

Harga dan lokasi properti seringkali menjadi pertimbangan utama calon pembeli sebelum memutuskan. Kebingungan ini merupakan hal yang wajar. Alasan harga yang mahal membuat banyak orang benar-benar berpikir hati-hati sebelum berinvestasi rumah.

Orang terkadang bingung untuk memutuskan mana yang lebih baik antara membeli rumah yang lebih kecil tapi lokasinya dekat dengan pusat kota atau yang lokasinya jauh tapi bisa mendapatkan rumah beserta tanah yang lebih luas.

Dalam kasus ini, tanyakan ke dalam diri sendiri, apa yang menjadi tujuan pribadi/keluarga dalam jangka pendek dan jangka panjang. Apakah ada hal yang lebih penting daripada investasi rumah?

(Baca juga: 5 Tips Agar Bebas Jeratan Utang Saat Kredit Rumah)

Takut ditipu agen properti

Dalam proses jual beli properti, ada pembeli yang baru memasuki pasar properti untuk pertama kali dan ada juga yang telah memiliki pengalaman buruk dengan agen. Orang yang sudah memiliki pengalaman buruk ini biasanya merasa bahwa agen penjualan tidak transparan dan khawatir mereka akan tertipu atau dibutakan lagi dalam proses.

Solusinya adalah jangan ragu bertanya mengenai hal-hal yang tidak kamu mengerti. Kamu harus berusaha mendapatkan penjelasan sejelas mungkin terhadap rumah yang akan kamu beli sehingga kejelasan ini bisa mengantisipasi miskomunikasi.

Takut harga jatuh

Semua jenis investasi pasti bertujuan untuk mendulang untung. Namun kekhawatiran untuk merugi selalu saja menghantui, bahkan bagi yang sudah pernah berinvestasi properti sebelumnya.

Bagi kamu yang ingin menggunakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) biasanya takut akan naiknya suku bunga, sehingga khawatir apakah sekarang waktu yang terbaik untuk membeli rumah. Solusinya, waktu terbaik untuk membeli properti adalah ketika kamu sudah siap.

(Baca juga: Strategi Miliki Properti Rp2 miliar Sebelum Usia 30 Tahun)

Fokusnya harus membeli properti yang sesuai dengan finansial dalam jangka panjang maupun jangka pendek, daripada khawatir tentang gejolak pasar. Pasar properti dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sehingga semuanya kembali pada kesiapan finansial dan perencanaan kamu ke depannya.

Tentang Penulis