Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Mengulik Cara Kerja dan Bisnis Buzzer Media Sosial

by Sindhi Aderianti on 4 Oktober, 2019

Pernah melihat akun media sosial yang kerap mengelu-elukan tokoh politik? Bahkan tak ragu menebar hoax ‘lawan’ sang panutan. Bisa jadi akun-akun tersebut adalah buzzer politik.

Bisnis online gagal - CekAja.com

Secara harfiah, kata buzzer diartikan sebagai pendengung. Jika mengacu pada suatu kegiatan, kurang lebih tugasnya adalah mendengungkan informasi sampai heboh, lalu netizen pun mempercayai hal tersebut.

Tugas utama seorang buzzer memang begitu. Bahkan, aksi mereka dinilai bisa ikut mengangkat isu-isu panas untuk membesarkan branding tokoh politik yang didukung.

Lambat laun, buzzer pun memiliki peran besar untuk menggiring opini publik, salah satunya menggunakan media sosial. Dengan ‘kekuatannya’ tersebut, barisan buzzer kini ampuh dijadikan ujung tombak politikus untuk meraih kemenangan.

Cara Kerja Buzzer Politik

Fenomena buzzer kini tak bisa dipisahkan dari kontestasi politik di Indonesia. Antara buzzer dan kubu politik berlaku simbiosis mutualisme, namun caranya saja yang kadang meresahkan publik dengan hoax atau informasi ‘berat sebelah’. Narasinya benar-benar tak jauh dari kesan propaganda.

Buzzer umumnya dibuat berkelompook. Tim ini memiliki 200 akun media sosial. Beberapa di antara mereka ditugaskan untuk mendorong isu-isu pesanan demi menyerang atau bertahan lewat media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram.

Agar trending, Twitter setidaknya butuh seribu cuitan dalam waktu intens singkat dari seluruh Indonesia. Lalu disiasati juga pakai tagging area supaya bisa tembus trending topic nasional, tidak hanya di provinsi.

(Baca juga: Kenapa Harus Asing Kalau Banyak Konsultan Politik Dalam Negeri)

Kegiatan buzzing memiliki dua aspek penting, yakni pesan yang ingin disampaikan dan cara agar pesan itu tersebar seluas-luasnya. Awalnya mereka akan membuat materi terlebih dulu. Kemudian jika sudah ‘matang’, serempak akan disebar ke media sosial.

Dalam beraksi, ada tiga model yang dilakukan buzzer. Pertama, menggunakan BOT, yaitu perangkat lunak atau aplikasi untuk menjalankan komando secara otomatis di internet, termasuk memposting hal berbau politik yang memihak.

Kedua, pakai akun-akun palsu. Cirinya memiliki jumlah post, followers, dan following yang sedikit.  Ketiga, meminta banyak akun untuk retweet atau like postingannya.

Ulah Buzzer yang Terbongkar

Baru-baru ini, ulah buzzer penebar hoax ada yang terbongkar. Memanfaatkan timing saat anak-anak STM ikut berdemonstrasi,  dibuatlah ‘skenario’ lewat WAG (WhatsApp Group) seolah mereka dibayar untuk melakukan aksi unjuk rasa tersebut.

Mulanya akun Twitter @OneMurtadha mengunggah screenshot WAG anak-anak STM, dengan sepenggal caption menghebohkan. Chat palsu itu berisi sejumlah demonstran yang menagih uang bayaran demo. Namun bila diperhatikan, banyak kejanggalan di dalamnya. Seperti nomor-nomor provider ‘Si Merah’ yang jelas bukan pasarnya anak sekolah.

Akun SJW (Social Justice Warrior) @opposite6890 pun berinisiatif membongkar nomor-nomor yang ada di WAG tersebut. Ternyata, semua nomor telepon adalah milik anggota polisi. Usai terbongkar habis, postingan yang buzzer yang sempat menyebarkan hoax itu pun tiba-tiba dihapus.

Bedanya dengan Influencer

Buzzer memiliki kelas yang berbeda dengan influencer. Influencer singkatnya adalah seseorang yang dapat memberi pengaruh kepada banyak orang, melalui tulisan, gambar dan apa yang dia lakukan. Tiap postingan mengandung value bagi pengikutnya.

Sedangkan tugas buzzer lebih sederhana, menyebarkan informasi seluas-luasnya. Maka dari itu, tarif yang dipatok seorang buzzer pun tak semahal tarif influencer. Seba buzzer cenderung bekerja dengan target kuantitas, sementara influencer lebih mengedepankan kualitas.

(Baca juga: Intip Karier Para Politikus Muda yang Mengikuti Jejak Ortu, Yuk!)

Namun jika kedua jasa ini dipergunakan, hasil yang didapat akan lebih maksimal. Informasi berhasil tersebar, publik pun semakin percaya karena adanya testimoni terkait berita tersebut dari seorang influencer.

Perlu Ditertibkan 

Pekerjaan sebagai buzzer, hingga saat ini belum ada peraturan resmi yang mengikat. Jadi memang bebas-bebas saja dilakukan. Akan tetapi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menilai, para buzzer dari kubu manapun perlu lebih ditertibkan. Buzzer sebaiknya juga tidak menggunakan kalimat yang menyerang lawan politik idolanya.

Memang sulit mempercayai informasi yang tersebar di dunia maya. Terlebih setelah fenomena buzzer semakin menyeruak. Namun  urusan pengajuan KTA, CekAja.com sudah pasti terpercaya. Yuk, jadi pengusaha dengan memanfaatkan fasilitas tersebut!

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.