Mengenal Istilah Critical Eleven Dalam Penerbangan, Momen Paling Tegang Saat Naik Pesawat!

5 min. membaca Oleh Maria Nofianti on

Mengenal istilah critical eleven dalam penerbangan, saat ini menjadi suatu yang penting. Terlebih, awal tahun 2021 dunia penerbangan Indonesia dilanda duka.

Pesawat dari maskapai Sriwijaya Air dengan rute Jakarta-Pontianak, yang memiliki kode SJ 182 dikabarkan hilang kontak.

Pesawat ini hilang kontak setelah kapten meminta ijin untuk menambah ketinggian. Ternyata dalam hitungan detik pesawat hilang dari radar.

Setelah pencarian selama kurang lebih 8 hari, dinyatakan bahwa pesawat mengalami kecelakaan dan dikabarkan jatuh di sekitar Kepulauan Seribu.

Dari cerita kronologis didapatkan bahwa pesawat hilang kontak hanya beberapa menit setelah lepas landas. Penyebab terjadinya kecelakaan pesawat ini juga masih diselidiki.

Menunggangi pesawat terbang memang berbeda dari kendaraan transportasi lain.

Umumnya, saat bepergian dengan pesawat terbang, kita diingatkan untuk menggunakan sabuk pengaman dan protokol keselamatan orang lain untuk mengantisipasi critical eleven.

Apa sih critical eleven itu? Kali ini kita akan belajar mengenal istilah critical eleven dalam penerbangan yang para penumpang seharusnya tahu.

(Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Fobia Naik Pesawat)

Mengenal Istilah Critical Eleven dalam Penerbangan

Mungkin kita pernah mendengar tentang “Critical 11”. Sayangnya itu bukan judul film ataupun buku, tapi waktu yang mengacu pada tiga menit setelah pesawat lepas landas dan delapan menit sebelum mendarat.

Pada waktu krusial ini awak kabin dilarang mencoba berkomunikasi dengan kokpit kecuali untuk hal-hal yang penting bagi keselamatan penerbangan dan penumpang.

Selain itu, awak kokpit juga diharuskan untuk menahan diri dari aktivitas apa pun yang tidak terkait dengan kendali pesawat.

Sedikit orang yang tahu bahwa praktik ini bermula dari fakta bahwa 80 persen kecelakaan yang melibatkan pesawat komersial terjadi dalam dua periode ini yang membuat pesawat terbang paling rentan terhadap banyak bahaya.

Dan sebagai penumpang, sangat penting untuk mematuhi aturan.

Mari kita lihat beberapa aturan sederhana dan mudah diikuti yang harus kita patuhi saat terbang, dan mengapa mendengarkan aturan ini penting.

Dengan mengenal istilah crticital eleven dalam penerbangan, penumpang juga memiliki andil dalam momen menegangkan 11 menit ini.

Jika beberapa aturan itu dengan mudahnya dilanggar oleh penumpang maka akan mempengaruhi kendali pesawat itu sendiri.

Maka dari itu mengenal istilah critical eleven dalam penerbangan memang perlu dan harus dipahami bagi para penumpang pesawat.

Hal yang Harus Diperhatikan dalam Menghadapi Critical Eleven

Lalu dalam menghadapi critical eleven, apa yang harus dilakukan oleh para penumpang dan awak kabin?

Yuk simak bagaimana kita sebagai penumpang mengenal istilah critical eleven dalam penerbangan.

1. Tetap pasang sabuk pengaman

Saat kita naik pesawat bukan tidak mungkin kita mengalami turbulensi.

Beberapa turbulensi yang dialami tidak bisa diramalkan, jadi harap selalu perhatikan saat tanda sabuk pengaman menyala, dan saat tidak aktif.

Sabuk pengaman juga harus selalu terikat dengan kita. Dan kita perlu membuang pikiran bahwa memasang sabuk pengaman akan memperlambat kita jika kita perlu mengungsi.

Sebenarnya, jauh lebih sulit menemukan jalan keluar jika turbulensi bisa membuat kita gegar otak dengan guncangannya yang mengerikan.

2. Tetap duduk dalam pesawat

Beberapa orang yang belum mengenal istilah critical eleven dalam penerbangan bisa saja menganggap saat naik pesawat kita bebas untuk berjalan mondar-mandir dalam pesawat.

Ketika berada dalam waktu critical eleven sebaiknya kita tetap duduk dengan sabuk pengaman terpasang.

Hal ini dikarenakan pesawat mempunyai center of gravity (CG) yang harus stabil keseimbangannya saat lepas landas ataupun landing.

Pergerakan penumpang atau awak kabin saat critical eleven ternyata bisa sangat menganggu keseimbangan pesawat. Begitu juga saat pesawat sudah landing dan mencari tempat berhenti.

Beberapa jalur untuk berhenti bisa membingungkan bagi kapten untuk mengendalikan pesawatnya dan kemungkinan untuk kecelakaan tetap ada.

Maka dari itu tunggu hingga tanda sabuk pengaman dimatikan dan pesawat diparkir dengan aman di pintu gerbang untuk melepaskan sabuk dan kemudian berdiri mengambil bagasi kita.

(Baca Juga: 7 Tips Atasi Panik saat Turbulensi Pesawat Terjadi)

3. Matikan telepon dan lepaskan headphone

Ketika menghadapi critical eleven biasanya awak kabin akan meminta penumpang mematikan perangkat elektronik selama fase penerbangan tertentu, dan juga melepas headphone dari telinga mereka.

Ini karena sebagian besar kecelakaan terjadi pada fase awal penerbangan, atau tepat sebelum mendarat.

Frekuensi seluler bisa menyebabkan kerusakan sistem elektronik pesawat. Tidak ada bukti bahwa hal ini pernah terjadi.

Namun, pilot telah mencatat bahwa ponsel yang mengirimkan sinyal bisa menyebabkan gangguan suara pada radio pesawat, seperti suara CD yang melompat.

Gangguan ini pada gilirannya berpotensi memblokir frekuensi radio selama satu atau dua detik, dan menyebabkan kebingungan antara pilot dan pengatur lalu lintas udara atau Air Traffic Controller (ATC).

Dan, penting bagi penumpang untuk mengetahui apa yang terjadi saat itu, dengan kemampuan untuk mendengar instruksi dengan cepat, oleh karena itu, ada aturan untuk melepas earphone kita.

4. Tas Disimpan

Penumpang yang mengenal istilah critical eleven dalam penerbangan harus paham bahwa kita harus menyimpan tas selama pesawat parkir, lepas landas, dan mendarat. Hal ini dilakukan sekali lagi demi keamanan.

Bayangkan saja jika selama penerbangan kita bisa tersandung kruk, pegangan dompet, ransel, atau bahkan kaki.

Jika keadaan darurat terjadi, tidak ada yang mau jalan keluar dihalangi oleh bagasi atau barang-barang lain kan?

5. Kursi Belakang Tegak

Ini bukan untuk membuat pengalaman penerbangan kita menjadi tidak nyaman, tetapi maskapai penerbangan meminta hal ini untuk meminimalkan potensi cedera dalam keadaan darurat.

Jika sandaran kursi tegak, jarak antara satu kursi dan kursi berikutnya lebih sedikit, yang meminimalkan kecepatan yang akan ditimbulkan saat benturan.

Dengan memahami dan mengenal istilah critical eleven dalam penerbangan tentu kita akan senang hati melakukannya.

6. Membuka penutup jendela

Membuka penutup jendela memiliki tujuan agar saat situasi darurat baik itu awak kabin maupun penumpang bisa melihat jelas keadaan di luar apakah itu di laut, sungai atau gunung.

Dengan begitu kita bisa memberi tahu ke kokpit pesawat.

Ketika saatnya dievakuasi, penutup jendela yang terbuka juga memudahkan kita mengenali arah mana kita harus keluar untuk menyelamatkan diri.

Aturan dalam menghadapi critical eleven ini digunakan untuk membantu proses evakuasi ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk membantu keselamatan penerbangan.

Dan yang harus dipahami sebelum kita menaiki pesawat terbang adalah resiko kecelakaan akan selalu ada termasuk saat kita menaiki pesawat.

Maka dari itu jika kita dalam kondisi darurat kita hanya punya waktu kkra-kira 90 detik untuk turun dari pesawat.

Jika 90 detik itu terlewati maka akan ada kemungkinan penumpang mengalami kondisi sesak nafas karena kekurangan oksigen atau tenggelam ketika pesawat landing darurat.

Nah itu dia informasi mengenai istilah critical eleven dalam penerbangan. Secara keseluruhan, harap diingat bahwa keselamatan adalah prioritas utama.

Para awak kabin dan otoritas bandara telah dilatih untuk siap menghadapi situasi yang tidak terduga.

Tetapi penting bagi kita yaitu penumpang untuk mengenal istilah critical eleven dalam penerbangan, untuk membuat perjalanan aman dan menyenangkan bagi semua.

Ingat untuk tidak tidur, mendengarkan musik atau melepas sepatu saat menghadapi critical eleven yang menegangkan ya!

Selain mengetahui hal itu, penting pula bagi kita yang gemar bepergian untuk memiliki asuransi perjalanan.

Adanya asuransi perjalanan setidaknya bisa memberikan kita rasa aman dan nyaman saat bepergian. Terlebih jika kita berbicara mengenai ‘kecelakaan’ yang memang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya.

Asuransi perjalanan ini bisa kamu dapatkan lewat CekAja.com. Cukup ajukan secara online, maka polis akan terbit dalam hitungan menit dengan premi mulai dari Rp25 ribu saja.

Gimana, tertarik? Yuk, langsung kepoin produk asuransi perjalanan dari CekAja.com, dan beli polisnya sekarang juga!

Tentang kami

Maria Nofianti

Maria Nofianti