Membuka akses finansial untuk jutaan masyarakat Indonesia

24 sec. read

Menilik Perbedaan KRL, LRT, dan MRT

by Miftahul Khoer on 31 Januari, 2019

Sistem transportasi di Indonesia berkembang pesat. Kita bisa melihat lompatan kemajuan sistem transportasi berbasis rel seperti commuter line (KRL), light rail transit (LRT), dan mass rapid transit (MRT) yang tengah digenjot pemerintah.

Ilustrasi Stabilitas Keuangan

Setidaknya hal ini bisa dilihat di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodetabek), dan Palembang. Namun, apakah ketiga alat transportasi berbasis rel ini memiliki perbedaan?

Ya, tentu saja, meski sama-sama beroperasi di jalur rel, tetapi ketiganya memilik perbedaan yang cukup mencolok. Apa saja perbedaannya? Yuk langsung cek aja.

Pembangunan

KRL

Moda transportasi berbasis rel paling tua di Indonesia adalah KRL. Kereta listrik satu ini telah hadir sejak 1925 di wilayah Jakarta dan kini sudah mulai digunakan untuk beberapa wilayah Jabodetabek.

Pada 2013, KRL menerapkan sistem tiket elektronik atau e-ticketing dan sistem tarif progresif. Pengembangan ini menjadikan KRL sebagai transportasi yang modern dan dinamis di wilayah Jabodetabek.

Pada September 2017, KRL yang sebelumnya berada di bawah naungan PT KAI Commuter Jabodetabek telah berganti nama jadi PT Kereta Commuter Indonesia sebagai anak usaha dari PT Kereta Api Indonesia (KAI). Adapun penumpang harian KRL mencapai sekitar 1 juta dengan melayani sekitar 79 stasiun di seluruh Jabodetabek dan sekitarnya dengan jarak tempuh hingga 418,5 kilometer.

LRT Jabodebek

Transportasi berbasis rel satu ini memang sedang hangat dibicarakan. Pembangunannya yang menelan anggaran puluhan triliun rupiah menuai pro dan kontra. Memang, LRT Jabodebek ini belum beroperasi seperti halnya KRL. Sebab, pembangunan LRT ini baru bisa selesai pada tahun ini.

LRT Jabodebek merupakan proyek transportasi yang dibangun guna mengurangi kepadatan kendaraan yang masuk Jakarta dari kota-kota satelit disekitarnya. Sehingga meminimalisir kemacetan di tol Jakarta – Cikampek (Japek) dan Jagorawi.

Dalam laman resminya disebutkan, LRT Jabodebek tahap I terdiri dari 3 lintas layanan yaitu Lintas layanan 1 Cawang-Sibubur, Lintas Layanan 2 Cawang-Kuningan-Dukuh Atas, Lintas Layanan 3 Cawang – Bekasi Timur. LRT Jabodebek tahap II terdiri dari 3 lintas layanan yaitu Lintas Layanan 4 Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, Lintas Layanan 5 Cibubur- Bogor, dan Lintas Layanan 6 Palmerah-Grogol

Sementara letak stasiun LRT Jabodebek tahap I : Untuk lintas layanan Cawang – Kuningan-Dukuh Atas memiliki panjang 11,5 km, dengan tujuh lokasi stasiun pemberhentian. Enam stasiun pemberhentian tersebut antara lain, Ciliwung, Cikoko, Kuningan, Rasuna Said, Setiabudi, dan Dukuh Atas.

Adapun, lintas layanan Cawang-Bekasi Timur memiliki panjang 18,5 km dan memiliki tujuh lokasi stasiun. Adapun lokasi stasiun tersebut berada di Halim, Jatibening Baru, Cikunir1, Cikunir2, Bekasi Barat, dan Jatimulya (Bekasi Timur).

Selain LRT Jabodebek, ada juga LRT Palembang dan LRT Jakarta dengan rute Velodrome – Kelapa Gading yang dikerjakan oleh BUMD Pemprov DKI yakni Jakpro yang dijadwalkan beroperasi pada awal tahun ini. Sebelumnya, LRT Jakarta ini dijadwalkan bisa digunakan pada momentum Asian Games 2018 lalu.

MRT

Mulanya, MRT Jakarta rencananya dibangun pada 1985, namun karena saat itu dinilai belum dinyatakan sebagai proyek nasional maka pembangunannya tertunda. Namun pada tahun 2005, pemerintah menjadikan MRT sebagai proyek nasional sehingga pemeirntah pusat dan DKI mulai bergerak dan saling berbagi tanggung jawab hingga mencari pendanaan yang disambut oleh Pemerintah Jepang yang bersedia memberikan pinjaman.

Kesepakatan pun terjadi pada 28 November 2006 antara Indonesia dan Jepang melalui Japan Bank for International Cooperation (JIBC) untuk pendanaan proyek MRT tersebut. JBIC kemudian melakukan merger dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). JICA bertindak sebagai tim penilai dari JBIC selaku pemberi pinjaman.

Pembangunan infrastruktur Proyek MRT Jakarta ini dimulai dengan pembangunan jalur MRT Fase I sepanjang 16 kilometer dari Terminal Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia yang memiliki 13 stasiun dan 1 Depo.

Sementara Fase II dibangun untuk rute Bundaran HI – Kampung Bandan sepanjang 8.1 km. Tahap II akan mulai dibangun ketika tahap I beroperasi dan ditargetkan beroperasi pada tahun 2020. Studi kelayakan untuk tahap ini sudah selesai.

(Baca juga: 5 Peluang Bisnis Paling Menjanjikan di Kawasan Stasiun KRL)

Kapasitas penumpang

KRL

Harus diakui bahwa selama ini moda transportasi berbasis rel paling banyak digunakan adalah KRL. Perseroan menargetkan setiap harinya penumpang yang menggunakan KRL mencapai 1,2 juta. KRL ini memiliki rangkaian 8-10 gerbong dengan kapasitas mencapai 2.000 orang setiap unitnya. Adapun perlintasan yang digunakan adalah jalur layang dan atas tanah.

LRT

Beda dengan KRL, rangkaian LRT setiap kali berangkat memuat 2-4 gerbong dengan kapasitas total mencapai 600 penumpang yang ditargetkan mencapai 360.000 penumpang perharinya. Untuk lintasan, LRT ini menggunakan jalur layang secara keseluruhan.

MRT

Sementara itu, MRT memiliki rangkaian 6 gerbong satu kali jalan dengan kapasitas 1,9 ribu penumpang. Adapun target penumpang per harinya dipatok mencapai 173,4 ribu penumpang di lintasan yang digunakan jalur layang dan bawah tanah.

(Baca juga: Waktu Perjalanan KRL Bertambah, Pertimbangkan Kendaraan Pribadi)

Tarif dan waktu operasional

KRL

Moda transportasi KRL yang sudah beroperasi puluhan tahun lalu ini telah melakukan beberapa kali perubahan tarif. Sejak Oktober 2016, tarif KRL dari 1-25 kilometer pertama dipatok Rp3.000 dan 10 kilometer berikutnya harus menambah Rp1.000. Adapun saat ini diwacanakan adanya tarif premium yang dipatok tak lebih dari Rp20.000.

LRT

Pemerintah telah menjadwalkan LRT akan beroperasi pada pertengahan 2019. Adapun tarif untuk LRT diwacanakan mencapai Rp12.000 dari tarif komersialnya Rp25.000. Besaran tarif tersebut telah disubsidi pemerintah sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi LRT ini.

MRT

Untuk tarif MRT, Pemerintah Provinsi DKI masih membahas terkait besarannya. Rencananya besaran tarif ini akan diumumkan pada Februari mendatang. Namun, sempat mengemuka besaran tarif untuk MRT ini mencapai Rp8.500. Adapun waktu operasional MRT akan dimulai pada Maret 2019 ini.

Nah, itulah beberapa perbedaan dari KRL, LRT dan MRT sebagai moda transportasi yang akan banyak digunakan dan menjadi favorit masyarakat khususnya Jabodetabek.

Tentang Penulis

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.

×

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami