Naik MRT Jangan Norak, Patuhi 7 Aturan Ini

4 min. membaca Oleh Sindhi Aderianti on

Setelah menanti kurang lebih 34 tahun, sistem transportasi mass rapid transit (MRT) akhirnya resmi beroperasi kemarin (25/3/19).

Baru satu fase yang sudah bisa digunakan secara umum, yakni rute Bundaran HI ke Lebak Bulus dan sebaliknya.

Sebenarnya Indonesia tergolong lambat dalam hal ini, sebab negara-negara tetangga telah lebih dulu memiliki kereta tersebut. Ambil contoh, MRT Singapura yang beroperasi sejak tahun 1987 silam.

PT MRT Jakarta sendiri baru terbentuk pada tanggal 17 Juni 2008 dengan mayoritas saham dimiliki Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta.

Meski demikian, keterlambatan itu sama sekali tidak menyurutkan antusiasme masyarakat dalam menyambut kehadiran MRT. Terbukti dari jumlah pengunjung yang bertumpah ruah semenjak masa uji coba berlangsung.

Tarif Resmi MRT

Berdasarkan rencana, MRT Jakarta akan mulai beroperasi secara komersial pada 1 April 2019. Usulan tarifnya sempat melalui perdebatan yang cukup panjang.

Dari Rp 18.000, Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta menyarankan pemerintah untuk mensubsidi sebesar Rp 8.000, sehingga tarif MRT adalah Rp 10.000. Usai ‘ketuk palu’, akhirnya tarif MRT ditentukan menjadi Rp 8.500/10 kilometer.

Adapun tarif ini terdiri atas dua komponen, yakni boarding fee yang dipatok sebesar Rp 1.500 ditambah unit price per kilometer yang dikalikan jarak.

Subsidi akan disalurkan ke penumpang MRT yang diproyeksi sebanyak 65.000 orang/hari sepanjang tahun 2019. Dengan bertambahnya jumlah penumpang, maka subsidi nantinya bisa ditekan.

(Baca juga: Menilik Perbedaan KRL, LRT, dan MRT)

5 Aturan yang Wajib Dipatuhi Ketika Naik MRT

Pada minggu awal uji coba MRT, penumpang masih terlihat begitu tertib. Hampir tak ada yang membedakan suasananya dengan di Singapura.

Namun sehari menjelang peresmian, perilaku beberapa orang justru mulai kurang terkontrol.

Ada rombongan yang sengaja makan nasi bungkus sambil bersila di dalam stasiun, sampah tampak bertebaran, hingga penumpang menjadikan pegangan tangan dalam gerbong untuk menggandul dengan kaki terangkat.

Jangan biarkan perilaku tersebut menjadi kebiasaan yang mendarahdaging. Sayangi infrastruktur canggih yang sudah diperjuangkan oleh pemerintah ini. Caranya dengan mematuhi aturan-aturan berikut:

1. Memiliki kartu “Jelajah”

Seyogyanya transportasi umum lain yang terintegrasi, setiap penumpang wajib memiliki kartu khusus. Untuk MRT, kartu pembayaran tiketnya diberi nama “Jelajah”.

Dikutip dari akun Instagram resmi MRT Jakarta @mrtjkt, kartu Jelajah yang akan dikeluarkan terdapat dalam dua jenis, yaitu kartu single trip dan multi trip. Apa bedanya? Kartu single trip hanya untuk sekali jalan.

Sedangkan, kartu multi trip bisa digunakan lebih dari satu kali perjalanan.

2. Dahulukan yang keluar

Sebenarnya ini peraturan standar, tapi masih banyak saja yang kurang bisa mematuhi. Dalam aturan keselamatan, penumpang yang keluar harus didahulukan.

Sementara penumpang yang ingin masuk harus mengantri terlebih dahulu, dengan membuat barisan di samping kanan dan kiri pintu masuk.

Di Indonesia, “garis aman” itu diberi berwarna kuning yang terletak di pinggir peron.

Jika aturan tersebut tidak dipatuhi, penumpang bisa saling bertabrakan.

(Baca juga: Mengenal Lebih Dekat dengan LRT Jabodebek)

3. Tidak berdandan di dalam kereta

Aturan ini bukan melarang penumpang wanita untuk tampil polos ketika naik MRT, lho.

Namun saat berada di dalam kereta, perlengkapan make up dan kosmetik sebaiknya jangan digunakan.

Selain mengganggu penumpang lain, berdandan dalam kecepatan 40 sampai 60 kilometer per jam berisiko fatal.

Ingat kejadian penumpang taksi di China yang matanya tercolok eyeliner? Kamu tidak mau seperti itu kan?

4. Selalu perhatikan rambu-rambu

Menggunakan transportasi MRT, artinya setiap penumpang dituntut bersikap lebih mandiri. Biasakan untuk selalu meperhatikan rambu-rambu di sekitar stasiun dan kereta.

Rambu-rambu tersebut dibuat dalam bentuk visual maupun suara. Bagi penumpang disabilitas, MRT juga menyediakan rambu visual, suara, dan fisik.

Selama di perjalanan, dengar baik-baik pula setiap pengumuman stasiun pemberhentian berikutnya.

5. Prioritaskan penumpang khusus

Tidak semua penumpang itu sama. Banyak dari mereka yang memiliki keterbatasan secara fisik, sehingga membutuhkan perhatian khusus.

Misalnya saja ibu hamil, anak-anak, disabilitas, dan lansia. Jangan sesekali duduk di bangku prioritas saat menemui penumpang dengan kondisi tersebut.

Begitu pula ketika menggunakan lift yang tersedia di stasiun, sebaiknya dahulukan langkah mereka

6. Ingat waktu kedatangan kereta

MRT beroperasi dalam 8 rangkaian, mulai pukul 05.30 sampai dengan 22.30. Setelah April nanti, rencananya akan lagi ditambah menjadi 16 rangkaian.

Bersabarlah menunggu kedatangan kereta, sebab rangkaian kereta ini tiba dalam waktu 5-10 menit sekali. Tidak ada kata “ngaret” untuk moda transportasi yang satu ini.

Jadi, usahakan datang tepat waktu agar tidak tertinggal ya.

7. Tertib gunakan eskalator

Belum semua orang menyadari aturan ini. Sebab jika ke pusat perbelanjaan atau gedung, masih banyak saja yang berdiri sembarangan ketika menggunakan eskalator.

Padahal seharusnya, pengguna diwajibkan berdiri pada sisi tangga sebelah kiri. Sementara jika ingin terus berjalan karena buru-buru, gunakan jalur eskalator bagian kanan.

(Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Konsep Properti TOD dan Manfaatnya)

Rencana Pembangunan MRT Tahap 2

Proyek infrastruktur canggih ini tak berhenti sampai di situ. Sesuai rencana, pemerintah akan kembali mengejar pembangunan MRT tahap 2.

Rutenya sendiri akan banyak menggunakan jalur bawah tanah. Hal ini menyebabkan dana yang dibutuhkan lebih besar, meski jalur MRT fase 2 jauh lebih pendek dibanding fase 1, yakni hanya sepanjang 7,8 km.

Adapun groundbreaking MRT Jakarta tahap 2 nantinya dimulai dari stasiun Monas. Dilengkapi delapan stasiun yang meliputi stasiun Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, Kota, dan Kampung Bandan.

Beroperasinya MRT diharapkan bisa memberi dampak yang signifikan untuk perkembangan kota. Tak hanya sekedar melengkapi infrastruktrur, namun juga menyumbangkan efektivitas dalam mengurangi kemacetan.

Untuk masyarakat yang tinggal menikmati fasilitas tersebut, berperilakulah selayaknya orang-orang di negara maju. Tertib dan jaga kebersihan harus menjadi concern utama. Semua demi menjaga aset negara agar terhindar dari kerusakan seminim apapun.

Nah beruntunglah kamu yang tinggal di Ibukota seperti Jakarta. Karena masyarakat yang tinggal di luar Ibukota pasti ingin sekali menjajal moda transportasi anyar tersebut.

Agar perjalanan kamu terasa lebih nyaman, lengkapi juga dengan asuransi kecelakaan. Hal itu perlu sebagai mitigasi risiko yang bisa timbul kapan saja dan dimana saja.

Tentang kami

Sindhi Aderianti

Sindhi Aderianti Penulis yang kadang jadi pedagang