Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Patut Dicoba, Ini Daftar Upaya Unik Berhemat Tempat Tinggal

by Ariesta on 1 Maret, 2016

Harga tanah dan rumah semakin hari semakin melambung. Apalagi di kota-kota besar di mana biaya hidupnya juga tinggi. Sebagai gamabran, tahun 2005 harga tanah di kawasan Kelapa Gading Jakarta masih Rp 5 juta/meter persegi. Tapi di tahun 2012, harganya melonjak lebih dari 100% menjadi Rp 11 juta-Rp 12 juta/meter persegi.

Untuk menyiasati mahalnya harga hunian, beberapa orang rupanya punya cara unik yang bisa bikin kamu geleng-geleng kepala. Kalau kamu berprinsip apalah artinya mengeluarkan sedikit uang jika demi hunian layak, mereka berpikir sebaliknya. Apa saja cara unik yang dilakukan untuk berhemat tempat tinggal?

Tinggal di mobil

Brandon

Meski bekerja di perusahaan bergengsi sekelas Google, Brandon, pria yang berprofesi sebagai software engineer ini  justru memilih hidup di truk tuanya yang diparkir di parkiran kantor Google. Dia rela meninggalkan rumah sewa bertarif USD 2.000 (Rp 27,7 juta) di San Fransisco dengan alasan hanya memakainya untuk tidur.

Pilihannya ini membuatnya bisa berhemat sampai 90% dari total gaji yang diterimanya setiap bulan. Yang perlu ia bayar hanyalah USD 121 untuk asuransi truk, dan selebihnya dia tidak perlu membayar listrik. Selebihnya dia menggubakan lampu berbaterai untuk penerangan dan power bank (yang isinya dicharge di kantor) untuk daya ponsel di malam hari. Untuk makanan, semua bisa didapatkan dengan mudah di kantin Google. Begitu pula jika ingin mandi, dia tinggal melangkah ke area gym di kompleks Google.

Mengutip dari Business Insider, Alasan Brandon berhemat tempat tinggal adalah karena dia punya utang biaya kuliah. Dia lulus dengan utang USD 22.434, namun sebanyak USD 16.449  telah dia bayarkan dengan empat bulan bekerja. Tinggal di mobil truk membuatnya mampu makan di restoran mewah dan pastinya menginvestasikan uangnya untuk masa depan. Hal yang tidak mungkin dia lakukan jika tinggal di apartemen.

Tinggal di bawah tanah

beijing

Padatnya penduduk dan mahalnya harga sewa properti membuat banyak orang yang kebanyakan pendatang memilih untuk tinggal di bawah tanah. Fenomena inilah yang terjadi di Beijing China. Seperti halnya Jakarta, Beijing seakan magnet untuk mencari peruntungan.

Rupanya, yang tinggal di bawah tanah ini tidak hanya 1-2 orang tapi hingga 2 juta orang! Alkisah pada era perang dingin tahun 1969, pemerintah Tiongkok yang dipimpin Mao Zedong mengharuskan setiap bangunan memiliki ruang bawah tanah (basement/bunker) untuk pertahanan jika diserang bom tiba-tiba. Pada tahun 1990-an, pemerintah mulai menyewakan ruang bawah tanah ini. Namun seiring ledakan penduduk, basement sebagai tempat tinggal semakin diminati. Bahkan ada lebih dari 7.000 iklan di internet untuk memasarkan hunian ini.

(Baca juga: Daftar Istilah yang Wajib Dicatat Agar Tidak Tertipu Saat Beli Rumah)

Bagaimana tidak, biaya sewa perbulannya hanya 300 yuan (Rp610 ribu) per bulan. Diperkirakan ada sekitar 3.677 hunian bawah tanah dari total 200.000 basement yang dibangun Mao Zedong. Rata-rata luasnya hanya 9,70 meter persegi. Ini lebih dari luas dari asrama khusus pegawai yang rata-rata hanya 6,2 meter persegi. Menurut para penghuninya, tinggal di bawah tanah tidak seburuk yang dikira karena sejuk pada musim panas dan justru hangat pada musim dingin.

Tinggal di tenda

Evan Eames, pemuda asal Kanada yang sedang berkuliah S2 Astrofisika di University of Manchester Inggris ini memilih untuk menghemat pengeluarannya dan tinggal di dalam tenda kecil di pekarangan orang lain. Tahun lalu, Evan menyadari ia tidak sanggup membayar uang kuliahnya. Karena itu ia memutuskan meminta bantuan secara online melalui website Gumtree dan Reddit, bagi siapa saja yang mengizinkan agar dia bisa berkemah di kebun mereka secara gratis. Dengan demikian, dia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal dan bisa membayar uang kuliah.

Permohonannya itu mendapatkan tanggapan dari Charley Mantack. Evan diperbolehkan berkemah secara gratis di kebun belakang rumahnya di Holcombe Walk, Heaton Chapel. Sebagai gantinya ia harus menjadi tutor wanita itu dalam mempelajari matematika dan fisika, karena Mantack berkuliah GCSE di Stockport Collage.

Tidak hanya tidur, Evan juga menyimpan persedian makanan dan buku kuliah di tenda. Sementara untuk urusan mandi dia menggunakan fasilitas kampus. Charley Mantack sang pemilik rumah beberapa kali menawarkannya masuk rumah saat musim dingin sedang ganas-ganasnya, tapi Evan tetap bertahan pada prinsipnya. Setelah nanti meraih gelar master, rencananya Evan akan pindah ke Prancis untuk mengejar gelar PhD. Dan mungkin saja dia akan kembali menggelar tendanya di kebun milik orang lain.

Sebelumnya pernah juga ada pegawai magang PBB di Jenewa bernama David Hyde yang  terpaksa tinggal di tenda. Pemuda asal Selandia Baru ini tidak mampu bayar uang karena kebijakan PBb memang tidak membayar anak magang.

Tinggal di bunker perang

cctv

Kondisi ekonomi seringkali menjadi alasan tersendatnya keinginan memiliki rumah idaman. Ini pula yang terjadi pada pasangan suami istri asal Tiongkok. Mereka terpaksa tinggal di bunker perang selama 10 tahun. Bunker tersebut terletak di sebuah universitas di Zhengzhou, provinsi Henan, yang memiliki kedalaman sekitar 5 meter.

Layaknya rumah pada umumnya, bunker tersebut juga dilengkapi furnitur dan diberi sekat sebagai pemisah ruangan. Pasangan yang bekerja di universitas tersebut menggunakan tangga besi sebagai pintu keluar dan masuk ke rumah mereka. Kondisi bunker tentunya lembab dan minim pencahayaan. Tapi karena lokasinya dekat dengan tempat kerja, mereka tidak mengeluh.

(Baca juga: Orangtuamu Beli Rumah Saat Usia 30, Kenapa Kamu Belum Sanggup Mengikutinya Hingga Kini?)

Tinggal di rumah mertua

Pasangan muda yang baru menikah biasanya dipusingkan oleh dua pilihan; mengontrak atau tinggal sementara di rumah mertua. Ujung-ujungnya, tinggal di rumah mertua dijadikan pilihan untuk berhemat sampai uang tabungan terkumpul untuk membayar DP rumah.  Padahal, saat ini pemerintah sudah menawarkan banyak kemudahan kepemilikan rumah. Salah satunya adalah DP 1% khusus rumah bersubsidi.

Ingin segera punya rumah sendiri? Tidak perlu tinggal di mobil, di bunker, atau di tenda. Ajukan KPR sekarang juga di CekAja!

Tentang Penulis

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami