Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

Mengenal Yusril Ihza Mahendra, dari Pejabat, Advokat hingga Pecinta Seni

by Miftahul Khoer on 6 November, 2018

Tak ada angin tak ada hujan, sebuah kabar datang menggemparkan Tanah Air. Seorang advokat dan politikus ternama, Yusril Ihza Mahendra memutuskan untuk menerima tawaran menjadi pengacara kubu Jokowi-Ma’ruf secara gratis tanpa bayaran. Padahal selama ini ia paling getol mengkritik pemerintahan Jokowi. Mari kita simak sepak terjang Yusril selama ini.

Bukan kali pertama seorang Yusril menjadi pembela pasangan calon presiden. Pada pemilu 2014, Yusril juga pernah membela pasangan Prabowo-Hatta. Jauh, sebelum ia menjadi advokat, karir Yusril sudah malang melintang di berbagai bidang yang ia geluti.

Namun, kali ini CekAja tidak akan membahas tentang langkah politiknya dengan kubu Jokowi-Ma’ruf, melainkan akan membahas tentang perjalanan karirnya. Yuk simak!

Krtitikus masuk Istana

Tahun 1970-an, saat menjadi mahasiswa, Yusril merupakan aktivis keras. Ia kerap turun ke jalan untuk berunjuk rasa menantang kebijakan-kebijakan Presiden Soeharto yang dinilai merugikan rakyat. Tak jarang ia berurusan dengan aparat karena aksinya yang keras mengkritik Soeharto.

Tak hanya turun ke jalan, Yusril juga aktif mengkritik melalui tulisan-tulisannya di berbagai media. Tulisan-tulisannya itulah yang menjadi awal gerbang masuk Istana sebagai staf di Sekretariat Negara. Walau berat hati karena sebelumnya menjadi seorang pengkritik, akhirnya ia menerima tawaran menjadi ‘orang’ Istana.

Di sinilah, karir politiknya dimulai. Jika dulu ia merasa kesulitan memberikan gagasan-gagasan kepada pemerintah, maka sejak bergabung di Istana, ia merasa mudah untuk memberikan ide-ide tentang pemerintahan.

Banner CekAja

Menteri tiga kali

Sejak Soeharto dan Habibie lengser menjadi presiden. Yusril pernah menjadi calon presiden pada 1999. Saat itu, lawanya adalah Megawati Soekarnoputri dan Gusdur. Namun, Yusril megundurkan diri. Akhirnya, Gusdurlah yang terpilih menjadi presiden.

Pada pemerintahan Gusdur, Yusril menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia sejak Oktober 1999 hingga Februari 2001. Yusril dicopot Gusdur karena dinilai sebagai menteri yang tak nurut presiden.

Sejak Gusdur lengser, Megawati Soekarnoputri naik menjadi presiden. Yusril tetap dipercaya sebagai menteri yakni Menteri Hukum dan Perundang-undangan. Karirnya itu dimulai sejak Agustus 2001 hingga Oktober 2004.

Pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Yusril juga didaulat menjadi menteri yakni menteri Sekretaris Negara. Namun, jabatan menterinya itu hanya berselang pada Oktober 2004 hingga Mei 2007 karena ia dicopot oleh Presiden SBY.

(Baca juga: Beda Jaket dan Motor Presiden Jokowi vs Dilan, Yuk Cek!)
Terseok-seok

Karir moncer seorang Yusril sempat tiba-tiba redup ketika ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi Sisminbakum. Dari status tersangkanya itu, karirnya seakan tertutup. Ekonominya pun ikut-ikutan terseok-seok. Rumah, apartemen, deposito yang selama ini menjadi asetnya ludes.

Bahkan, ia sempat pernah pinjam uang sana-sini untuk mencukupi kehidupan keluarganya saat itu. Ia merasa status tersangka korupsi merupakan sebuah pukulan telak yang membuatnya babak belur, terkucilkan dan membuat malu keluarga.

(Baca juga: Tak Harus Jadi Selebgram, Ini Cara Lain Dapatkan Uang di Instagram)
Menjungkalkan ‘musuh’

Bukan Yusril namanya jika mengaku kalah sebelum bertanding. Setelah diterpa kesulitan masalah ekonomi dan karir yang ambruk gara-gara kasus tersangka korupsi Sisminbakum pada 2010 lalu, akhirnya ia bisa membuktikan siapa yang menang.

Jaksa Agung Hendarman Supandji yang saat itu ngotot menjadikan status tersangka pada Yusril malah terjungkal dengan gugatan keabsahan jabatannya.

Yusril saat itu mengajukan uji materi Undang-Undang Kejaksaan ke MK. Hendarman dinilai tidak sah menjabat sebagai Jaksa Agung karena Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I sudah habis masanya.

(Baca juga: Bos Go-Jek Hingga Rich Brian Masuk Daftar Tokoh Inspiratif Asia)
Penulis pidato tiga presiden

Sejak bergabung di Istana era Soeharto, Yusril didaulat sebagai penulis pidato. Kesempatan itulah yang membuat dirinya mampu menyelami alam pikiran Soeharto. Tak jarang ia memasukan gagasan pribadinya baik tentang pemerintahan, kenegaraan hingga tentang keislaman ke dalam pidato Soeharto tersebut.

Bukan hanya Soeharto, Yusril juga dipercaya menjadi penulis pidato Presiden Habibie. Bahkan, ia juga menjadi penulis pidatio Presiden SBY. Tercatat ada ratusan pidato yang ditulis Yusril untuk Soeharto, Habibie dan SBY.

Banner Kartu Kredit Oktober 2018

Banyak hobi

Orang mengenal Yusril sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang dan advokat. Namun, banyak yang belum tahu tentang kebiasaan dan hobi pria kelahiran Pulau Belitung 5 Februari 1956 ini.

Selain sibuk dengan kegiatan partai dan kantor hukumnya, Yusril adalah seorang pecinta lukisan. Ia merupakan kolektor lukisan-lukisan old master. Darah seninya pun cukup tinggi. Sastra, filsafat hingga film.

Di dunia film, Yusril pernah menyabet penghargaan sebagai aktor terbaik di Madrid International Film Festival 2014. Ia terpilih sebagai aktor utama terbaik di Film Berbahasa Asing lewat dalam film Laksamana Cheng Ho.

Selain itu, darah seni arsitekturnya juga tinggi. Maka jangan heran, bangunan rumahnya di Jakarta sebagian arsitekturnya merupakan gagasan yang ia rancang. Dan perlu diketahui, Yusrill merupakan salah satu pejabat pemerintah yang aktif ngeblog sejak era 2000-an.

Nah, itulah sekilas mengenal sosok Yusril yang dikenal sebagai pendekar hukum, politikus dan pecinta seni. Kalau Anda mau berkarir sebagai apa?

Tentang Penulis

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.