Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Mengenal Peter Gontha, si ‘Tukang’ Jazz yang Jadi Komisaris Garuda

by Miftahul Khoer on 29 Januari, 2020

Mungkin banyak yang masih belum mengenal tentang Peter Frans Gontha atau yang biasa dipanggil Peter Gontha. Sosok ini menjadi sorotan ketika dia ditunjuk sebagai komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menunjuknya melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar Rabu (22/1/2020) lalu.

Peter Gontha Garuda Indonesia

Peter Gontha dikenal sebagai perwakilan dari CT Corp milik pengusaha Chairul Tanjung. CT Corp adalah pemegang saham terbesar kedua di Garuda Indonesia, lewat PT Trans Airways.

Peter Gontha merupakan pengusaha yang cukup sukses. Dia pernah memegang beberapa perusahaan penting di Indonesia. Kini, meskipun usianya tak muda lagi, dia tetap akan terus berupaya memperbaiki kinerja Garuda.

Kalau kamu penasaran tentang siapa sosok bapak berkepala plontos satu ini, yuk simak penjelasannya.

1. Pernah bekerja serabutan di kapal

Pria kelahiran Semarang, 4 Mei 1948 dari pasangan Willem Gontha dan Alice ini memulai kariernya dari bawah. Selama kuliah, dia tanpa sungkan bekerja sebagai supir taksi, pelayan restoran, bahkan menjadi pembersih karat kapal, demi bisa tetap hidup. Kemudian, dia juga pernah bekerja sebagai awak kapal pesiar Holland-American Line yang berpusat di Belanda, dengan rute trans-Atlantik.

Dia akhirnya berhasil meraih beasiswa dari Shell di Praehap Institute Belanda. Dari situ, dia mulai meniti karier di Citibank New York dan akhirnya dipromosikan menjadi Vice President American Express Bank untuk Asia.

(Baca juga: Kejanggalan yang Dialami Awak Kabin Garuda)

2. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Polandia

Siapa yang menyangka jika komisaris baru PT Garuda Indonesia ini merupakan mantan duta besar untuk Polandia? Peter dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 Oktober 2014, bersama dengan 21 dubes lainnya. Dia menjabat selama 4,5 tahun sebagai dubes di Polandia. Posisinya pun diteruskan oleh Siti Nugraha Mauludiah.

3. ‘Donald Trump’-nya Indonesia

Ternyata Indonesia juga mempunyai sosok Donald Trump. Namun, Donald Trump yang dimaksud adalah bukan yang di Amerika sana, melainkan julukan yang diberkan kepada Peter Gontha. Julukan itu diberikan saat dirinya tampil di acara reality show The Apprentice Indonesia. 

Dalam acara tersebut, Peter berperan sebagai bos dengan harta yang banyak. Acara tersebut terinspirasi dari The Apprentice yang didirikan oleh Donald Trump sendiri. Karena itulah, julukan Donald Trump Indonesia melekat pada Peter. Julukan itu merupakan julukan kedua untuk Peter. Sebelumnya, dia mendapatkan sebutan ”Rupert Murdoch Muda Indonesia” pada pertengahan 1990-an lalu. Hal itu dikarenakan kiprahnya yang malang melintang di bisnis media di Indonesia saat itu.

Peter pun ditunjuk menjadi CEO The Apprentice Indonesia, karena dianggap sebagai sosok seorang businessman yang memiliki kredibilitas tinggi dan gaya hidup yang sesuai dengan kesuksesan yang telah diraihnya.

4. Mendirikan banyak perusahaan media

Peter bergabung dengan Bimantara tahun 1984. Dia pun mendapatkan porsi saham, dan berperan sebagai Wakil Presiden Direktur di grup usaha keluarga Cendana tersebut. Setelah sembilan tahun beroperasi, aset usaha tersebut berkembang luas pada 11 jalur kelompok bisnis dengan 113 perusahaan, menyusul terbentuknya satu jaringan usaha baru, yakni Kelompok Komunikasi, Penyiaran, dan Publikasi.

Kelompok baru itu meluas dengan tiga perusahaan televisi, seperti PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) dengan 65 persen aset Bimantara. Di RCTI, Peter menjabat sebagai bagian dari jajaran direksi RCTI. Kemudian, Bimantara patungan dengan bos Subentra Group Sudwikatmono, dan bos Napan Group Henry Pribadi, untuk mendirikan PT Surya Citra Televisi Indonesia (SCTV).

Kelompok itu lalu mendirikan dua media cetak yakni PT Citra Media Nusa Purnama (Harian “Media Indonesia”) dan PT Vista Yama (Majalah “Vista”). Selain itu, satu perusahaan periklanan PT Postindo Promodio Audiovisual yang bergerak dalam bidang iklan televisi. Kemudian, mendirikan dua perusahaan radio, yakni PT Radio Tri Jaya Sakti (Jakarta) dan PT Radio Surya Cakra FM (Surabaya).

Selain media, kelompok perusahaan ini juga mendirikan jaringan usaha telekomunikasi yang dikembangkan oleh empat perusahaan, antara lain PT Elektrindo Nusantara (telepon genggam) dengan aset 50 persen milik Bimantara dan 50 persen milik NEC Sumitomo. Kemudian, PT Media Citra Indostar (satelit) dengan kepemilikan 30 persen saham Bimantara, 40 persen saham PT Telkom, dan sisanya terbagi pada tiga pihak, yakni Ny. Siti Hardiyanti, PT Seruni Sejati, dan Departemen Penerangan.

Selain itu, Peter juga pernah menjabat sebagai Komisaris Plaza Indonesia, perusahaan lain yang terafiliasi dengan Bimantara Grup milik Bambang Trihatmodjo.

5. Musisi jazz

Selain dikenal sebagai pengusaha, Peter juga ternyata dikenal sebagai seorang musisi jazz. Siapa sangka, kalau namanya sudah harum di seantero dunia musik jazz di Indonesia. Bahkan musisi-musisi kelas dunia pun tahu betul siapa dia. Hal ini dibuktikan dengan diadakannya acara musik jazz tahunan dan termegah, yakni Jakarta International Java Jazz Festival, yang diprakarsai oleh dirinya.

Kecintaannya pada musik jazz tentu berakar dari ayahnya, Willem Gontha, yang merupakan trumpeter untuk sebuah grup musik beraliran jazz di perusahaan minyak Shell di Surabaya, Jawa Timur. Karakternya yang apa adanya dan berjiwa muda, membuat Peter dikagumi oleh para artis, musikus, dan pejabat dalam maupun luar negeri.

Kalau kamu penikmat musik jazz, tentunya harus tahu sosok Peter ini. Beberapa lagunya yang cukup terkenal adalah Jangan Menggoda Lagi dan Kau yang Kusayang

(Baca juga: Mengenal Dirut Baru Garuda)

6. Seorang diplomat yang handal

Peter adalah seorang diplomat yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia pernah memberikan kuliah umum di hadapan ratusan pemuda di Bengkel Diplomasi, Mayapada Tower, Jakarta. Menurutnya, diplomasi yang sebenarnya adalah harus mengetahui subjeknya. Jika ingin mempromosikan Indonesia, maka harus tahu betul soal Indonesia. Dan pastinya, harus didukung dengan data yang akurat.

Selama menjadi pebisnis dan duta besar, sehari-harinya yang dilakukan adalah berdiplomasi. Karena itu, dia memegang slogan life is diplomacy. Selama bertugas di Polandia, dia merasa ada sejumlah protokol-protokol yang tak penting. Karena diplomasi zaman dahulu adalah diplomasi yang ‘kaku’ dan dia tak bisa melakukannya.

Nah itulah sekilas mengenai sosok Peter Gontha. Semoga dengan berkiprahnya menjadi pejabat di Garuda Indonesia bisa menjadikan maskapai milik pemerintah tersebut terbang setinggi langit dengan prestasi yang baik. Amin. 

Tentang Penulis

Miftahul Khoer

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.