8 Mitos Seputar Vaksinasi Covid-19, Jangan Termakan Hoaks!

Semenjak program vaksinasi Covid-19 dijalankan, tak sedikit dari masyarakat yang ‘termakan’ mitos seputar vaksinasi itu sendiri. Dan berikut ulasan lengkapnya hingga fakta mengenai vaksinasi.

8 Mitos Seputar Vaksinasi Covid-19, Jangan Termakan Hoaks!

Kehadiran program vaksinasi Covid-19 tak jarang menuai pro dan kontra di masyarakat. Beberapa menganggap bahwa, adanya program ini tentu bisa mempercepat kekebalan massal atau herd immunity.

Namun, tak sedikit pula yang menilai bahwa program vaksinasi ini hanya akal-akalan dan justru berbahaya bagi kesehatan manusia.

Nah, agar kamu tak termakan hoaks yang beredar, bagaimana jika kita mengulas tuntas mengenai mitos-mitos seputar vaksinasi yang saat ini memang tengah marak dibicarakan?

Tanpa berlama-lama lagi, yuk langsung saja cek ulasannya di bawah ini.

Deretan Mitos Seputar Vaksinasi Covid-19

1. Vaksinasi bikin kebal terhadap virus Corona

Mitos seputar vaksinasi yang pertama dan pastinya sudah sering kamu dengar adalah mengenai fungsi dari vaksin tersebut.

Ya, banyak orang yang menganggap bahwa vaksinasi ini dapat membuat tubuh menjadi kebal terhadap penyakit menular seperti Covid-19.

Padahal nyatanya, anggapan tersebut masih jauh dari kata benar. Vaksin yang disuntikkan bukan untuki membuat tubuh kebal lho.

Namun, vaksin fungsinya untuk memicu pembentukan daya tahan tubuh, sehingga risiko terpapar virus seperti Corona bisa diminimalisir.

Sebagai contoh, jika kamu mengalami gejala Covid-19 tapi sebelumnya telah menerima dua dosis vaksin, maka gejala yang muncul hanya bersifat ringan dan tidak perlu dirawat inap.

(Baca Juga: 10 Varian Baru Covid-19 yang Perlu Diketahui)

2. Mantan pasien Covid-19 tidak boleh divaksin

Tak sedikit dari penyintas Corona yang masih meragukan program vaksinasi untuk dirinya.
Namun, mitos seputar vaksinasi yang satu ini, yaitu mengenai boleh tidaknya mantan pasien Covid-19 divaksin ternyata hanya persepsi belaka.

Memang, sebelum program vaksinasi ini dilaksanakan, banyak yang menyarankan bahwa mantan pasien virus Corona baiknya tidak divaksin sebab telah memiliki antibodi sendiri.

Namun seiring waktu berjalan, para ahli mengungkap bahwa antibodi yang dimiliki mantan pasien Covid-19 tidak bertahan lama. Sehingga, risiko terinfeksi kembali hingga dirawat inap masih terbuka lebar.

Atas dasar itulah, para ahli menyarankan agar mereka yang sempat terpapar virus Corona bisa menerima vaksinasi usai tiga bulan sembuh dari penyakit menular tersebut.

3. Vaksin dapat mengubah DNA seseorang

Mitos seputar vaksinasi berikutnya adalah mengenai cara kerja vaksin tersebut yang ‘katanya’ dapat mengubah DNA manusia.

Anggapan itu tidaklah benar ya. Bahkan, hal tersebut juga sempat dibahas di situs Corona.Jakarta, dimana sebenarnya vaksin yang disuntikkan saat ini tidak mempengaruhi DNA.

Penjabaran lengkapnya seperti ini, jadi jenis vaksin Covid-19 yang telah diizinkan untuk dipakai di seluruh dunia, salah satunya adalah vaksin messenger RNA.

Nah, vaksin RNA atau mRNA ini menggunakan teknologi genetik untuk memicu respon imun. mRNA dari vaksin Covid-19 sendiri dapat dipastikan tidak pernah memasuki inti sel tempat DNA tersimpan.

Sebaliknya, vaksin jenis mRNA hanya bekerja dengan pertahanan alami tubuh untuk meningkatkan kekebalan sendiri terhadap suatu penyakit.

4. Vaksin membuat seseorang terinfeksi

Mitos seputar vaksinasi yang selanjutnya adalah mengenai anggapan bahwa vaksin dapat membuat seseorang terinfeksi virus Corona.

Faktanya tidak. Karena, vaksin yang disuntikkan saat ini tidak mengandung virus hidup melainkan hanya sekumpulan inactivated virus.

Dengan vaksinasi, otomatis sistem kekebalan tubuh ‘baru’ akan terbentuk dan mudah mengenali serta melawan virus penyebab Covid-19.

Jika saat vaksinasi ternyata kamu positif Corona, kemungkinannya karena kamu telah terpapar virus tersebut lebih dulu namun masuk dalam kategori OTG.

Lalu kemungkinan lainnya adalah karena protokol kesehatan yang diterapkan belum sesuai dengan ketentuan WHO.

Sebab, setelah menerima dua dosis vaksin yang sama, kamu tetap harus menerapkan protokol kesehatan super ketat dan bukan malah melonggarkannya hanya karena anggapan telah ‘kebal’.

5. Vaksinasi tidak aman dilakukan

Mitos seputar vaksinasi berikutnya yang ramai dibicarakan juga adalah mengenai aman tidaknya vaksinasi yang dilakukan.

Percayalah, anggapan tersebut hanyalah mitos belaka yang diciptakan oleh orang-orang yang memang anti, atau bahkan mengganggap bahwa virus Corona ini hanyalah konspirasi.

Memang, bisa dibilang bahwa peredaran vaksin saat ini tergolong cepat. Padahal normalnya, pembuatan vaksin untuk menangkal paparan penyakit baru itu kurang lebih 10-15 tahun.

Hanya saja, melihat situasi saat ini yang tidak terkontrol akibat virus Corona, sejumlah negara akhirnya tergerak untuk membuat vaksin sendiri meski dalam hitungan belasan bulan.

Nah, vaksin yang diciptakan saat ini sudah terbukti aman kok, bahkan telah melalui uji klinis tahap akhir dan digunakan di beberapa negara, tak terkecuali Indonesia.

(Baca Juga: 7 Cara Dapatkan Obat Covid Gratis untuk Pasien Isoman)

6. Tidak perlu menggunakan masker setelah vaksin

Siapa yang masih percaya akan mitos seputar vaksin ini? Semoga saja bukan kamu salah satu diantaranya ya.

Nah, seperti yang sebelumnya dijelaskan, vaksinasi Covid-19 yang dilakukan saat ini bukan untuk menciptakan kekebalan tubuh pada virus tersebut. Melainkan hanya untuk meminimalisir risiko terpapar dengan gejala berat.

Jadi, kalaupun kamu telah menerima dua dosis vaksin khusus Covid-19, baiknya tetap menerapkan protokol kesehatan 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Enggak sulit kok untuk menerapkan protokol kesehatan tersebut, dibandingkan kamu harus merasakan virus Corona meski telah divaksinasi.

7. Vaksin mengandung chip

Mitos seputar vaksinasi yang lainnya dan memang sempat mengguncang dunia maya adalah vaksin Sinovac yang katanya memiliki chip.

Ya, kabar tersebut sempat ramai dibicarakan di dunia maya oleh beberapa netizen, bahkan tak hanya di Indonesia melainkan Amerika juga.

Sontak, kabar mengenai adanya chip dalam vaksin Sinovac ini langsung dikaitkan dengan pendiri Microsoft, Bill Gates, di mana ia dituduh turut berkonspirasi dalam vaksin virus Corona.

Padahal faktanya, dalam vaksin Sinovac tidak ditemukan sama sekali microchip seperti anggapan kebanyakan warga net.

Malahan, vaksin Sinovac ini berisi sekumpulan inactivated virus untuk merangsang antibodi yang nantinya melawan virus Corona.

8. Air kelapa sebagai penetral usai vaksin

Mitos seputar vaksinasi yang terakhir adalah mengenai fungsi air kelapa sebagai penetral usai vaksin. Hal ini ternyata hanya berupa anggapan saja.

Malahan, menurut ahli medis, air kelapa tidak bisa digunakan untuk menetralisasi vaksin. Sebab, vaksin bukanlah racun melainkan hanya sekumpulan virus yang telah dilemahkan untuk membentuk antibodi pada tubuh.

Anggapan lainnya yang muncul dari para ahli setelah adanya mitos mengenai air kelapa adalah minuman ini tidak memiliki keterkaitan medis.

Singkatnya, vaksin dilakukan dengan cara disuntik pada lengan, sementara air kepala diminum dan masuk dalam saluran pencernaan. Jadi, untuk kedua hal ini bertemu dalam sistem tubuh kecil kemungkinannya.

Cari Asuransi Kesehatan dengan Premi Hemat dan Manfaat Lengkap?

Nah, itu dia beberapa mitos seputar vaksinasi yang perlu kamu pahami. Ingat, di masa pandemi seperti sekarang yang mana virus Corona semakin menggila, baiknya kamu tetap mematuhi protokol kesehatan dan jangan lupa untuk ikut dalam program vaksinasi.

Selain itu, tak ada salahnya juga untuk memiliki asuransi kesehatan sebagai bagian dari perlindungan tambahan.

Asuransi kesehatan tentu memiliki cakupan perlindungan yang luas dengan rekanan rumah sakit tersedia di Indonesia maupun luar negeri.

Untuk kamu yang ingin punya asuransi kesehatan, bisa kok mengajukan lewat CekAja.com yang pasti memberikan manfaat perlindungan menyeluruh, dengan premi yang sangat terjangkau.

Proses pengajuannya pun mudah, bahkan kamu dapat melakukannya kapan saja dan dimana saja hanya bermodalkan gadget.

Untuk informasi lebih lanjut, yuk langsung klik tabel pengajuan asuransi kesehatan di bawah ini.