Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Mengenal Hari Oeang dan 5 Fakta Menariknya

by Miftahul Khoer on 31 Oktober, 2018

Mungkin banyak dari Anda yang belum mengenal Hari Oeang. Hari penting nasional yang setiap tahunnya dirayakan pada tanggal 30 Oktober, berbarengan dengan lahirnya Kementerian Keuangan. Hingga saat ini, perayaan Hari Oeang sudah menginjak tahun ke-72. Apa saja fakta-fakta menarik tentang Hari Oeang? Simak di sini!

fakta uang - CekAja.com

Hari Oeang berasal dari sejarah panjang mata uang rupiah yang setiap harinya kini digunakan sebagai alat pembayaran cukup menarik untuk disimak. Lahirnya uang rupiah harus melalui proses yang cukup berliku dirasakan para pejuang kemerdekaan.

(Baca juga: Mengintip Penghasilan Atta Halilintar, Si Anak Muda Kaya Raya)
Uang Indonesia mulai dicetak pada Januari 1946

Proses pencetakan Oeang Republik Indonesia (ORI) memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pemerintah saat itu pernah mengeluarkan pernyataan pada 2 Oktober 1945. Isinya tentang pengumuman bahwa uang Nederlandsch Indie Civil Administratie (NICA) sudah tidak berlaku lagi.

Saat itu, Menteri Keuangan A.A Maramis telah merencanakan untuk mengeluarkan mata uang sendiri. Ia menginstruksikan kepada Serikat Buruh Percetakan G. Kolff & Co. Jakarta untuk mencari lokasi percetakan uang ORI.

Setelah persiapan selesai dilakukan, termasuk membentuk panitia khusus pencetakan uang ORI, maka pada Januari 1946 ORI bisa mulai dicetak. Pencetakan uang tersebut dilakukan pada pukul 07.00 hingga 22.00. Adapun, pencetakan uang ORI mulai bisa dilakukan pada masa Menteri Keuangan Surachman Tjokroadisurjo.

Uang ORI yang pertama kali dicetak yaitu pecahan Rp100. Kemudian pada masa Menteri Keuangan kelima yakni Sjafruddin Prawiranegara, uang ORI secara resmi diedarkan. Namun, tanda tangan dalam uang tersebut masih atas nama Menteri Keuangan A.A Maramis.

Banner CekAja

Mohammad Hatta umumkan Oeang Republik Indonesia (ORI) mulai berlaku

Di tengah kondisi negara yang sedang tidak menentu, pada 30 Oktober 1946, Wakil Presiden Mohammad Hatta menyampaikan pidato melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta. Pidato berisi tentang semangat bangsa untuk berdaulat dengan diterbitkannya mata uang ORI.

Pidato yang disampaikan pada pukul 20.00 tersebut menjadi cikal bakal kedaulatan ekonomi negara sekaligus menjadi tonggak sejarah terciptanya mata uang asli Indonesia.

“Besok tanggal 30 Oktober 1946 adalah suatu hari yang mengandung sejarah bagi tanah air kita. Rakyat kita menghadapi penghidupan baru. Besok mulai beredar Oeang Republik Indonesia sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah. Mulai pukul 12 tengah malam nanti, uang Jepang yang selama ini beredar sebagai uang yang sah, tidak laku lagi. Beserta uang Jepang itu ikut pula tidak laku uang Javasche Bank,” demikian kata Mohammad Hatta seperti dikutip dari laman Kementerian Keuangan.

Detik-detik uang ORI sah dan bisa digunakan rakyat Indonesia sebagai alat tukar diiringi semangat optimisme yang digelorakan Hatta pada saat itu.

“Dengan ini, tutuplah suatu masa dalam sejarah keuangan Republik Indonesia. Masa yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran bagi rakyat kita. Uang sendiri itu adalah tanda kemerdekaan Negara,” ujar Hatta.

(Baca juga: 5 Tips Investasi dari Warren Buffett Agar Kaya Raya)
Uang beredar, rakyat masih berdebar

Meski telah beredar dan sah sebagai alat tukar pasca pengumuman Mohammad Hatta pada 30 Oktober 1946, namun belum semua rakyat Indonesia merasakan kegembiraan menyambut uang ORI.

Sebab, di beberapa daerah perbatasan, masih banyak masyarakat yang menggunakan uang NICA karena takut diketahui oleh penjajah. Di sisi lain, warga juga masih takut menyimpan uang NICA karena jika diketahui pejuang republik, mereka bisa marah karena dinilai tidak menghargai uang ORI.

Sambil mengedarkan uang ORI, pemerintah juga menarik peredaran uang invasi Jepang dan NICA. Penarikan dilakukan secara perlahan dengan cara membatasi pemakaian hingga larangan membawa uang selain ORI dari satu daerah ke daerah lain.

Selain mengedarkan uang ORI, pemerintah juga memberikan wewenang kepada pemerintah daerah tertentu untuk mengeluarkan uang sendiri yang disebut dengan Oeang Republik Indonesia Daerah (Orida) akibat adanya Agresi Militer Belanda I pada 1947.

Uang Orida yang beredar di wilayah banten, Sumatera, Tapanuli, Sumatera Utara, Aceh, Nias dan Labuhan Batu hanya berlaku sementara untuk alat pembayaran. Adapun jumlah uang ORI dan Orida yang beredar selama 1946 mencapai Rp323 juta.

(Baca juga: Pesawat Lion Air Jatuh, Ini 5 Fakta Tentang Si Singa Terbang)
ORI versus NICA

Dua tahun setelah Hatta mengumumkan peredaran ORI di Yogyakarta yang berlaku secara nasional, Agresi Militer Belanda II pecah pada Desember 1948. Yogyakarta pun jatuh ke tangan Belanda. Hal ini berdampak terhadap peredaran uang ORI. Maka, Orida sebagai uang darurat saat itu dinilai menjadi alternatif.

Namun, dampaknya, uang ORI jatuh terhadap uang NICA. Di beberapa kota besar, nilai tukar uang ORI merosot tajam. Namun, hal itu tidak terjadi di kota-kota kecil hingga perkampungan. Warga seperti pedagang dan petani menolak uang NICA.

Jika dibandingkan, uang ORI dan NICA berbanding 1:5. Namun secara perlahan melemah dan kembali menguat menjadi 1:3 dan 1:2.

Banner Kartu Kredit Oktober 2018

Hari Oeang ke-72 diselimuti duka

Hampir setiap tahun, bangsa ini merayakan Hari Oeang yang di dalamnya mengandung nilai-nilai sejarah. Kehadiran ORI bukan hanya mampu menjadikan negara berdaulat, tetapi juga mampu memompa semangat bangsa menjadi lebih mandiri.

Saat ini, Hari Oeang sudah menginjak tahun ke-72. Diharapkan ekonomi negara bisa lebih pulih dan mandiri sehingga bangsa dan negara benar-benar bisa berdaulat.

Namun, di perayaan Hari Oeang ke-72 ini, bangsa ini harus rela diselimuti kesedihan atas tragedi pesawat Lion Air jatuh pada Senin kemarin. Kementerian Keuangan pun harus menggelar upacara peringatan Hari Oeang dengan mengenakan pakaian putih, celana dan pita hitam sebagai simbol duka.

Tentang Penulis

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami