Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Marak Pelecehan Seksual, Ajarkan 5 Hal Ini Kepada Anak

by Sindhi Aderianti on 10 Januari, 2020

Kasus pemerkosaan berantai yang tengah ramai diberitakan, tentu cukup meresahkan para orangtua. Reynhard Sinaga dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Manchester, Inggris. WNI yang tengah mengemban pendidikan S3 di Leeds University itu terlibat dalam 159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria, selama rentang waktu 2,5 tahun dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017.

Marak Pelecehan Seksual, Ajarkan 5 Hal Ini Kepada Anak

Ian Rushton, anggota kejaksaan yang memimpin penyidikan kasus mengatakan bahwa kasus Reynhard adalah “pemerkosa berantai terbesar di dunia.” Pria 36 tahun itu membius korbannya dengan GHB (gamma-hydroxybutyrate), kemudian membawanya ke apartemen untuk diperkosa dan merekam aksi bejatnya tersebut.

Tak hanya Reynhard Sinaga dengan ratusan korban sesama jenisnya. Namun jauh sebelum itu, kasus serupa pun banyak terjadi di Indonesia. Mirisnya tindakan asusila tersebut bahkan dilakukan sendiri oleh orang terdekat seperti kakek terhadap cucunya, hingga yang paling mencengangkan adalah ketika seorang ayah tega mencabuli sang anak sendiri. Hal ini umumnya disebabkan oleh perilaku menyimpang dari pelaku dan diperparah dengan ketidakmampuan anak melawan perlakuan mereka.

Belajar dari rentetan peristiwa pelecehan seksual tersebut, sangat penting bagi orangtua untuk mengajarkan pendidikan seks kepada anak sejak dini. Namun, bagaimana cara mengedukasi hal yang cukup tabu ini?

1. Kenali bagian intim tubuh

Begitu anak beranjak setahun, kenali padanya bagian intim pada tubuh seperti dada, bibir, kelamin, serta bokong. Jelaskan nama serta masing-masing fungsinya. Jika canggung menyebut vagina atau penis, ganti dengan istilah lain yang lebih halus. Ajarkan bahwa area tersebut, terutama organ vital hanya boleh dilihat dan disentuh oleh diri sendiri. Namun dalam beberapa kondisi tidak apa-apa disentuh orang lain seperti ketika ibu memandikan dan membersihkan area privat anak sehabis buang air, atau saat dokter memeriksa dada anak ketika sakit.

(Baca juga: Melawan Pelecehan dan Kekerasan Seksual di Hari Perempuan)
2. Tanamkan sikap malu

Malu untuk suatu hal yang memang seharusnya itu penting, lho. Ini berkaitan juga dengan etika dan sopan santun. Umpamanya saat ingin mengganti baju atau celana, tanamkan sikap tersebut dengan tidak membiarkan anak telanjang di depan orang sekalipun itu saudara kandungnya.

Beri tahu kalau hal tersebut hanya pantas dilakukan seorang diri atau melalui bantuan ibu. Biasakan pula anak untuk berkata “tidak” atau “jangan” ketika ada orang lain yang berusaha menyentuh area pribadi tubuhnya, meminta anak buka baju, dan menunjukkan organ vital mereka. Alhasil, anak pun semakin paham kalau tubuhnya amat berharga.

3. Latih cara melawan pelecehan seksual

Selanjutnya yang terpenting, latih cara melawan pelecehan seksual kepada anak. Pendidikan seks pada anak tak hanya mengenai pengenalan bagian-bagian tubuh dan fungsinya. Orang tua juga wajib mengajarkan upaya ‘bela diri’ yang perlu dilakukan ketika ada orang lain yang tindakannya nampak mencurigakan.

Jika sudah berani ingin menyentuh organ intim anak, ajarkan mereka untuk berlari menjauhi orang tersebut, lalu berteriak minta tolong. Bilang jangan takut melaporkan kejadian tersebut pada orang tua, guru, atau orang dewasa yang ada di sekitar mereka.

4. Ajarkan konsep perbedaan jenis kelamin

Lalu, ajarkan pula anak tentang perbedaan jenis kelamin. Bahasa sederhananya, cara pipis anak laki-laki dan perempuan itu berbeda. Dengan begitu, anak paham akan pentingnya menjaga jarak dengan lawan jenis ketika melakukan kegiatan bersifat personal seperti mandi, buang air, atau mengganti baju. Konsep perbedaan jenis kelamin ini juga berfungsi untuk mengajarkan anak dalam menggunakan toilet dan mengenakan pakaian sesuai jenis kelamin mereka.

(Baca juga: Seks Bebas dan Angka HIV di Bekasi)
5. Perhatikan tontonannya

Banyaknya tayangan yang menampilkan adegan-adegan yang belum pantas dilihat oleh anak, merupakan alasan mengapa orangtua perlu memperhatikan, mendampingi, dan menyortir tontonan mereka. Anak rentan meniru adegan dalam tayangan yang mereka lihat. Hal ini adalah sifat alamiah anak-anak. Maka lebih baik, ajarkan mereka untuk membaca buku atau kegiatan positif lainnya daripada menonton televisi atau Youtube.

Terakhir saat anak beranjak remaja, orangtua bisa pelan-pelan menjelaskan tentang organ reproduksi mereka yang sudah mulai berfungsi. Edukasi seks adalah cara yang paling bijak untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan. Jelaskan bahwa di usia yang sudah puber, hubungan intim bisa menimbulkan kehamilan.

Namun tentunya, seks pra nikah sangat tidak diperbolehkan. Selain menjunjung tinggi budaya Timur, banyak risiko yang mengancam masa depan anak nantinya. Mulai dari malu karena hamil duluan, sampai penyakit kelamin berbahaya.

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.