Pendapatan Musisi dari Aplikasi Musik, Apakah Sebanyak Album Fisik?

6 min. membaca Oleh Teti Purwanti on

Perkembangan dunia digital juga mengubah dunia musik. Kalau dahulu, orang hanya bisa mendengarkan musik melalui kaset, vinyl, CD, dan radio, saat ini dunia dimudahkan dengan aplikasi musik. Bukan hanya satu aplikasi musik juga makin beragam.

pendapatan musisi dari aplikasi musik

Setidaknya ada delapan aplikasi streaming musik yang paling banyak digunakan, yaitu Google Play Music, Spotify, Apple Music, Youtube Music, Amazon Music, Vevo, Soundcloud, dan Joox. Meski sebagian besar lagunya sama, banyak orang memilih berdasarkan mana yang lebih banyak digunakan.

Soundcloud misalnya, awalnya aplikasi ini banyak digunakan untuk anak muda yang baru mempunya lagu dan ingin mengenalkan karyanya ke banyak orang. Banyak musisi Indonesia memulai karirnya dari aplikasi tersebut, misalnya saja Rendy Pandugo dan beberapa band yang memilih tetap di jalur indie.

Lalu kalau segala bentuk fisik itu hilang, Bagaimana pendapatan musisi dari aplikasi musik?

Bukan dari Streaming, ternyata pundi-pundi para musisi sebagian besar berasal dari penampilan langsung dan juga tur. U2, misalnya, menghasilkan US$54,4 juta (Rp 825,3 miliar) dan menjadi penampil musik dengan bayaran termahal di tahun 2017, menurut laporan Money Makers tahunan dari Billboard. Dari total pendapatan mereka, sekitar 95% atau US$52 juta berasal dari tur, sementara kurang dari 4% diraup dari streaming dan penjualan album.

(Baca Juga: 6 Tas Branded Paling Diburu Kaum Hawa, Kamu Punya yang Mana?)

Garth Brooks, penampil musik termahal kedua dalam daftar tersebut, memperoleh sekitar 89% penghasilannya dari tur. Sementara itu, Metallica yang menduduki posisi ketiga sebagai musisi termahal mendapatkan 71% penghasilannya lewat tur.

Selain pendapatan musisi dari aplikasi musik, musisi mendapatkannya dari izin sinkronisasi. Misalnya, artis menjual hak memutar lagunya di acara televisi, film atau video game. Ada pula, bisnis sampingan seperti lini busana dan kerja sama dengan merek turut menyumbang pemasukan ke pundi-pundi musisi.

Namun itu data pada 2017, pada 2019, Taylor Swift memimpin daftar musisi berpendapatan tertinggi dunia 2019 versi Forbes. Swift mencatatkan bayaran US$185 juta atau Rp2,5 triliun. Dikutip Forbes, angka yang dicetak Swift itu meningkat 131 persen dibandingkan tahun lalu US$80 juta. Akan tetapi, masih sama seperti dua tahun sebelumnya, tur dan konser masih menjadi penopang yang mengantarkan musisi berada di posisi puncak.

Peringkat kedua ditempati oleh Kanye West dengan pendapatan US$150 juta. Disusul penyanyi dan penulis lagu asal Inggris Ed Sheeran dengan pendapatan US$110 juta dan keempat, band rock asal California The Eagles US$100 juta. Tempat kelima diklaim Elton John yang mengumpulkan US$84 juta pada 2019 di tengah-tengah tur perpisahannya. Jay-Z dan Beyonce terikat di posisi yang sama, yaitu keenam dengan pendapatan jumlah yang sama yakni masing-masing US$81 juta.

Top 10 Musisi Berpendapatan Terbesar Dunia 2019

  1. Taylor Swift US$185 juta
  2. Kanye West US$150 juta
  3. Ed Sheeran US$110 juta
  4. The Eagles US$100 juta
  5. Elton John US$84 juta
  6. Beyoncé US$81 juta
  7. Jay-Z US$81 juta
  8. Drake US$75 juta
  9. Diddy US$70 juta
  10. Metallica US$68,5 juta

Layanan Streaming di Indonesia

Dari sekian banyak layanan streaming, di Indonesia yang paling banyak digunakan adalah JOOX dan Spotify. Bahkan, daftar artis atau lagu yang paling banyak diputar pun jadi penting.

Spotify mengatakan, Tulus menjadi artis lokal yang Paling Banyak Diputar di Spotify di Indonesia pada 2019. Pada 2018, Tulus juga menjadi artis Indonesia pertama yang memecahkan rekor satu juta pengikut di Spotify. Selain Tulus, Artis yang Paling Banyak Diputar di Spotify di Indonesia ialah Fiersa Besari.

Berikut Artis Lokal yang Paling Banyak Diputar di Spotify:

  1. Tulus
  2. Fiersa Besari
  3. Sheila On 7
  4. Andmesh
  5. Glenn Fredly

Penyanyi sekaligus penulis lagu asal Indonesia, Stephanie Poetri, turut menorehkan prestasi di dunia musik tanah air. Lagu berjudul “I Love You 3000” berada di urutan keempat Lagu yang Paling Banyak Diputar di Spotify di Indonesia tahun ini. Lagu tersebut juga sempat menduduki peringkat pertama pada tangga lagu Spotify Global Viral 50.

Mengapa daftar Spotify menjadi sangat penting? Pasalnya, Spotify memberikan royalti kepada musisi sebesar 0,006 dolar AS hingga 0,0084 dolar AS untuk sekali streaming. Artinya, jika memang lagu yang sering diputar akan semakin banyak cuan yang diraup.

Maka tak heran, jika penyanyi papan atas seperti Taylor Swift, Adele, Dua Lipa dan artis kenamaan lainnya mampu meraup ratusan ribu dolar AS per bulan hanya dari streaming lagu. Namun perlu diingat, nilai royalti yang diberikan bukan hanya untuk si penyanyi saja. Nilai tersebut akan dibagi lagi kepada para pemegang hak cipta, mulai dari label rekaman, produser, artis dan penulis lagu. Sehingga pendapatan musisi dari aplikasi musik tidak sepenuhnya diterima.

Spotify Tidak Seberuntung Para Artis

Pada akhir April 2019, Spotify berhasil mencetak rekor 100 juta pelanggan berbayar dan menjadikan aplikasi streaming musik nomor satu di dunia. Sayangnya, berbeda dengan artisnya yang menumpuk pundi-pundi, Spotify masih merugi, bahkan setelah mengalahkan Apple Music yang hanya memiliki 60 juta pengguna pada periode yang sama.

Spotify saat ini tersedia di 97 negara, namun lebih terkenal di Eropa dan Amerika. Sebanyak 37 persen pengguna aplikasi ini berasal dari benua biru tersebut, disusul Amerika Utara sebanyak 30 persen, dan Amerika Latin sebanyak 22 persen. Sementara itu, Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Australia hanya menyumbang 11 persen pengguna bagi aplikasi ini. Di beberapa negara Asia seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Hong Kong, Spotify kalah jauh dengan pesaingnya, Joox.

Sayangnya, peningkatan jumlah pengguna ternyata tidak sejalan dengan pendapatan yang diperoleh Spotify. Pada kuartal I/2019, kerugian perusahaan aplikasi ini bahkan mencapai 142 juta euro. Kerugian ini memang sedikit lebih baik dibanding periode yang sama tahun lalu. Kala itu, Spotify mencetak kerugian hingga 169 juta euro.

Kerugian yang dialami oleh Spotify terjadi karena bisnis yang dijalankan Spotify membuat mereka harus membayar royalti dan biaya distribusi kepada label rekaman, penerbit, dan pemegang hak streaming musik pada pelanggan. Seiring bertambahnya jumlah pelanggan premium, penghasilan yang didapat Spotify juga bertambah. Namun, peningkatan jumlah pengguna premium juga membuat biaya yang harus dibayar menjadi lebih tinggi.

Tumbuhnya Podcast

Sempat meledak di awal kemunculannya lebih dari satu dekade silam, podcast kini kembali menjadi pilihan, terutama di Amerika dan Inggris. Tren ini tampaknya juga akan mewabah hingga ke regional lain, termasuk negara-negara Asia.

Bersama dengan tumbuhnya aplikasi streaming musik, pada 2019 juga terjadi pertumbuhan besar dari pendengar podcast di Spotify. Sekarang ada lebih dari 500.000 judul podcast tersedia, dan pendengar podcast juga telah tumbuh lebih dari 50% sejak awal tahun. Waktu dengar podcast juga meningkat hingga 39% dari kuartal ke kuartal.

Merujuk artikel Guardian pada 2004 silam, pod datang dari pemutar media digital ciptaan Apple, iPod. Sedangkan cast adalah kependekan dari broadcast atau siaran. Namun, kini podcast bisa diputar dari pemutar media apapun. Sepintas podcast terdengar seperti radio. Pendengar akan disuguhi serial audio berisi obrolan penyiar akan suatu topik dan diselingi musik-musik pilihan. Namun, sebenarnya keduanya lumayan berbeda.

Meski saat ini konten berbasis audio visual YouTube masih menjadi raja sebagai media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia, data terkait pertumbuhan pod-cast bisa jadi bahan pertimbangan bagi para konten kreator untuk berkarya di ranah suara. Di tengah tren dunia yang semangat untuk mengurangi screen time, menikmati konten suara bisa jadi alternatif bagi banyak pengguna.

(Baca Juga: Cegah Bunuh Diri Pada Remaja, Ini 5 Penanganan yang Tepat)

Apalagi sebagian besar pendengar podcast adalah milenial, di Indonesia sendiri misalnya sudah banyak bermunculan podcast-podcast yang punya pangsa pasar yang cukup besar dan menjadi favorit. Ada tiga alasan yang paling sering dilontarkan mengapa orang suka mendengarkan podcast adalah kontennya yang bervariasi, fleksibel, dan lebih bisa dinikmati daripada konten visual.

Terdapat berbagai macam genre podcast yang bisa dijelajahi. Mulai dari edukasi, ilmu pengetahuan, horor, olahraga, dan lain-lain. Namun genre favorit pendengar Indonesia adalah entertainment, kemudian disusul oleh genre lifestyle, teknologi, dan edukasi.

Podcast semakin menjadi pilihan lantaran tingginya intensitas perjalanan orang-orang masa kini. Mereka yang menghabiskan banyak waktu di jalan, baik di mobil maupun transportasi publik, memilih untuk mendengarkan podcast agar tetap mendapat wawasan baru dan, di saat yang sama, terhibur.

Tentang kami

Teti Purwanti

Teti Purwanti