Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

OJK Pastikan Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Indonesia Terjaga

by CekAja on 26 Oktober, 2018

Kendati kondisi ekonomi global masih belum stabil, Anda sebagai warga negara Indonesia tak perlu khawatir. Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia masih dalam kondisi terjaga, di tengah ketidakpastian di pasar keuangan global.

Ilustrasi Stabilitas Keuangan

Dalam keterangan resmi OJK, disebutkan bahwa berlanjutnya perang dagang antara AS-China diproyeksikan akan menurunkan volume perdagangan dan pertumbuhan dunia. Sementara itu, langkah Bank Sentral AS The Fed menaikkan suku bunga acuan atau Federal Fund Rate (FFR) diproyeksikan akan berpengaruh pada pengetatan likuiditas di pasar keuangan global.

Kedua hal tersebut mendorong organisasi Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan estimasi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2018 dan tahun 2019 dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen di bulan Oktober. Dinamika eksternal tersebut turut mempengaruhi kinerja pasar keuangan domestik.

(Baca juga: Mantap, Pemerintah Dorong Kemajuan Teknologi Keuangan Digital)

Kinerja keuangan dalam negeri

Dari dalam negeri, per 19 Oktober 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan sebesar 2,3 persen sejak awal bulan dengan investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp5,3 triliun. Sejalan dengan pasar saham, investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga mencatat penjualan bersih sebesar Rp800 miliar sejak awal bulan Oktober

Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor jangka pendek, menengah, dan panjang tercatat kembali meningkat masing-masing sebesar 13 bps, 53 bps, dan 23 bps sejak awal bulan Oktober. Peningkatan imbal hasil ini terjadi sejalan dengan pelemahan di pasar keuangan pasar negara berkembang atau emerging markets lainnya.

Di tengah berlanjutnya volatilitas pasar keuangan, kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada September 2018 secara umum masih bergerak positif. Kredit perbankan dan piutang pembiayaan masing-masing tumbuh sebesar 12,69 persen dan 6,06 persen secara tahunan.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,60 persen secara tahunan. Premi asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi per September 2018 masing-masing tercatat sebesar Rp141,14 triliun dan Rp62,74 triliun.

(Baca juga: 4 Hal Soal Keuangan Ini Bisa Bikin Repot Jika Tak Diperhatikan Selagi Muda)

Sementara di pasar modal, pada periode Januari sampai dengan 22 Oktober 2018, penghimpunan dana melalui penawaran umum saham, right issue dan surat utang korporasi telah mencapai Rp143 triliun, dengan emiten baru sebanyak 50 perusahaan. Total dana kelolaan investasi tercatat sebesar Rp739,95 triliun, meningkat 7,89 persen dibandingkan akhir tahun 2017.

Profil risiko lembaga jasa keuangan juga masih terjaga pada level yang manageable. Rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,66 persen, sedangkan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan berada pada level 3,17 persen.

Sementara itu, permodalan lembaga jasa keuangan tercatat pada level yang cukup tinggi. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio perbankan per September 2018 tercatat sebesar 23,33 persen, sedangkan Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 315 persen dan 430 persen.

OJK menyatakan dinamika di pasar keuangan diperkirakan masih berlanjut seiring masih tingginya risiko pelemahan (downside risk) di lingkup global, antara lain berlanjutnya perang dagang dan pengetatan likuiditas. Ke depan, OJK akan terus memantau perkembangan tersebut, sehingga tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan.

Banner Kartu Kredit Oktober 2018

Capaian ekonomi pemerintahan Jokowi-JK

Dalam laporan kerja empat tahun di bagian Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Daya Saing, pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) memaparkan beberapa capaian. Hal itu antara lain peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,02 persen pada 2014 menjadi 5,17 persen di semester I 2018.

Kemudian, Indeks Daya Saing Global Indonesia juga menanjak ke peringkat 45 di tahun 2018, dari sebelumnya di posisi 47 pada tahun 2017. Inflasi secara tahunan juga terus terkendali dari 8,36 persen di tahun 2014 menjadi 2,88 persen pada September 2018.

Tingkat pengangguran juga mampu dikendalikan di level 5,13 persen per Februari 2018. Angka itu turun dari capaian 2014 di angka 5,94 persen. Hal itu diikuti dengan turunnya tingkat ketimpangan pendapatan (rasio gini) ke angka 0,389 persen pada Maret 2018, dari 0,414 di 2014.

(Baca juga: Digital Onboarding di Industri Keuangan? Ini Fitur-fitur Lengkapnya)

Tak hanya itu, tingkat kemiskinan pun mampu mencapai rekor terendah per Maret 2018 di angka 9,82 persen. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, tingkat kemiskinan tidak pernah turun ke level satu digit.

Dari sisi penerimaan negara, pajak yang mampu diraup pemerintah pun selalu meningkat tiap tahun. Pada tahun 2014, penerimaan pajak mencapai Rp1.147 triliun dan meningkat jadi Rp1.343 triliun di tahun 2017. Adapun hingga September 2018, penerimaan dari pajak sudah mencapai Rp1.024 triliun.

Namun, terdapat kekhawatiran dari rasio utang pemerintah pusat terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) yang meningkat setiap tahun. Pada 2014, rasio utang terhadap PDB di angka 24,74 persen, dan kini meningkat di angka 29,74 persen hingga Juli 2018.

Kendati demikian, rasio utang terhadap PDB masih dijaga di bawah batas psikologis yaitu 30 persen. Angka tersebut juga masih jauh dari batas di bawah amanat Undang-Undang Keuangan Negara yaitu maksimal sebesar 60 persen.

Tentang Penulis

eCommerce Finansial Pertama di Indonesia