Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

OJK Restui Pemanfaatan Credit Scoring untuk Genjot Penyaluran Kredit di Indonesia

by Gentur Putro Jati on 23 September, 2019

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merestui pemanfaatan credit scoring atau skor kredit untuk digunakan oleh industri keuangan di Indonesia. Melalui skor kredit, OJK berharap akan semakin banyak kelompok masyarakat yang belum terlayani oleh bank bisa mendapatkan layanan keuangan di masa mendatang.

Irnal Fiscallutfi, Kepala Departemen Perizinan dan Informasi Perbankan OJK mengatakan, sampai saat ini baru ada dua perusahaan biro kredit yang memiliki izin melakukan skor kredit di Indonesia. Keduanya adalah PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan PT Kredit Biro Indonesia Jaya.

Menurut Irnal, pemanfaatan skor kredit sebagai alternatif data kelaikan kredit memang belum banyak digunakan. Sebab, saat ini industri keuangan di Indonesia masih mengandalkan data informasi debitur yang dikelola OJK yaitu Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

Dalam catatan OJK, sampai Juli 2019 pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,58% secara year on year. Sementara angka non performing loan (NPL) gross perbankan sebesar 2,55% dan NPL net hanya sebesar 1,16%.

“Jadi perbankan dalam kondisi baik. Oleh karena itu kami mendorong industri perbankan dan lembaga keuangan non bank (LKNB) untuk menyalurkan kredit melalui infrastruktur yang tepat. Masih ada ruang bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran kreditnya,” ujar Irnal saat menjadi pembicara di sesi diskusi panel bertema ‘Strengthening the Credit Bureau by Leveraging Alternative Credit Data’ di Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2019, Jakarta, Senin (23/9).

Namun, sebagai regulator di sektor keuangan, OJK menurutnya tidak bisa sembarangan menerbitkan izin bagi suatu perusahaan biro kredit yang ingin menyediakan layanan skor kredit di tanah air.

Irnal menyebut, setidaknya ada tiga faktor yang harus dipenuhi oleh suatu perusahaan swasta untuk bisa menyediakan layanan skor kredit, yaitu:

  1. Data harus akurat dan aman.
  2. Perusahaan biro kredit harus transparan melaporkan metodologi yang digunakan dalam menganalisa data alternatif tersebut.
  3. Skor kredit yang diberikan oleh perusahaan biro kredit harus memiliki nilai tambah dibandingkan data SLIK dari OJK.

“Selama biro kredit bisa membantu menyajikan data yang positif, mengapa tidak bank dan lembaga keuangan memanfaatkannya untuk meningkatkan penyaluran kredit di Indonesia,” kata Irnal.

(Baca juga: CekAja.com Boyong Teknologi Digital Onboarding dan Credit Scoring di IFSE 2019)
Tantangan Skor Kredit di Indonesia

Ronald Tauviek Andi Kasim, Country Director Trusting Social, salah satu perusahaan Artificial Intelligence (AI) yang merintis layanan skor kredit di Indonesia sejak Maret 2018 lalu mengamini syarat dari OJK tersebut.

“Trusting Social ingin membantu pemerintah melayani unbankable population. Perusahaan biro kredit ini bergerak di sektor yang highly regulated, jadi kita memang harus berhati-hati dalam menangani data konsumen. Mendapatkan persetujuan (consent) dari konsumen adalah penting bagi perusahaan biro kredit. Tanpa persetujuan itu, kita tidak bisa mengolah data mereka,” kata Ronald.

Menurut pria yang akrab disapa Roni ini, tantangan bagi perusahaan biro kredit adalah masyarakat dan industri keuangan di Indonesia belum familiar dengan skor kredit.

“Mereka tahunya SLIK. Sementara kita menggunakan banyak data alternatif untuk menilai mana nasabah yang baik dan buruk. Oleh karena itu edukasi market perlu dilakukan, sehingga industri perbankan mau membuka kreditnya ke unbankable melalui skor kredit,” jelasnya.

James Gothard, General Manager Strategi dan Layanan Kredit Experian Asia Pasifik mengatakan perusahaannya berpengalaman melakukan skor kredit di 20 negara di dunia. Di setiap negara tersebut, regulator dan industri keuangannya memiliki standar peraturan berbeda-beda yang harus diikuti oleh perusahaan biro kredit.

Sementara, Jackal Ma, Cofounder & Partner, Tongdun Technology mengatakan kesuksesan perusahaannya menjadi Unicorn startup biro kredit di China, dirintis sejak 6 tahun lalu. Dalam melakukan bisnisnya, Tongdun menurutnya melakukan bisnis skor kredit dengan etika.

(Baca juga: Ini 3 Perusahaan Credit Scoring Terbesar di Dunia)

“Kita tidak bisa melibatkan orang ke suatu siklus finansial yang negatif. Idenya bukan seperti itu. Namun memberikan kemudahan bagi mereka dalam mendapatkan layanan keuangan melalui analisa alternatif data yang bervariasi dan komplet,” kata Jackal.

Sebagai penutup, J.P. Ellis, Executive Head of Market Support AFTECH, dan juga Pendiri CekAja.com mengapresiasi sikap OJK yang membuka peluang bagi perusahaan swasta untuk menyediakan layanan skor kredit bagi masyarakat dan industri keuangan nasional.

“Selama kita mengedepankan kepentingan konsumen, memperhatikan masalah kerahasiaan data, dan bisa memberikan inovasi maupun nilai tambah, saya rasa OJK membuka peluang untuk layanan skor kredit di Indonesia,” kata J.P. Ellis.

Tentang Penulis

Gentur Putro Jati

Ego in debitum, ergo sum