Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Mengenal Netflix dan Spotify yang Pajaknya Tengah Dibidik Pemerintah!

by Gito on 5 November, 2019

Raksasa teknologi, Google akhirnya tunduk pada peraturan Republik ini untuk membayar pajak dalam bentuk rupiah kepada Indonesia. Nah kali ini, pemerintah tengah membidik perusahaan over the top lainnya seperti Netflix dan Spotify untuk dipungut pajaknya.

cara mengurus NPWP hilang

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengusulkan kepada legislatif terkait Rancangan Undang – Undang (RUU) dengan skema Omnibus Law tentang Ketentuan dan Fasilitas Perpajakan untuk Penguatan Perekonomian.

Melalui revisi RUU tersebut, Indonesia dapat menarik pajak dari Netflix, Spotify dan perusahaan OTT lainnya yang beroperasi di Indonesia.

Dalam usulan itu, UU yang akan direvisi adalah UU Nomor 80 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP) juga UU Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (PPh).

Selama ini pemerintah tak berdaya untuk menarik pajak dari perusahaan – perusahaan tersebut lantaran Netflix, Spotify dan juga perusahaan lainnya tidak memiliki badan usaha tetap (BUT) di Indonesia.

Sementara landasan yang ada saat ini adalah perusahaan asing harus memiliki BUT untuk dapat dipungut pajaknya oleh negara.

Padahal dengan beroperasinya Netflix dan juga Spotify di Indonesia, berarti kedua perusahaan tersebut juga menarik keuntungan dari negeri ini. Hal itu jika dilihat secara sederhana saja sudah memperlihatkan ketidakadilan.

Dimana satu perusahaan mengeruk keuntungan dari negara lain tetapi tidak ada kontribusi yang diberikan kepada negara tersebut. Dengan adanya revisi UU, maka diharapkan dapat tercipta iklim investasi yang adil dan juga setara.

(Baca juga: Lima Bisnis Menguntungkan Bermodal Kartu Kredit)
Netflix

Perusahaan layanan video streaming berbayar asal Amerika Serikat itu resmi masuk Indonesia pada tahun 2016 lalu. Namun ternyata perusaahaan tidak pernah membayar pajak seperti layaknya perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia.

Hal itu tentu membuat persaingan di antara perusahaan – perusahaan asing yang taat membayar pajak dan mengikuti peraturan di Indonesia menjadi tidak sehat.

Padahal keuntungan perusahaan ini tidaklah sedikit, pada 2018 lalu, Netflix sukses mengantongi untung US$1,21 miliar atau setara dengan Rp17 triliun.

Jumlah pelanggannya pun sudah mencapai angka yang fantastis, yakni 150 juta subscriber yang tersebar di berbagai negara. Jumlah itu setara dengan 60% dari total penduduk Indonesia yang sebanyak 250 juta penduduk.

(Baca juga: Netflix vs TV Kabel, Siapa Lebih Murah?

Spotify

Melansir Reuters, pada Maret lalu jumlah pengguna aktif Spotify sudah mencapai 217 juta. Jumlah tersebut meningkat 25,43% dari posisi Maret 2018 yang sebanyak 173 juta pengguna.

Hal itu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan yang dikatakan Institutional Brokers Estimate System (IBES) juga meningkat menjadi US$1,69 miliar.

Meskipun begitu, pengguna Spotify di Asia termasuk didalamnya Indonesia ternyata tidak begitu besar kontribusinya terhadap perusahaan layanan musik streaming itu.

Negara-negara yang berada di benua Eropa merupakan penyumbang pendapatan terbesar dari sisi pelanggan berbayar. Sekitar 40% dari pelanggan berbayar Spotify ada di Eropa dan diikuti oleh Amerika Utara yang berkontribusi 30% dari pelanggan premium.
=

Hadirnya beragam aplikasi digital tersebut sejatinya merupakan hal yang baik untuk negeri ini. Karena selama ini hal-hal “kekinian” seperti itu hanya beredar dan digunakan di negara-negara barat saja.
=

Disamping itu, adanya Spotify juga menambah gairah industri musik tanah air. Karena musisi-musisi anyar yang memilki ide dan karya menarik namun cekak di modal bisa mengandalkan Spotify dan juga layanan musik streaming lainnya untuk menambah pendapatan.
=

Salah satu contohnya adalah Spotify. Perusahaan memberikan royalti kepada musisi sebesar US$0,006 hingga US$0,0084 untuk sekali streaming. =

Artinya, jika memang lagu yang ditempatkan merupakan lagu milik penyanyi ternama, maka tentunya semakin banyak pula uang yang mengalir.
=

Semakin populer si artis, maka semakin besar pula kemungkinan karya-karyanya dicari dan diputar oleh khalayak. Maka tak heran, jika penyanyi papan atas seperti Taylor Swift, Adele, Dua Lipa dan artis kenamaan lainnya mampu meraup ratusan ribu dolar AS per bulan hanya dari streaming lagu.

Namun perlu diingat, nilai royalti yang diberikan bukan hanya untuk si penyanyi saja. Nilai tersebut akan dibagi lagi kepada para pemegang hak cipta, mulai dari label rekaman, produser, artis dan penulis lagu.

Nah disini peran pemasaran dan juga branding akan sebuah karya sangat dibutuhkan. Terutama bagi para musisi yang baru terjun ke industri musik. Karena karya yang baik jika tidak ditopang oleh pemasaran yang baik tentunya juga tidak akan menghasilkan output yang maksimal.

Khusus untuk industri musik di Amerika Serikat, besaran royalti untuk para pemegang hak cipta bakal berubah.

Pasalnya Dewan Hak Cipta dan Royalti (CRB) dari Kongres Amerika telah menerbitkan aturan yang mengubah formula untuk menentukan besarnya pendapatan yang harus disalurkan oleh perusahaan streaming lagu kepada penulis lagu maupun perusahaan rekaman.

Dikabarkan, tarif yang akan dikenakan akan meningkat menjadi 15,1% dari tarif sebelumnya 10,5%. Hal itu tentu membawa angin segar bagi para musisi di negeri Paman Sam, karena dengan adanya aturan baru itu maka penghasilan para artis berpotensi bertambah besar lagi dari sekarang

Selain menjadi musisi kamu juga bisa menjadi enterpreneur kok. Modalnya cuma berani untuk memulai. Soal modal keuangan, ajukan saja di CekAja.com dan temukan ragam produk keuangan yang cocok buat kamu.

Tentang Penulis

Gito

Veritas Vos Liberabit