Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Mengenal Chunyun, Tradisi Mudik Imlek Orang China

by Miftahul Khoer on 24 Januari, 2020

Selama ini orang Indonesia hanya tahu kalau mudik identik dengan Hari Raya Idul Fitri. Namun, siapa sangka kalau ternyata sejak 2017 lalu jumlah orang yang mudik ke kampung halaman di Indonesia masih kalah jauh dari jumlah pemudik di China untuk merayakan Imlek.

Adalah Chunyun, periode mudik orang China yang dilakukan untuk menyambut tahun baru mereka. Salah satu migrasi manusia terbesar di dunia itu bermula sejak 15 hari sebelum hari H. Total arus mudik dan balik berlangsung kurang lebih 40 hari.

Istilah Chunyun mulai muncul pada era 1980-an sebagai konsekuensi dari urbanisasi warga China yang pesat. Bagi warga pinggiran, kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, Shenzhen, Zhengzhou, Hangzhou, Suzhou, dan Dongguan adalah tempat mengadu nasib. Imlek menjadi kesempatan bagi mereka untuk pulang atau berlibur.

Saking banyaknya orang yang mudik pada periode ini, Chunyun kerap didaulat sebagai migrasi temporer-tahunan paling akbar di dunia. Pada tahun 2017 misalnya, jumlah pemudik pada Chunyun lebih banyak 50 juta orang dibandingkan saat orang-orang Amerika Serikat (AS) mudik untuk merayakan Thanksgiving.

Di AS, Thanksgiving adalah hari raya agar keluarga bisa berkumpul bersama, duduk mengelilingi meja makan, untuk bersantap sembari bertukar cerita dan bersyukur atas segala hal yang telah mereka alami di tahun sebelumnya.

Tradisi Orang Asia Timur

Bukan hanya di China, ternyata tradisi Chunyun juga dilakuan oleh banyak negara di Asia Timur, termasuk Korea Selatan dan Taiwan.

Para pemudik di Taiwan misalnya, bergerak dari wilayah urban di sebelah Utara menuju kampung halaman di kawasan Selatan. Mayoritas perjalanan juga ditempuh menggunakan jalur darat. Selama beberapa tahun terakhir diperkirakan ada tiga juta mobil pribadi dan kendaraan umum yang memadati jalanan Taiwan untuk tradisi Chunyun.

Di China Daratan, para pemudik memadati stasiun-stasiun kereta untuk membeli tiket. Banyak yang memesan jauh-jauh hari, dan kasus kehabisan kuota tiket jamak dialami para pemudik tiap tahunnya. Dalam skenario terburuk, kehabisan jatah tiket memaksa para pemudik beralih transportasi ke bus atau kendaraan roda empat lain.

Kereta kerap menjadi salah satu moda transportasi paling murah bagi kalangan buruh berpendapatan rendah dan menengah. Perjalanan mudik di China cukup melelahkan mengingat wilayahnya yang amat luas membuat jarak dari kampung halaman dan kota tempat bekerja juga merentang jauh.

Untungnya pembangunan layanan kereta api jadi salah satu program yang digalakkan pemerintah China sejak beberapa tahun terakhir sehingga bisa membantu para pemudik untuk bisa pulang di musim libur Imlek.

Awas Copet!

Senada dengan di Indonesia, pemudik yang menggunakan transportasi massal di China juga dibayangi risiko kecopetan. Ditambah lagi jarak jauh yang harus ditempuh pemudik membuat copet bisa bergerak lebih leluasa. Copet juga menjadi momok bagi mereka yang mudik dengan bus.

Namun, yang paling membahayakan adalak insiden desak-desakan para penumpang yang pasti terjadi saat berebut menaiki kendaraan umum. Saking banyaknya orang yang ingin mudik pada periode Chunyun, membuat tertib mengikuti antrean jadi hal yang mustahil.

Tahun ini diprediksi, peserta Chunyun akan bertambah, berbanding lurus dengan jumlah urbanisasi yang meningkat setiap tahunnya.

Mudik Imlek di Indonesia

Walaupun berbeda agama, konsep merayakan Imlek masih diberlakukan oleh orang-orang keturunan Tionghoa di mana pun mereka berada. Sementara itu, sub etnis Tionghoa sangat banyak seperti Singhua, Hokian, Kanton, Khek, Hailam, Hainan, dan Lenga yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.

Walau tiap sub etnis memiliki tradisi berbeda dalam merayakan imlek, momen mudik merupakan hal sama yang selalu ditunggu setiap tahunnya. Berkumpul bersama keluarga menjadi alasan utama dari tiap acara mudik tahunan tersebut.

mudik gratis

Ternyata, tradisi mudik sudah sangat erat bagi etnis Tionghoa, baik itu di negaranya maupun warga keturunan yang menyebar ke berbagai negara. Hampir tak ada perbedaan antara tradisi mudik di Indonesia dan di China, karena keluarga biasanya menjadi alasan utama kepulangan para perantau ini.

Apakah kamu punya rencana Chunyun ke kampung halaman untuk merayakan Imlek tahun ini? Jangan lupa lindungi diri dengan asuransi perjalanan ya. Pilih dan ajukan asuransi perjalanan terbaik sesuai kebutuhan kamu dan keluarga lewat CekAja.com.

Beli Oleh-oleh Pakai Kartu Mayapada

Agar Chunyun kamu lebih berkesan, jangan lupa bawa buah tangan alias oleh-oleh untuk orang tua dan kerabat di rumah. Ayo berburu barang-barang tersebut di berbagai marketplace yang ada di Indonesia dengan menggunakan kartu kredit Mayapada, dijamin banyak diskonnya!

Berikut deretan promo belanja yang bisa dinikmati pemegang kartu kredit Mayapada di Tokopedia dan JD.ID selama perayaan Tahun Baru Imlek:

Dalam menyambut Tahun Baru Imlek, ada tawaran cukup besar di Tokopedia. Untuk mendapatkan diskon 8 persen hingga Rp 188.000, pembeli harus memasukkan kode promo: MAYAPADACUAN saat check out di halaman pembayaran. Promo berlaku mulai 13 – 26 Januari 2020 dengan minimum transaksi Rp1.880.000.

Senada dengan Tokopedia, marketplace yang lebih menawarkan banyak produk elektronik berkualitas ini juga memberi promo diskon Rp188 ribu untuk semua produk JD.ID.

Diskon akan otomatis diberikan saat melakukan pembayaran memakai kartu kredit Mayapada. Promo berlaku mulai 13 – 26 Januari 2020 dengan minimum transaksi Rp1.888.000,-.

Kapan lagi kamu dapat cuan promo bank Mayapada dengan diskon sebesar ini? Pilih dan ajukan kartu kredit Mayapada sekarang juga melalui CekAja.com.

Tentang Penulis

Miftahul Khoer

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.