Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Mengenal Banjir Bandang, Ini Ciri-ciri dan Hal yang Harus Diwaspadai

by Miftahul Khoer on 6 Januari, 2020

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi potensi bencana pada tahun 2020. Hasil analisis dari berbagai sumber kementerian/lembaga serta para pakar, tren bencana yang harus diwaspadai berupa bencana geologi.

Sebut saja bencana gempa bumi yang disusul tsunami serta vulkanologi seperti erupsi gunung berapi, termasuk juga banjir bandang.

Adapun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai air sungai yang tiba-tiba keruh saat curah hujan meningkat di sejumlah wilayah di Indonesia. Pasalnya, hal itu salah satu tanda potensi banjir bandang.

Tanda-tanda lain yang bisa menjadi alarm peringatan dini terjadinya banjir bandang, di antaranya:

  • Pertama, air sungai yang tiba-tiba berwarna keruh atau mengalir bersama lumpur, pasir, dan bahkan disertai ranting-ranting kayu.
  • Kedua, kenaikan muka air sungai sekitar 10-20 centimeter juga merupakan tanda-tanda banjir bandang.
  • Ketiga, cuaca di pegunungan atau perbukitan di bagian hulu sungai terlihat mendung atau berawan tebal. Jika masyarakat, terutama yang tinggal di pinggir sungai, menjumpai tanda-tanda itu, harus mengantisipasi banjir bandang, antara lain meninggalkan lembah atau bantaran sungai.

BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi terjadinya banjir bandang di sejumlah wilayah di Indonesia menyusul semakin meningkatnya curah hujan.

Beberapa wilayah rawan banjir bandang untuk periode satu minggu ke depan, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Penyakit akibat banjir bandang

Air banjir yang berwarna cokelat pekat jelas membawa banyak benda kotor seperti kotoran manusia. Tidak hanya kotoran manusia, kotoran binatang pengerat seperti tikus yang membawa virus Leptospirosis juga menjadi ancaman.

Kontak air banjir dengan selaput lendir mata, hidung, dan luka terbuka pada kulit dengan air seni dan kotoran tikus yang tercampur dalam air banjir dapat menyebabkan kerusakan organ hati, ginjal, paru-paru, jantung, dan otak.

(Baca juga: Cara Memperbaiki Kondisi Keuangan Setelah Menjadi Korban Banjir)

Seseorang yang terjangkit infeksi tersebut akan mengalami gejala demam tinggi, mata merah, kulit menjadi kuning, dan nyeri otot betis. Masa inkubasi penyakit ini rata-rata berkisar selama sepuluh hari.

Beberapa penyakit lain di antaranya adalah penyakit yang menyebar melalui air seperti diare, tipes, kolera, tetanus, sampai hepatitis A.

  • Tetanus

Tetanus bisa menyebar juga lewat air. Namun penyakit ini, tidak bakal langsung terjadi langusng begitu terkena air banjir. Tetanus adalah penyakit yang mungkin timbul karena perantara benda lain. Saat banjir, terutama banjir bandang, berbagai benda dapat mengapung dan tenggelam tidak beraturan. Di antara hal tersebut, tanpa disadari benda seperti kayu berpaku, kawat, dan pecahan kaca juga berpotensi melukai.

Jika tanpa sengaja terkena benda tajam saat banjir, segera bersihkan luka dan jangan dibiarkan. Luka terbuka dapat terkena infeksi jika terlalu lama terkena air banjir yang kotor. Usahakan jangan kontak langsung dengan air banjir saat memiliki luka terbuka di tubuh. Demam, pusing, berkeringat berlebihan, dan jantung berdebar menjadi tanda-tanda penyakit ini.

Oleh karena penyakit ini belum memiliki pengobatan yang spesifik, segera redakan gejala penyakit ini dengan suntik antitetanus, obat-obatan, dan vaksin tetanus. Selain untuk meredakan gejala, vaksin tetanus juga diberikan sebagai pencegahan.

  • Dermatitis

Saat banjir, terutama banjir bandang, air yang kotor dan sudah terkontaminasi dengan banyak kotoran dan sangat mungkin menyebabkan berbagai penyakit termasuk pada kulit, yaitu dermatitis kontak.

Penyakit ini terjadi pada area tubuh yang bersentuhan dengan zat yang mengiritasi kulit atau menyebabkan reaksi alergi. Ruam merah ini bisa membakar, menyengat dan melepuh. Biasanya gejala penyakit dermatitis kontak ini hanya muncul pada bagian kulit yang terkena zat alergannya saja.

Untuk mengurangi dan mencegah penyakit ini, bisa dilakukan beberapa hal seperti menggunakan sabun atau pembersih yang dengan bahan yang ringan. Setelah membasahi area tubuh atau mandi, kamu cukup menepuk-nepuk kulit dengan halus yang halus. Tidak dianjurkan untuk menggosok area kulit yang tengah memerah.

(Baca juga: Musim Hujan, Ini yang Harus Dilakukan untuk Menghindari Banjir)

Selalu hati-hati dan jaga kesehatan yah! Jangan lupa perhatikan prakiraan cuaca sebelum keluar rumah!

Lindungi juga diri kamu dan keluarga tercinta dengan asuransi jiwa atau asuransi kesehatan di musim rawan bencana seperti sekarang ini. Pilih dan ajukan asuransi yang kamu butuhkan lewat CekAja.com.

Tentang Penulis

Miftahul Khoer

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.