Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Mengenal Sulianti Saroso, Nama yang Dijadikan Rumah Sakit Rujukan Corona

by Gito on 18 March, 2020

Merebaknya wabah virus novel corona atau yang dikenal dengan Covid-19 membuat khawatir banyak pihak. Untuk mengurangi penyebaran sekaligus sebagai langkah mitigasi, pemerintah sudah menunjuk beberapa Rumah Sakit (RS) yang bisa dijadikan rujukan bagi penderita Covid-19 di Indonesia. Salah satunya adalah Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.

sulianti saroso

RSPI Sulianti Saroso yang berada di Sunter, Jakarta Utara merupakan rumah sakit swasta yang memiliki status sebagai rumah sakit vertikel tipe B non Pendidikan.

Meskipun begitu, Rumah Sakit ini masuk dalam pengawasan Kementerian Kesehatan.

Memiliki ruangan isolasi sebanyak 11 ruangan, RSPI Sulianti Saroso mengaku siap menambah jumlah kamar isolasinya menjadi 150 kamar secara bertahap.

Namun hal itu baru dilakukan ketika eskalasi jumlah penderita Covid-19 terus bertambah, semoga tidak terjadi.

RSPI Sulianti Saroso digadang-gadang merupakan Rumah Sakit yang memilki standar internasional untuk penanganan novel corona.

Karena jumlah penderita terbanyak saat ini berada di Jakarta, bisa dibayangkan betapa sibuknya operasionalisasi Rumah Sakit tersebut.

Sulianti Saroso bukanlah sembarang nama yang disematkan di Rumah Sakit tersebut.

Karena kiprahnya di dunia kesehatan yang luar biasa, membuat pemerintah merasa perlu untuk mengenang jasanya, sehingga bisa dikenal dan dikenang bagi generasi mendatang.

Melansir Historia.id, berikut merupakan 3 fakta tentang Sulianti Saroso

(Baca juga: Imbas Corona, Deretan Mobil Ini Batal Mejeng di IIMS 2020

1. Kiprahnya dimulai sejak perang kemerdekaan

Dedikasi Sulianti Saroso terhadap bangsa ini rasanya patut diacungi jempol. Pasalnya dia ikut berjibaku dalam perang kemerdekaan bersama dengan pejuang-pejuang yang lainnya di garis depan.

Jika pejuang lain mengangkat senjata dan juga memekikkan suara kemerdekaan, Sulianti muda ikut berperang dengan mengandalkan peralatan kedokteran yang dimiliki.

Dia merupakan salah satu dokter yang berada di garis pertempuran yeng bertugas merawat pejuang yang terluka.

Wanita kelahiran Karangasem, Bali itu juga ikut berjibaku di wilayah dapur umum bersama tenaga wanita yang lain.

2. Awalnya fokus pada pengendalian angka kelahiran

Pendidikan kedokterannya didapatkan melalui Sekolah Tinggi Kedokteran atau Gneeskundige Hoge School di Batavia.

Pertama kali dirinya bekerja di Centrale Burgelijke Ziekenhuis di bagian penyakit dalam.

Kini nama tempat tersebut dikenal dengan nama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Dia juga pernah bekerja di bidang penyakit anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

Beberapa organisasi politik juga pernah di ikutinya, seperti saat dirinya duduk di Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia.

Kemudian membentuk Laskar Wanita yang bernama Wanita Pembantu Perjuangan (WAPP).

Selain itu dia juga pernah mewakili Kongres Wanita Indonesia (Kowani) di ajang Inter Asian Women Conference di India.

Setelah itu namanya terus harum dan akhirnya mendapatkan kepercayaan dari WHO untuk belajar tentang Sistem Kesehatan Ibu dan Anak di Eropa.

Selayaknya orang yang habis menimba ilmu di negeri orang, Sulianti merasa hasil pendidikannya bisa digunakan untuk mengendalikan angka kelahiran melalui Pendidikan seks dan Gerakan keluarga berencana.

Saking semangat menyampaikan gagasannya, ide tersebut sempat dilarang untuk disosialisasikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Bung Hatta.

Pasalnya perihal penggunaan alat kontrasepsi dalam sistem Kesehatan massyarakat dinilai berada dalam ranah yang sangat pribadi.

Namun akhirnya pada era Presiden Soeharto gagasannya diterima dengan baik, diapresiasi dalam bentuk Program Keluarga Berencana.

Setelah itu, dirinya bergabung dalam pemerintahan sebagai Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular di tahun 1967.

(Baca juga: Jangan Panik! Ini Asuransi di Indonesia yang Mengcover Virus Corona)

3. Pernah duduk sebagai Presiden Majelis Kesehatan Dunia di WHO

Memilki nama lengkap Julie Sulianti Saroso, sosok wanita kelahiran 1917 tersebut pernah menduduki posisi strategis di badan Kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO).

Pada tahun 1973 dia didapuk menjadi Presiden Majelis Kesehatan Dunia di WHO.

Dalam 25 tahun pertama sejak WHO dibentuk, Sulianti Saroso merupakan wanita kedua yang duduk di posisi strategis tersebut.

Sebelumnya pada tahun 1950, wanita asal India, Rajkumari Amrit Kaur juga pernah duduk di kursi yang sama.

Dengan posisinya sebagai Presiden Majelis Kesehatan Dunia, maka Sulianti Saroso berhak menentukan siapa Direktur Jenderal (Dirjen) WHO.

Melihat fakta dan dedikasi Sulianti Saroso kepada negeri ini, ingin rasanya seperti Sul yang namanya harum dan dikenang oleh seluruh warga negara.

Kamu juga bisa seperti itu, tekuni satu bidang yang kamu sukai, niscaya kesuksesan hanyalah masalah waktu.

Kamu bisa ikut membangun negeri ini dengan membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya. Mulailah usaha secara mandiri. Butuh modal?

Kamu bisa akses UangTeman untuk mendapatkan fasilitas kredit digital yang cepat dan transparan.

Ingat, memulai bisnis tidak harus menunggu modal besar. Terpenting, ide bisnis tersebut harus dimulai terlebih dahulu.

Tentang Penulis

Gito

Veritas Vos Liberabit