Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

OJK, Barekraf, dan Keminfo, Kompak Dukung Perkembangan Fintech di Indonesia

by Ariesta on 26 Mei, 2016

Kecanggihan teknologi telah merambah segala bidang, tak terkecuali bidang teknologi finansial. Dalam perannya, teknologi finansial memudahkan askes layanan finansial hingga menjangkau masyarakat di daerah terpencil.

Menjamurnya pertumbuhan industri fintech di Indonesia mendorong para inisiator di bidang finansial teknologi untuk mendirikan Asosiasi Fintech Indonesia. Dibentuk sejak tahun 2015 dan disahkan sebagai badan hukum pada 2016, asosiasi ini bertekad menjadi mitra terpercaya dalam mewujudkan ekosistem fintech Indonesia untuk masyarakat Indonesia.

Seiring disahkannya Asosiasi Fintech Indonesia sebagai badan hukum, tentunya tantangan tentang dukungan regulasi yang dapat mendorong dan membangun ekosistem fintech di Indonesia sedikit terpecahkan. Hal ini dibahas dalam diskusi panel “Trends in Indonesia Fintech” yang diadakan di Jakarta, 25 Mei 2016.

Turut hadir sebagai panelis yakni pihak stakeholder yang terkait dalam industri fintech. Di antaranya OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang diwakili oleh Fithri Hadi, Barekraf (Badan Ekonomi Kreatif) yang diwakili Fadjar Hutomo, dan Keminfo (Kementrian Komunikasi dan Informatika) yang diwakili oleh Riki Arif Gunawan. Adapun pendiri Bareksa, Karaniya Dharmasaputra, berperan sebagai moderator.

Ketiga panelis yang hadir secara terang-terangan mendukung keberadaan Asosiasi Fintech Indonesia sebagai jasa keuangan yang siap menyentuh semua kalangan masyarakat.

“Kira-kira di tahun 2015, digital innovation sudah ada dan sekarang terjadi ledakan koneksi karena internet sudah bergitu murah didapat. Kemudian akibat dari kemudahan itu, muncul perkembangan mobile device,” papar Fithri Hadi menyoal mudahnya Fintech masuk ke keseharian masyarakat Indonesia.

Processed with VSCO

Fithri juga menjelaskan mengapa transaksi cashless kini begitu diminati baik oleh konsumen maupun pelaku usaha. “Konsumen adalah raja, jadi kami (OJK) mati-matian mempelajari mereka. Mereka yang dipelosok dan sulit askes finansial pastinya ingin yang serba mudah. Sedangkan bagi bank membuka kantor cabang begitu mahal karena sudah nggak make sense sama income. Jasa keuangan besar sulit menggapai mikro dan inilah yang ditangkap oleh pemain fintech di Indonesia,” jelasnya.

Di akhir acara, OJK diikuti oleh Barekraf dan Keminfo menyatakan komitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital. “Kalau fintech mau garap mikro, OJK pasti dukung asal tidak kriminal tidak penggelapan,” kata Fithri Hadi sedikit berkelakar, “misalnya tanda tangan digital (digital signature) sekarang sudah sama hukumnya kecuali jika nanti ada UU yang mengatur tentang tanda tangan basah,” pungkasnya membuat para peserta perwakilan pegiat bisnis teknologi dan praktisi dunia finansial merasa lega.

Sebagai informasi, FinTech Indo diinisiasi menjadi sebuah asosiasi penyelenggara teknologi jasa finansial yang mempertemukan para penyedia teknologi jasa finansial, lembaga finansial seperti bank dan asuransi, organisasi pengawas kegiatan finansial, serta pemangku kebijakan (stakeholder) finansial baik dari pemerintah dan non pemerintah. (Baca juga: Mengenal Industri Jasa FinTech di Indonesia, Kenapa Lebih Untung Menggunakannya?)

Adapun para inisiator  Asosiasi FinTech Indonesia di antaranya Niki Santo Luhur (CEO Kartuku), Karaniya Dharmasaputra (CEO & Founder bareksa.com), Sebastian Togelang (Kejora Group), JP Ellis (CEO & Founder cekaja.com), Izak Jenie (CEO  Jas Kapital), Budi Gandasoebrata (Director Veritrans), Dian Kurniadi (Founder m-saku), dan Thong Thong Sennelius (CEO Doku).

Mau bergabung dan informasi lebih lanjut, kunjungi langsung halaman FinTech Indonesia.

Tentang Penulis

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami