Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Mereka Sebelumnya Keluarga Kaya di Dunia, Tapi Akhirnya Jatuh Miskin

by Arfan Wiraguna on 15 Oktober, 2015

Bayangkan kalau kita telah bersusah payah mengumpulkan uang dalam jangka waktu lama, namun dihabiskan oleh anak cucu dengan sekejap. Mustahil? Pada kenyataannya, peristiwa ini benar-benar terjadi dan menimpa beberapa keluarga kaya dunia.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan harta keluarga hilang dalam sekejap. Beberapa diantaranya adalah kesalahan berinvestasi, utang menumpuk dan bahkan hobi berbelanja berlebihan. Penasaran siapa saja keluarga kaya dunia yang kehilangan kekayaannya dalam sekejap? Seperti dikutip dari artikel “5 wealthy families who lost their fortunes” yang dimuat secara online oleh situs Bankrate, berikut ini adalah penjelasannya.

The Vanderbilts

Pada saat ia meninggal pada tahun 1877, Cornelius “Commodore” Vanderbilt dilaporkan memiliki kekayaan senilai US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,36 triliun, berdasarkan data dari Forbes. Dia mendapatkan kekayaannya dari keuntungan perusahaan kapal uap dan kereta api yang didirikannya pada tahun 1810.

(Baca juga: Trik Mudah Dapatkan Tiket Pesawat Murah)

Modal awal untuk mendirikan perusahaan itu adalah sejumlah US$ 100 atau sekitar Rp 1,4 juta yang ia dapatkan melalui pinjaman dari ibunya. Sayangnya, enam generasi kemudian, perusahaan yang ia dirikan ini tidak lagi dikelola oleh keluarganya.

Wartawan CNN Anderson Cooper, keturunan generasi ke-6 keluarga ini, menjelaskan kekayaan keluarga itu dalam sebuah acara radio Howard Stern bahwa dirinya tidak lagi menerima dana perwalian layaknya anak-anak yang berasal dari keluarga kaya lainnya. Apa yang tersisa dari keluarganya sekarang adalah lembaga filantropi, termasuk Vanderbilt University.

Widget TRV Insurance

The Hartfords

Huntington Hartford, pewaris “The Great Atlantic & Pacific Tea Company”, sebuah perusahaan supermarket dan toko minuman keras yang lebih dikenal dengan nama A&P, kehilangan kekayaannya akibat kesalahan berinvestasi dan gaya hidup sebagai seorang playboy yang dijalaninya.

Sebagai cucu dari pendiri perusahaan ini, Hartford menerima pendapatan tahunan sebesar US$ 1,5 juta atau sekitar Rp 20,44 miliar, berdasarkan data dari The New York Times. Pada tahun 1940, Hartford yang termasuk dalam daftar keluarga terkaya di Amerika Serikat, berdasarkan rilis dari Securities and Exchange Commission.

Beberapa tahun kemudian, Hartford menyatakan dirinya bangkrut. Setelah itu, ia memutuskan untuk pindah ke Bahama pada tahun 2004. Ia tinggal disana hingga dirinya tutup usia pada umur 97 tahun di tahun 2008.

The Kluges

Setelah 9 tahun menikah, Patricia Kluge bercerai dengan suaminya John Kluge—seorang pendiri Metromedia, dan menerima properti seluas 200 acre (sekitar 81 hektar) dan uang sebesar US$ 1 juta (Rp 13,5 triliun) per tahun yang tercakup dalam perjanjian perceraiannya, berdasarkan data dari Forbes.

(Baca juga: Biaya Pernikahan Selebriti yang Bikin “Sakit Hati”)

Sekitar 20 tahun kemudian, yaitu pada 2011, ia bangkrut akibat dari kesalahan berinvestasi dalam kebun anggur yang terletak dekat rumahnya. Selain itu, ia juga memiliki utang bertumpuk yang sebelumnya diajukan untuk memperluas bisnisnya.

Setelah properti yang dijaminkannya diambil alih oleh pihak berwenang, taipan real estate Donald Trump membeli kebun anggur miliknya itu seharga US$ 6,2 juta atau sekitar Rp 84 miliar, berdasarkan data dari Fox News.

The Strohs

Pendiri Stroh Brewery Company, Bernhard Stroh, tiba di Amerika Serikat dari Jerman pada tahun 1850. Dengan modal awal sebesar US$ 150 (sekitar Rp 2 juta) dan resep keluarga dalam membuat bir, perusahaan yang didirikan Stroh itu berhasil dibesarkan oleh anak-anaknya.

Pada tahun 1980-an, keluarga Stroh termasuk dalam daftar tiga perusahaan pembuatan bir terbesar di negara itu. Bahkan, berdasarkan data dari Forbes, kekayaan keluarganya pada saat itu mencapai US$ 700 juta atau sekitar Rp 9,5 triliun. Pada hari ini, tepatnya 5 generasi kemudian, perusahaan itu sudah tiada akibat dari penumpukan utang, persaingan ketat dan telat mengambil peluang.

The Pulitzer

Cucu dari penerbit besar Joseph Pulitzer, Peter Pulitzer mengalami kesulitan finansial yang parah, sampai-sampai Tim Boberg—suami dari mantan istri Peter, Roxanne Pulitzer—perlu turun tangan untuk membantu menutupi utang-utangnya.

(Baca juga: Tanda Tangan Orang-orang Ini Membuat Negara-negara Pengutang Bisa Bermodal)

Menurut Forbes, 800 acre atau sekitar 324 hektar kebun jeruk milik Peter dan dua anak kembarnya berada dalam kondisi akan disita setelah terkena wabah kanker jeruk. Boberg menalangi dan mengambil alih saham senilai US$ 220 ribu atau sekitar Rp 3 miliar atas kebun itu. Padahal sebelumnya, pada tahun 1982, Peter masih memiliki kekayaan bersih senilai US$ 25 juta atau sekitar Rp 340 miliar yang tercantum dalam dokumen perceraiannya.

Begitu banyaknya kesalahan berinvestasi yang dilakukan oleh cucu pendiri perusahaan di atas ini dapat menjadi pembelajaran dan pengalaman yang berharga bagi kita. Kadang sebuah kesalahan berinvestasi terjadi bukan hanya akibat dari faktor iklim dan lingkungan bisnis yang buruk, tetapi juga disebabkan oleh ketidaktahuan kita untuk berinvestasi dengan tepat.

Pada akhirnya, banyak orang yang justru mencari jalan pintas dan berakhir dengan kegagalan. Oleh karena itu, marilah kita mulai menjadi pribadi yang kritis dalam menyikapi investasi dan keuangan. 

Tentang Penulis

Writer & Coffe Lover - Finansial dan ekonomi adalah makanan sehari-hari.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami