Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Maudy Ayunda Pilih Harvard University, Begini Tips Survive Kuliah di Amerika

by Sindhi Aderianti on 6 Maret, 2019

Artis Maudy Ayunda kembali membuat publik terkagum-kagum. Setelah berhasil menjadi orang Indonesia pertama yang lulus dari jurusan P.P.E (Politics, Philosophy, and Economics) di Oxford University, ia mengaku belum puas.

Dalam waktu dekat, dara bernama lengkap Ayunda Faza Maudya ini pun akan mengambil pendidikan magister. Melalui akun Instagram pribadinya, Maudy mengumumkan bahwa ia diterima oleh dua universitas kenamaan sekaligus.

Hal tersebut membuatnya dilanda ‘beautiful dilemma’, lantaran kampus yang dimaksud yakni Harvard University dan Stanford Univesity. Sempat galau, akhirnya Maudy diketahui memilih Harvard University.

Belum ada penjelasan mengapa ia lebih mencondongkan pilihan ke universitas yang berlokasi di Massachusetts, Amerika Serikat itu. Pada unggahan Instagram story miliknya, Maudy hanya mengucapkan terima kasih atas ucapan netizen sembari menyisipkan gif bertuliskan “Harvard”.

Pelantun lagu ‘Perahu Kertas’ itu diterima program S2 jurusan Pendidikan di Harvard Graduate School of Education (HGES). Menurut Peterson’s, tingkat penerimaan mahasiswa baru untuk program tersebut hanya sebesar 54%.

Sedangkan persentase mahasiswa asingnya mencakup 24% dalam tahun akademis 2018/2019. Dengan kata lain, tidak mudah bagi Maudy untuk bisa menembus beratnya persaingan di sana.

Sekilas Tentang Harvard University

Harvard University adalah kampus impian sejuta umat. Untuk bisa lolos seleksi penerimaan mahasiswanya saja cukup sulit.

Dari situs pemeringkatan universitas webometrics, Harvard University berada di peringkat pertama universitas dunia. Tak heran, kalau Maudy Ayunda pun memilih kampus tersebut.

Ada sebuah ikon yang paling prestisius di Universitas Harvard. Ikon tersebut adalah Patung John Harvard yang cukup populer.

Banyak mahasiswa yang menyebutnya sebagai ‘The Statue of Three Lies’ karena John Harvard mendirikan kampus tersebut pada 1638. Dalam sejarah, Harvard juga memiliki daftar delapan alumnus yang telah mendeklarasikan kemerdekaan, termasuk John Hancock, Samuel Adams, John Adams, sampai William Ellery.

(Baca juga: Mau S2 Nggak Punya Biaya dan Gagal Beasiswa? Ini Solusinya!)

Perhatikan Hal Ini Sebelum Kuliah di Amerika

Bukan hanya seleksi penerimaan mahasiswanya yang butuh perjuangan hebat, tapi hidup sebagai mahasiswa di Amerika nyatanya juga penuh tantangan.

Mengambil dari berbagai sumber, inilah hal-hal yang perlu kamu perhatikan terlebih dahulu:

1. Kenali sistem perkuliahan

Pertama, kenali dulu seperti apa sistem perkuliahan yang diterapkan di sana. Terhitung ada 4 jenis pendidikan tinggi, yaitu universitas negeri, community college, universitas swasta, dan institute of technology.

Rata-rata perantau lebih memilih untuk mengambil college selama dua tahun. Konon, biayanya jauh lebih murah 50 persen daripada langung kuliah di universitas.

Lulus dari community college, kamu berhak mendapat gelar associate yang setara dengan diploma. Gelar ini nantinya bisa ditransfer untuk dilanjutkan ke S1.

Tapi, pastikan mata kuliah yang telah kamu ambil bukan untuk mahasiswa yang sudah siap menghadapi dunia kerja.

(Baca juga: 3 Cara Mendapatkan Beasiswa Kuliah)
2. Pilihan tempat tinggal

Lalu, hal pertama yang juga sangat krusial untuk dipersiapkan calon mahasiswa adalah tempat tinggal. Ada tiga jenis, di antaranya dormitory kampus, asrama pribadi, dan apartemen.

Pilih yang memang sesuai dengan kemampuanmu, serta perhitungkan pula jarak antara rumah dan kampus. Untuk keuntungan yang bisa didapat dari masing-masing tempat tinggal ini ialah sebagai berikut:

  • Dormitor kampus

Mahasiswa tingkat awal biasanya memilih untuk tinggal di asrama yang terletak di kampus ini. Sebab, lebih menghemat ongkos transportasi sehari-hari.

Selain itu dari segi fasilitas, asrama tersebut juga terbilang lengkap dan tidak membutuhkan persiapan banyak untuk dihuni.

  • Asrama Pribadi

Perlu diketahui, ada beberapa kampus yang tidak menyiapkan asrama. Solusinya, cari asrama pribadi di luar kampus.

Tidak jauh berbeda dengan dormitory kampus, asrama pribadi justru lebih membantu mahasiswa perantau untuk mengakses informasi yang mereka butuhkan.

Seperti menunjukkan tempat makan terbaik, tetangga di sekitar tempat tinggal, area belanja, tujuan wisata, dan sarana transportasi umum.

  • Sewa Apartemen

Opsi menyewa apartemen ini tentunya lebih mahal. Maka, sangat dianjurkan untuk meninjau baik-baik lokasi sekitar tempat tinggal, apakah lingkungannya cukup nyaman dan aman.

Selain itu, kamu juga perlu membaca lebih seksama aturan yang terdapat dalam kontrak penyewaan sebelum ditandatangani.

(Baca juga: Ini Rahasia Mendapatkan Beasiswa di Luar Negeri)
3. Visa pelajar

Visa F-1 adalah dokumen izin yang diperuntukkan bagi pelajar dari luar Amerika. Baik itu mereka yang hendak menuntut ilmu di perguruan tinggi terakreditasi, universitas atau institusi akademik lainnya.

Untuk bisa mengajukan visa ini, kamu pastinya harus diterima dan terdaftar dulu sebagai mahasiswa di sana. Jika sudah, pihak institusi pendidikan akan memberimu dokumen-dokumen persetujuan yang dibutuhkan dalam pengajuan visa.

4. Kelola uang bulanan

Bukan rahasia lagi kalau bertahan hidup di negeri orang terbilang amat sulit. Tidak ada seujung kukupun jika dibandingkan dengan merantau ke luar kota.

Untuk menyiasatinya, kamu dapat memisahkan dua jenis pengeluaran, yaitu kebutuhan tetap dan tidak tetap. Kebutuhan tetap ini meliputi sewa tempat tinggal serta makan sehari-hari.

Sisanya, hal bersifat entertainment saja. Sebisa mungkin catat setiap pemasukan, baik uang bulanan kiriman orang tua, beasiswa, atau upah kerja sambilan, agar tidak hilang begitu saja. Pastikan bahwa kebutuhan tetap terpenuhi lebih dahulu.

5. Mengambil part time

Hanya mengandalkan uang kiriman dari orangtua mungkin tidak cukup. Ada baiknya sambil kuliah, kamu mengambil kerja paruh waktu (part time). Setiap negara punya kebijakan masing-masing mengenai batas jam kerja, pengaturan pajak, dan visa pelajar yang diperbolehkan untuk bekerja.

Di Amerika, peraturannya terbilang ketat. Mahasiswa hanya bisa bekerja di area kampus pada tahun pertama.

Jika ingin bekerja di luar kampus, harus menunggu tahun kedua. Selain itu, pastinya dengan catatan tidak mengganggu jam belajar. Terutama bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan dengan bantuan beasiswa.

Memperhitungkan hal-hal sangatlah penting, karena berhubungan erat juga dengan kemampuanmu untuk ‘bertahan hidup’ kelak. Jika kurang perbekalan di awal, masalah finansial dan risiko tidak lulus mungkin saja terjadi.

Kegigihan Maudy dalam menuntut ilmu patut dicontoh, terutama bagi generasi yang akan datang. Di tengah semaraknya era digital yang kian mempermudah setiap orang mendapatkan pundi-pundi rupiah, pendidikan tak berarti halal untuk dikesampingkan.

Menurut Maudy, inti dari pendidikan itu sebagai pola pikir dan problem solving. Bagaimana denganmu?

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami