Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Mengenal Kebiri Kimia, Hukuman Untuk Sang “Predator”

by Gito on 27 Agustus, 2019

Pemerintah tampaknya serius untuk menindak tegas pelaku kejahatan seksual. Untuk pertama kalinya, pelaku rudapaksa terhadap 9 anak di Mojokerto, Jawa Timur dijatuhi hukuman 12 tahun penjara, denda Rp100 juta subsider 6 bulan kurungan dan kebiri kimia.

Hukuman kebiri kimia merupakan kali pertama diberikan untuk “predator” di Indonesia. Terdapat pro dan kontra terkait pemberian hukuman tersebut. Si pelaku sendiri, mengaku menolak untuk “dihadiahi” hukuman yang akan ditanggungnya seumur hidup.

Selain itu, penolakan juga datang dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Pemberian hukuman kebiri dikatakan Komnas HAM melanggar hak asasi seorang manusia.

Tetapi bukan berarti Lembaga independen itu abai terhadap kasus rudapaksa anak, pengecaman terhadap tindakan pelaku tetap dilakukan.

Sementara itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang nantinya akan melaksanakan putusan Mahkamah Agung (MA) itu pun menolak untuk menjadi eksekutor dalam proses hukuman kebiri. Pasalnya hal tersebut bertentangan dengan kode etik kedokteran dan juga sumpah seorang dokter.

Tetapi pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Mojokerto tidak ambil pusing, Lembaga tersebut akan tetap menjalankan putusan itu meski tidak melibatkan dokter sekalipun. Kejari mengaku akan melibatkan rumah sakit (RS) dalam melaksanakan putusan.

Pemberian hukuman kebiri ini sudah memiliki landasan hukum yang kuat. Hal itu diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

(Baca juga: Mereka Awalnya Miliarder Dunia, Tapi Akhirnya Bangkrut dan Jatuh Miskin)
Asal Muasal Hukuman Kebiri

Membincang pemberian hukuman kebiri untuk pelaku rudapaksa terhadap anak sebenarnya sudah dimulai sejak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sekitar tahun 2014 tepatnya, saat itu pemerintah tengah berupaya untuk melakukan pencegahan atas kegiatan kejahatan seksual.

Nah salah satu opsi yang muncul dalam upaya tersebut adalah adanya kemungkinan dilakukan kebiri untuk pelaku kejahatan. Disamping itu, pelaku nantinya juga bakal lebih lama mendekam di penjara lantaran hukumannya diperberat menjadi 15 tahun penjaran.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mendukung adanya tindakan kebiri kimia tersebut. Apalagi hal itu juga didukung dengan Instruksi Presiden No 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Menentang Kejahatan Seksual.

Kemudian pada tanggal 25 Mei 2016, Presiden Joko Widodo menandatangani Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang kemudian menjadi dasar pemberian hukuman terhadap pelaku rudapaksa anak.

Salah satu beleid yang masuk dalam Perppu tersebut adalah diberikannya hukuman mati, penjara seumur hidup, hukuman penjara 20 tahun dan hukuman penjara minimal 10 tahun untuk pelaku kejahatan seksual.

Disamping itu ada juga hukuman tambahan yang diberikan, yakni kebiri kimiawi, pengumuman identitas ke publik, dan pemasangan alat deteksi elektronik.

Pemberian hukuman yang bertujuan untuk menekan homon testosteron ini diharapan dapat menekan angka kejahatan seksual dan memberikan efek jera kepada pelakunya. Mekanismenya sendiri adalah dengan menyuntikkan zat anti androgen secara berkala untuk menekan hormon tersebut.

Hormon testosteron sendiri merupakan hormon yang mendorong terjadinya aktivitas seksual, yakni dengan memunculkan gairah. Meski begitu dorongan seksual ternyata tidak hanya datang dari hormon testosteron, ada juga faktor psikologis dan juga kondisi kesehatan.

Namun ternyata pemberian anti androgen tersebut memiliki efek yang lain terhadap tubuh. Diantaranya adalah menurunnya fungsi kognitif dan juga timbulnya risiko penyakit jantung.

Tetapi karena sifatnya dimasukkan ke tubuh, maka gairah bisa berpotensi muncul jika injeksi dihentikan. Ditambah reaksi zat ini hanya bertahan selama selama 3 bulan.

(Baca juga: Hati-hati, Kesalahan Sepele Menyangkut Uang Ini Bisa Bikin Kamu Terjerat Hukum)
Tidak Hanya Indonesia

Penerapan hukuman Kebiri ternyata tidak hanya ada di Indonesia Finlandia, Jerman, Denmark juga beberapa negara lain di Eropa Utara dan Amerika Serikat juga sudah mengaplikasikannya,

Seperti yang ada di Swedia, hukuman kebiri kimia diizinkan dengan dasar bahwa subjek dalam kejahatan seksual sudah menjadi ancaman bagi masyarakat. Namun pemberian hukuman ini berjalan sukarela.

Untuk di negeri Paman Sam, hukuman kebiri bukan lagi menjadi opsi melainkan sudaha menjadi kewajiban. Meskipun tidak semua negara bagian yang melakukan hukuman tersebut, paling tidak 10 negara bagian sudah menerapkannya.

Negara di Asia juga sudah ada yang menerapkan hukuman kebiri kimia. Adalah Korea Selatan yang sudah mengaplikasikannya pada tahun 2011 lalu. Kebiri dilakukan bagi subjek kejahatan seksual yang berusia diatas 19 tahun, namun sebelum hal itu dilakukan, pelaku kejahatan harus menjalani masa hukuman penjara terlebih dahulu.

So, jauhi aktivitas kriminal manapun ya. Lebih baik berbisnis secara mandiri. Jangan lupa ajukan aplikasi Kredit Tanpa Agunan di CekAja.com dan temukan produk keuangan yang cocok!

Tentang Penulis

Gito

Veritas Vos Liberabit

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami