Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Mengenal Lebih Dekat dengan LRT Jabodebek

by Miftahul Khoer on 14 Januari, 2019

Wakil Presiden Jusuf Kalla tiba-tiba kesal dengan proyek Light Rail Transit (LRT) yang terintegrasi dengan Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek). Kalla menilai jalur LRT yang dibangun secara elevated atau melayang relatif lebih mahal dengan anggaran Rp500 miliar per kilometer.

Jakarta

Nah, kali ini CekAja akan mengulas terkait pembangunan LRT Jabodebek yang menelan anggaran hingga puluhan triliun itu. Yuk langsung saja cek fakta-fakta pembangunan LRT ini.

Dibangun untuk mengurai kemacetan Jakarta

Salah satu alasan dibangunnya LRT adalah untuk mengurangi kepadatan dan kemacetan di Jakarta terutama di Jalan Tol Jakarta Cikampek serta Tol Jagorawi. Di dua jalur tersebut kemacetan sering terjadi sangat parah.

Dengan demikian, salah satu perusahaan BUMN yakni PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mengusulkan untuk membangun jalur LRT pada trase Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawag dan Cawang – Dukuh Atas.

Harapannya, dengan adanya LRT ini nantinya masyarakat akan beralih dari semulanya menggunakan kendaraan pribadi berubah menjadi menggunakan transportasi kereta ringan.

Pemerintah pun akhirnya mempercayakan ADHI untuk mengembangkan prasarana LRT tersebut melalui Perpres No 98 tahun 2015 dan Perpres No 99 tahun 2015. Tugas ADHI yaitu membangun prasarana pada enam lintasan yakni Cibubur, Dukuh Atas, Bekasi Timur, Senayan, Bogor dan Grogol.

Adapun hal-hal yang diatur dalam perpres tersebut antara lain penugasan ADHI untuk membangun sarana termasuk jalur layang, stasiun dan fasilitas operasi LRT; membentuk penyelenggara transportasi Jabodebek serta koordinasi dengan BUMD DKI terkait LRT dari luar Jakarta yang masuk ke wilayah Jakarta.

Pada Juli 2016, Presiden Jokowi mengeluarkan kembali Perpres No 65 tahun 2016 sebagai perubahan atas Perpres No 98 tahun 2015. Isinya, tugas ADHI bertambah yakni harus membangun depo. 

Selain itu, perpres tersebut juga menugaskan PT Kereta Api Indonesia sebagai penyelenggara sarana meliputi pengadaan sarana, pengoperasian sarana, perawatan sarana dan pengusahaan sarana, penyelenggaraan sistem tiket otomatis dan menyelenggarakan pengoperasian dan perawatan prasarana. 

Pada 2017, Jokowi mengeluarkan kembali Perpres No 49 tahun 2017 yang merupakan perubahan kedua perpres sebelumnya. Perpres baru ini mengatur tentang percepatan penyelenggaraan LRT Jabodebek.

(Baca juga: Jakarta Peringkat ke-12 Kota Termacet di Dunia)

Anggaran LRT

Pembangunan LRT Jabodebek terbagi dalam dua tahapan. Saat ini proyek LRT Jabodebek yang sedang berjalan adalah tahap 1 yang diperkirakan akan rampung pada tahun ini.

Adapun LRT Jabodebek tahap I terdiri dari 3 lintas layanan yaitu Lintas layanan 1 Cawang – Cibubur (14,3 kilometer), Lintas Layanan 2 Cawang – Kuningan – Dukuh Atas (10,5 kilometer), dan Lintas Layanan 3 Cawang – Bekasi Timur (18,5 kilometer). Adapun anggaran pembangunannya diperkirakan mencapai Rp29,9 triliun.

Anggaran sebesar itu dibebankan kepada PT Kereta Api Indonesia senilai Rp25,7 triliun dan ADHI Rp4,2 triliun. PT KAI sendiri telah menandatangani kredit sindikasi dengan sejumlah bank pemerintah dan juga bank swasta untuk pendanaan tersebut. Total kredit sindikasi yang diperoleh PT KAI mencapai sekitar Rp19,25 triliun.

Progres hingga 2018

LRT Jabodebek mencatat capaian progres hingga akhir Desember 2018 untuk tahap 1 sudah mencapai 54 persen. Pembangunan LRT sempat terhenti. Secara rinci, jalur Cawang – Cibubur hingga akhir Desember 2018 sudah mencapai 75,114 persen; Cawang – Dukuh Atas mencapai 43,352 persen dan Cawang – Bekasi Timur mencapai 48,247 persen.

Dikritik Wapres JK

Pembangunan LRT memang sudah lebih dari 50 persen. Namun, pada Jumat 11 Januari 2019, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkritik pembanguan lintasan kereta ringan tersebut. JK mengatakan lintasan LRT dengan melayang yang berada di pinggil jalan tol dinilai tidak mendesak karena biasanya tidak harus berada di pinggir tol.

Menurut Kalla, pembangunan lintasan dengan skema melayang tidak cocok ke arah luar kota seiring ketersediaan lahannya masih banyak dibandingkan dengan di Jakarta. JK juga mengkritik anggaran Rp500 miliar per kilometer sangat boros dan membuat pengembalian modal bakal lebih lama.

Komentar JK tentang mahalnya anggaran pembangunan LRT tersebut menjadi trending topic pada Jumat pekan lalu. Tagar #1km500miliar pun menjadi ramai diperbinangkan di media sosial.

(Baca juga: Stres dengan Kemacetan? Saatnya Berwisata Alam Asyik di Tengah Kota Jakarta)

Tanggapan ADHI

Kritikan yang dilontarkan Kalla kepada ADHI ditanggapi oleh pihak manajemen. Pihak ADHI mengaku akan memperhatikan pendapat dari Kalla atas pembangunan LRT Jabodebek tersebut.

Pihak ADHI pun berpendapat bahwa skema elevated atau lintasan melayang lebih cocok dibangun terutama di Jakarta dan sekitarnya. Alasannya, infrastruktur melayang sudah menjadi ciri khas pembangunan di Jakarta. Skema lintasan melayang ini juga dinilai lebih memudahkan saat pembebasan lahan.

Tentang Penulis

Miftahul Khoer

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami