Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Mengenal Sandwich Generation, Mereka yang Terhimpit Beban Finansial Dua Generasi

by Ariesta on 6 April, 2017

sandwich generation_investasi - CekAja.com

Pernahkah kamu mendengar istilah sandwich generation? Jika Belum, siapa sih sebenarnya mereka?

Kalau menilik istilahnya, sandwich adalah daging atau sosis yang yang diapit oleh dua potong roti. Istilah sandwich generation mengacu pada generasi yang harus menanggung biaya hidup generasi di atas maupun di bawahnya.

Istilah sandwich generation pertama kali diperkenalkan oleh warga Amerika Dorothy Miller dan Elaine Brody pada tahun 1981. Keduanya menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan kondisi pekerja wanita di usia 30-an dan 40-an yang merawat anak-anak mereka, tetapi juga harus memenuhi kebutuhan orang tua, atau anggota keluarga lain.

Amerika melalui Pew Research Center bahkan telah melakukan penelitian untuk mendata sandwich generation. Hasilnya satu dari delapan penduduk Amerika usia 40 sampai 60 harus menanggung dua generasi.

Kalau kamu sudah menikah dan punya anak, tapi di saat yang sama orangtua sudah pensiun dan bergantung padamu untuk biaya hidup sehari-hari, maka kamu termasuk ke dalam sandwich generation. Disebut sandwich generation karena kamu seperti memiliki beban ganda seperti membayar cicilan kredit rumah di tengah kenaikan biaya sekolah anak.

Di atas harus menanggung biaya orangtua atau adik-adiknya, di bawah harus membiayai anak-anak, ditambah kebutuhan untuk rumah tangga sendiri. Nah, sekarang mari cek, apakah kamu termasuk salah satu dari sandwich generation?

Kalau kamu berusia 20-40-an

Sebenarnya sampai usia 60 tahun pun kamu masih bisa disebut sandwich generation jika anakmu yang telah berusia dewasa belum juga mandiri. Namun umumnya kondisi terjepit ini banyak dialami oleh mereka yang berusia 20-40-an di mana orangtua masih hidup dan anak masih di usia sekolah.

Carol Abaya, seorang ahli sandwich generation dari Amerika menjabarkan tiga kondisi yang membuat seseorang menjadi bagian dari sandwich generation.

  • Traditional : Mereka yang berada di antara orangtua lanjut usia yang membutuhkan perawatan maupun perhatian dan anak-anaknya sendiri.
  • Club sandwich : Mereka yang berusia 50-an atau 60-an dan berada di antara orangtua manula, anak dewasa, cucu, atau mereka yang berusia 30-an atau 40-an dengan anak remaja, orangtua manula, dan cucu.
  • Open Faced: Siapa saja yang harus menopang orangtua.
Harus Menanggung biaya hidup orangtua karena mereka tidak mempersiapkan pensiun dengan matang

Bekerja ada batasnya. Ketia usia pensiun tiba dan kemampuan fisik makin menurun, saat itulah harus berhenti kerja dan menikmati masa tua. Sayangnya hanya sedikit orang yang paham kalau masa pensiun sama pentingnya dengan masa bekerja. Apalagi jika masih muda, menyiapkan dana pensiun terasa belum penting di tengah kebutuhan yang lebih mendesak.

Banyak orang yang ingin menikmati pensiun dengan nyaman sambil tetap mempertahankan gaya hidup saat masih bekerja. Namun keinginan ini tidak diimbangi dengan usaha untuk mempersiapkan pensiun seperti menabung dan investasi.

Ya berinvestasi, karena nilai tabungan bisa menurun karena inflasi. Apalagi biaya kebutuhan hidup akan lebih mahal berpuluh kali lipat dibanding dibandingkan sewaktu muda akibat inflasi. Tabungan yang disiapkan hanya bisa memenuhi beberapa tahun bahkan beberapa bulan saja setelah pensiun tiba.

Apalagi berdasarkan data yang dirilis pada tahun 2015 oleh WHO, rata usia-usia harapan hidup pria Indonesia adalah 67,1 tahun dan wanita 71,2 tahun. Ini artinya, jika pensiun pada usia 55 tahun, orang Indonesia berkesempatan hidup hingga 12-16 tahun lagi.

Ketika persiapan pensiun tidak matang, anak lah yang harus menyokong orangtua. Tidak masalah kalau kondisi ekonomi anak berlebih, tapi jika kekurangan inilah yang jadi masalah.

Kalau kamu adalah anak pertama

Biasanya yang menjadi sandwich generation adalah anak pertama. Ketika orangtua sudah memasuki usia pensiun, sedangkan adik-adik masih sekolah, tanggung jawab menyokong dana pendidikan jatuh pada kakak pertama. Kondisi ini banyak terjadi pada keluarga dengan anak banyak.

Bayangkan jika di saat yang sama kariermu belum stabil, baru menikah, punya cicilan motor atau mobil berdasarkan kebutuhan, dan ingin beli rumah di usia muda. Padahal kamu tidak perlu menjadi sandwich generation kalau orangtuamu mempersiapkan dana pendidikan anak-anaknya dengan matang.

Kamu harus menanggung biaya kesehatan orangtua karena mereka tidak membekali diri dengan asuransi

Kemungkinan lainnya adalah orangtua sebenarnya sudah mempersiapkan dana pensiun, namun tidak memiliki asuransi kesehatan. Akibatnya ketika terkena penyakit berat, dana pensiun habis untuk biaya pengobatan. Akhirnya anak harus ikut menanggung biaya hidup sekaligus biaya pengobatan orangtua.

Sekarang kamu telah mengetahui apa itu penyebab sandwich generation, lalu bagaimana kamu tidak mewarisi hal ini pada anakmu kelak?

  • Melakukan life cycle investment

Jangan bosan dengan anjuran berinvestasi. Istilah life cycle investment mengacu pada investasi yang dilakukan berdasarkan pada fase hidup, yakni masa muda, menjelang pensiun, dan masa pensiun.

Kesadaran berasuransi, baik asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan diri, serta berinvestasi harus melekat dalam benak sandwich generation. Kasarnya, asuransi merupakan persiapan bagi sandwich generation untuk menghadapi risiko ‘kematian dini’ atau ‘hidup terlalu lama’.

Jangan melakukan kesalahan yang sama dengan orangtua yang tidak membekali diri dengan asuransi dan dana pensiun.

  • Memiliki tabungan rencana pendidikan anak

Berapa usia anakmu sekarang? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan kebutuhan dana pendidikan anak hingga jenjang perguruan tinggi?

Selanjutnya, tentukan alokasi dana untuk investasi. Ingat, yang terpenting bukanlah seberapa besar dana yang diinvestasikan tetapi seberapa cepat kamu memulai. Karena orang yang memulai dengan Rp5 juta bisa menghasilkan jumlah yang lebih besar jika memulai dari 10 tahun sebelumnya daripada orang yang berinvestasi Rp20 juta tapi baru memulai.

Tentang Penulis

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami