Mengenal Apa Itu Social Distance agar Tidak Jadi Korban Corona

6 min. membaca Oleh Teti Purwanti on

Pada 11 Maret lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan jika virus Corona (COVID-19) sebagai pandemi. Adapun pandemi terjadi jika suatu penyakit menular tersebar dengan mudah dari manusia ke manusia di berbagai tempat di seluruh dunia.

social distancing

Saat keputusan itu, jumlah kasus COVID-19 di luar Cina telah meningkat 13 kali lipat dalam dua pekan terakhir dan merasa cemas dengan “tingkat kelambanan yang mengkhawatirkan”. WHO tidak mengubah sarannya tentang apa yang harus dilakukan oleh banyak negara. Namun, ia meminta pemerintah untuk mengambil “tindakan mendesak dan agresif”.

Beberapa negara berhasil mengurangi penyebaran virus ini, termasuk dengan cara social distance atau menjaga jarak saat bersosialisasi. Cara ini dianggap menjadi salah satu cara penting untuk mencegah COVID-19 corona, selain rajin cuci tangan dengan sabun.

Pengertian Social Distancing

Dalam istilah kesehatan, praktis social distancing atau social distance atau menjaga jarak adalah hal yang dilakukan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dekat dengan orang sehat untuk mengurangi peluang penularan penyakit. Ini dapat mencakup langkah-langkah skala besar seperti membatalkan acara kelompok atau menutup ruang publik, serta keputusan individu seperti menghindari keramaian.

Meski begitu memang tidak bisa dipungkiri kalau hal ini sering kali sulit dilakukan karena kebanyakan dari manusia adalah makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan virus corona, social distance dilakukan untuk menghambat wabah dan mengurangi kemungkinan infeksi di antara populasi berisiko tinggi. Para ahli menggambarkan ini sebagai “perataan kurva,” yang umumnya merujuk pada keberhasilan potensial dari langkah-langkah jarak sosial untuk mencegah lonjakan penyakit yang dapat membanjiri sistem perawatan kesehatan.

Mengapa Social Distance Dianggap Bisa Membantu Mengurangi Penyebaran Virus Corona?

Pandemi yang terjadi saat ini bukan baru kali pertama. Pandemi influenza di Spanyol pernah terjadi pada 1918 dan dengan langkah social distance, pandemi ini berhasil dilalui. Sebuah studi dari PNAS 2007 menemukan bahwa kota-kota yang mengerahkan banyak intervensi pada fase awal pandemi, seperti menutup sekolah dan melarang pertemuan publik, memiliki tingkat kematian yang secara signifikan lebih rendah.Meski begitu, seorang ahli mengatakan banyak faktor yang berkontribusi terhadap apa yang disebut jumlah reproduksi virus corona baru, yang menggambarkan secara kasar berapa banyak orang yang terinfeksi yang akan terinfeksi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah reproduksi termasuk seberapa menular virus itu, seberapa rentan orang terhadap infeksi, jumlah kontak di antara orang-orang, dan lamanya kontak tersebut terjadi. Social distancing ini diharapkan bisa menjauhkan si sakit atau masih carrier untuk menulari orang sehat.

Virus corona yang bisa menular antar manusia dan juga lewat droplet akan menular secara simultan pada orang lain. Semakin banyak orang dalam satu kerumunan yang sama dengan orang yang sakit maka orang sehat bisa menjadi sakit. Hal ini akan menimbulkan ‘ledakan penyakit yang menular.’ Dari satu orang bisa menyebar sampai ke ratusan bahkan ribuan orang sekaligus.

Intinya, ketika ada social distancing yang terbentuk, manusia berinteraksi lebih sedikit dengan orang lainnya, maka virus corona punya kesempatan yang lebih kecil untuk menyebar dan menghambat infeksi virus corona.

Bagaimana Melakukan Social Distance

Meski tidak menutup negara ini secara langsung seperti yang dilakukan beberapa negara, Presiden Joko Widodo tidak memutuskan hal itu. Namun, Presiden Jokowi meminta masyarakat untuk melakukan social distance dengan berbagai cara, misalnya:

  1. Bekerja dari rumah alih-alih di kantor
  2. Menutup sekolah atau beralih ke kelas online
  3. Bertemu orang lain dengan telepon atau video call alih-alih secara langsung
  4. Membatalkan atau menunda konferensi dan rapat besar

Patuh dan Menahan Diri

Pemerintah menetapkan kalau anak sekolah diminta belajar di rumah selama dua miggu. Beberapa perusahaan bahkan membuat kebijakan untuk bekerja dari rumah sebagai bagian dari social distance untuk ambil bagian dalam memerangi virus corona.

Meski begitu, banyak yang menyalah artikan waktu dua pekan ini dan malah berlibur atau membuat kerumunan, Padahal, Social distancing harus dipatuhi dan dilaksanakan dengan menahan diri di rumah, tidak melakukan kontak dengan orang lain. Social distance atau  social distancing juga merupakan upaya untuk melindungi orang yang sakit dan sehat.

Oleh karena itu, bagi mereka yang terpaksa keluar rumah diharapkan agar tetap memperhatikan jarak komunikasi aman, yaitu 1,8 meter hingga 2 meter.

14 Hari

Rentang waktu penghentian aktivitas sekolah atau imbauan bekerja dari rumah selama 14 hari ternyata bukan tanpa alasan. Pasalnya, 14 hari adalah hitungan dua kali masa inkubasi virus. Sejak inkubasi virus, yaitu 5-7 hari, untuk lebih meyakinkan dikali dua periode menjadi 14 hari. Agar ada jaminan biar akurat dari kondisi pasien. Pada masa-masa ini, masyarakat dianjurkan untuk tetap berada di rumah dan membatasi pergi ke luar rumah kecuali untuk urusan mendesak.

Cuci Tangan Sesering Mungkin dengan Sabun

Meskipun tengah menjaga jarak, atau tengah berada di rumah saja bukan berarti jadi lupa untuk menjaga kesehatan termasuk dengan mencuci tangan sesering mungkin dengan menggunakan sabun. Cuci tangan dengan sabun, bukan sekadar membasuhnya dengan air. Cuci tangan hingga pergelangan tangan dan dibilas dengan air yang mengalir. Untuk memastikan tangan dicuci dengan bersih ada anjuran yang mengatakan cuci tangan selama dua menit.

Sementara itu, saat berada di luar rumah dan ingin lebih praktis bisa menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol, kandungan alkohol inilah yang membantu untuk membunuh virus-virus di tangan. Ada beberapa orang juga yang menganjurkan untuk mengelap tangan dengan tissue basah. Hal ini pun bisa dilakukan asal dipastikan kalau tissue basah yang digunakan juga memiliki kandungan alkohol. Kebanyakan tissue basah untuk bayi tidak mengandung alkohol, tidak membantu membunuh virus namun hanya membuat tangan menjadi lembut.

Hindari Menyentuh Mata, Hidung, dan Mulut

Virus bisa masuk ke tubuh melalui mata, hidung, dan mulut, oleh karena itu pula saat ini dikampanyekan untuk sebisa mungkin menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut apalagi saat tengah berpergian dan menyentuh wajah dengan tangan kotor. Paket rajin cuci tangan dan tidak menyentuh, mata, hidung, serta mulut menjadi paket lengkap sambil social distance untuk membantu menjauhkan diri dari virus COVID-19.

Meski begitu ternyata anjuran untuk tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut ternyata sulit dilakukan. Apalagi ternyata kebiasaan menyentuh wajah berkaitan dengan tingkat stres seseorang dan bisa juga sudah menjadi kebiasaan yang berulang. Ditambah lagi, menyentuh wajah juga dikaitkan dengan gestur untuk meredam ketidaknyamanan.

(Baca Juga: Sejak Ada Social Distancing, 5 Hal Unik Ini Terjadi di Indonesia)

Meski begitu tetap ada cara untuk mencegah infeksi dari sentuhan wajah. Misalnya, dengan mulailah membangun kesadaran sebelum menyentuh wajah dan identifikasi tanda-tanda gejala pilek, termasuk keinginan untuk bersin. Segera siapkan tisu saat ingin bersih dan batuk, namun jangan gunakan tangan langsung untuk menyentuh wajah.

Ikuti Perkembangan Informasi dan Cari Perawatan Medis

Ikutilah perkembangan informasi terbaru, namun pastikan berita tersebut terverifikasi bukan berita hoax yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. kuti saran yang diberikan oleh Kemenkes dan kesehatan lokal untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

Selain itu, jika mengalami demam, batuk dan kesulitan bernapas, segera lakukan perawatan medis. Jika merasa tidak sehat, tetaplah di rumah. Jika mengalami demam, batuk atau sulit bernapas segera cari bantuan medis. Jangan lupa ikuti arahan otoritas kesehatan setempat.

Otoritas nasional dan lokal akan memiliki informasi terbaru tentang situasi di daerah. Menelepon terlebih dahulu akan memungkinkan penyedia layanan kesehatan dengan cepat mengarahkan ke fasilitas kesehatan yang tepat. Ini juga dapat melindungi dan membantu mencegah penyebaran virus corona dan infeksi lainnya.

Beberapa Negara yang Berhasil dengan Social Distance

Beberapa negara sudah lebih dahulu melakukan social distance untuk memerangi virus ini, antara lain;

China

Di China masyarakat yang harus tetap bekerja dan tidak tinggal di rumah selalu berupaya untuk menjaga jarak satu meter meski antre. Selain itu, masyarakat China juga memilih untuk tidak makan berkerumun dan memilih untuk menggunakan satu meja untuk satu orang saja.

Singapura

Kalau soal ketertiban negara ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Masyarakat Singapura melakukan social distancing, mereka mengantri dan menyisihkan jarak ketika sedang berada di pusat perbelanjaan publik, hingga ketika makan di warung-warung pinggir jalan.

Thailand

Meski menjadi salah satu negara dengan penduduk yang padat, Thailand juga berhasil menerapkan social distance. Stiker dipasang di elevator dan berbagai tempat untuk menjaga jarak dan juga anjuran untuk tidak berdesakan.

Cobalah lakukan social distance seperti anjuran pemerintah yah!

Tentang kami

Teti Purwanti

Teti Purwanti