Menelisik Wacana Penghentian Operasional Commuter Selama PSBB

3 min. membaca Oleh CekAja on

5 Pemerintah Daerah yang baru saja menggelar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), meminta agar operasional layanan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter milik PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dihentikan.

Menelisik Wacana Penghentian Operasional Commuter Selama PSBB

Adalah Pemerintah Kota Bogor, Pemerintah Kabupaten Bogor, Pemerintah Kota Depok, Pemerintah Kabupaten Bekasi dan Pemerintah Kota Bekasi yang mengajukan permohonan tersebut. Masih membludaknya jumlah penumpang si ular besi menjadi salah satu alasannya.

Munculnya wacana tersebut digadang-gadang juga dipicu oleh program PSBB di DKI Jakarta yang dinilai perlu perbaikan.

Masih banyaknya warga dari daerah penyangga Ibukota yang bepergian ke wilayah Jakarta dikarenakan kantor tempatnya bekerja tidak melaksanakan work from home (WFH).

(Baca Juga: 3 Daerah Ini Ditolak PSBB-nya Oleh Menkes Terawan)

Jika dilihat dari peraturan PSBB Jakarta, terdapat beberapa sektor industri yang dikecualikan.

Diantaranya adalah keuangan, bursa efek, teknologi informasi, logistik, pangan, minyak dan gas bumi, barang pertanian, obat-obatan dan beberapa sektor industri lainnya.

Pun tetap berjalan seperti biasa, tetapi sektor industri tersebut harus menjalankan protokol Kesehatan yang ketat.

Seperti meminimalisir jumlah orang di kantor, menjaga jarak dan menyiapkan fasilitas untuk cek suhu tubuh juga hand sanitizer.

1. Banyak perkantoran yang belum tutup

Memasuki PSBB hari ke-5, wilayah Jakarta belum juga lengang. Jumlah penumpang di KRL pun masih ramai.

Masih adanya perusahaan yang belum menutup operasionalisasinya dituding menjadi biang keladi terjadinya keramaian yang ada di Ibukota.

Melansir Kompas.com, sekitar 200 perusahaan besar diizinkan beroperasi oleh Kementerian Perindustrian.

Padahal perusahaan-perusahaan tersebut masuk dalam kategori perusahaan yang harus menghentikan operasionalisasinya kala PSBB.

Hal itu menjadikan Jakarta tetap terlihat ramai meskipun dilakukan PSBB. Apalagi banyak juga pekerja yang aktivitasnya sehari-hari berada di Ibukota, namun bermukim di wilayah penyangga.

Untuk itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terus melakukan evaluasi.

Bahkan Anies mengatakan bakal mencabut izin usaha perusahaan diluar sektor yang dikecualikan dalam PSBB , jika masih bandel membuka operasionalisasinya.

2. Kereta api, moda sejuta umat

Sudah sejak lama, kereta api menjadi idola bagi masyarakat. Murahnya biaya dan luasnya jangkauan operasinal menjadi salah satu faktor yang membuat kereta api terus disayang oleh khalayak luas.

Apalagi setelah layanan kereta api berbenah, fasilitas diperbarui, jumlah kereta diperbanyak, waktu tempuh terus dijaga ketepatannya membuat orang semakin menggandrungi kereta api sebagai moda transportasi sehari-hari.

Dalam aturan PSBB, memang jumlah penumpang dibatasi. Namun perlu diingat, kereta api khususnya Commuter Line berhenti di setiap stasiun untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.

Nah tampaknya hal tersebut yang masih belum bisa di eksekusi dengan baik. Sehingga perihal physical distancing sulit untuk dilakukan kala berada di dalam Commuter Line.

Jumlah penumpang Commuter Line pada tahun 2019 saja mencapai 336 juta, artinya setiap hari Commuter Line mengangkut hampir 1 juta penumpang.

3. Penghentian operasional Commuter Line tidak sejalan dengan anjuran Presiden

Presiden Joko Widodo saat mengumumkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyatakan bahwa tidak ada larangan dan penutupan akses dari dan keluar Jakarta.

Artinya, wacana penghentian operasionalisasi Commuter Line dikhawatirkan bakal berseberangan dengan aturan PSBB itu sendiri.

Membincang Novel Corona atau Covid-19, memang tidaklah mudah. Ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan dan dilihat secara jeli dampak dan juga proses atas kebijakan yang dijalankan.

Namun begitu, munculnya wacana tersebut merupakan buah dari kekhawatiran bertambahnya episentrum penyebaran Covid-19.

(Baca Juga: Aturan PSBB Terbit: Ini Daftar Larangan dan Kegiatan Usaha yang Boleh Beroperasi)

Sampai saat ini, beragam informasi menyebutkan bahwa episentrum penyebaran Covid-19 berada di Jakarta. Jumlah korban terjangkitnya juga mencapai setengah dari jumlah korban terjangkit secara nasional.

Sejatinya, kebijakan apapun tidak dapat berjalan lancar jika tidak ada kerja sama dari masyarakat, termasuk kamu.

Oleh karena itu, perlu peran serta masyarakat untuk bisa bersama-sama menekan laju penyebaran virus tersebut.

Salah satunya adalah dengan kesadaran penuh untuk menjaga jarak dan membatasi aktivitas di luar rumah.

Selain itu, untuk menjaga kondisi keuangan kamu, menjalankan bisnis secara mandiri tampaknya bisa dilakukan. Urusan modal, jangan ragu akses Uang Teman.

Tentang kami

CekAja

CekAja