Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Penjelasan Sri Mulyani Soal Rupiah Tembus Rp15.000 per dolar AS

by CekAja on 5 Oktober, 2018

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan, melemahnya nilai tukar rupiah yang saat ini sudah menembus angka Rp15.000 per dolar AS sama sekali tidak ada hubungannya dengan terjadi beberapa bencana di tanah air akhir-akhir ini. Namun lebih didominasi oleh dinamika faktor eksternal di luar negeri.

rupiah melemah

“Saya lihat kalau dominasi hari ini memang lebih mayoritas yang berasal terutama trigger-nya dari luar yang sangat dominan,” kata Sri Mulyani seperti dilansir dari situs Sekretariat Kabinet.

Menurut Sri Mulyani, sentimen yang kemarin berasal dari Italia yang angka defisit anggarannya besar. Sekarang Italia, lanjutnya, sudah memiliki komitmen untuk menurunkan defisit anggarannya, sehingga dia menurunkan lagi, tapi kemudian muncul lagi sentimen yang lain.

Namun, lanjut Sri Mulyani, mayoritas lebih dominannya adalah karena masalah eksternal. Meskipun demikian, Menkeu mengingatkan domestik kita, memang tetap harus waspada terutama pada neraca pembayaran, dimana impor Indonesia momentumnya masih perlu untuk dikendalikan secara baik.

(Baca juga: INTERVIEW: Buka-bukaan Penyebab Rupiah Melemah)

Monitor Impor dan B-20

Mengenai langkah pemerintah dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah itu, Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Bank Indonesia terus akan mengkomunikasikan mengenai nilai tukar ini, dengan melakukan langkah-langkah 3 (tiga) bauran kebijakan.

“Bauran dari Bank Indonesia apakah itu berhubungan dengan suku bunga, apakah dengan makroprudensial, dan dengan policy mereka mengenai intervensi untuk menciptakan suatu perubahan yang bisa di-absorb dan di-adjust atau disesuaikan oleh perekonomian,” terang Sri Mulyani.

Kalau dari sisi fiskal, Menkeu Sri Mulyani berjanji terus akan melaksanakan apa yang sudah diputuskan waktu itu, memonitor impor terutama untuk impor barang-barang konsumsi dan barang-barang yang sudah diproduksi dalam negeri.

“1.147 itu nanti kita akan lihat laporannya setiap minggu,” sambung Menkeu.

Untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) yang merupakan komponen impor yang besar, Sri Mulyani berharap B20 bisa mengurangi.

“Namun kita akan lihat kemarin akhir September justru terjadi kenaikan, dan kita akan lihat,” tegasnya.

(Baca juga: Rupiah Melemah? Ini 7 Perbedaan Kondisi Ekonomi Sekarang dan Krisis 1998!)
Tarif Impor Dikerek

Pelemahan rupiah kian memburuk dan kini menjadi perbincangan. Salah satu penyebab utamanya adalah karena jumlah impor Indonesia lebih besar dibandingkan dengan besaran ekspor, dan menyebabkan neraca transaksi berjalan defisit. Pemerintah pun turun tangan untuk menahan peningkatan impor dengan menaikkan tarif impor untuk 1.147 barang, salah satunya kosmetik.

Kementerian Keuangan menyatakan perkembangan perekonomian global saat ini telah memberikan dinamika yang tinggi terhadap neraca transaksi berjalan (current account) dan mata uang di banyak negara, termasuk Indonesia. Pada semester I 2018, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia mencapai 13,5 miliar dolar AS (2,6 persen terhadap PDB).

Salah satu penyebab defisit transaksi berjalan adalah pertumbuhan impor (24,5 persen year to date Juli 2018) yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor (11,4 persen year to date Juli 2018).

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Keuangan, pemerintah memandang perlu untuk mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia. Untuk itu, pemerintah menjalankan sejumlah bauran kebijakan.

Hasil tinjauan menyimpulkan bahwa perlu dilakukan penyesuaian tarif PPh Pasal 22 terhadap 1.147 pos tariff dengan rincian sebagai berikut:

  • 210 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 7,5 persen menjadi 10 persen. Termasuk dalam kategori ini adalah barang mewah seperti mobil CBU, dan motor besar.
  • 218 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 2,5 persen menjadi 10 persen. Termasuk dalam kategori ini adalah seluruh barang konsumsi yang sebagian besar telah dapat diproduksi di dalam negeri seperti barang elektronik (dispenser air, pendingin ruangan, lampu), keperluan sehari hari seperti sabun, sampo, kosmetik, serta peralatan masak/dapur.
  • 719 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen. Termasuk dalam kategori ini seluruh barang yang digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan lainnya. Contohnya bahan bangunan (keramik), ban, peralatan elektronik audio-visual (kabel, box speaker), produk tekstil (overcoat, polo shirt, swim wear).

Dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah dalam memitigasi dampak volatilitas ekonomi global, Kementerian Keuangan akan terus melakukan simplifikasi administrasi perpajakan dan kepabeanan.

Sinergi DJP dan DJBC akan terus diarahkan untuk meningkatkan pelayanan dan tingkat kepatuhan yang mendukung pertumbuhan industri dalam negeri. Salah satunya melalui percepatan pelayanan restitusi, khususnya untuk pelaku usaha yang memiliki reputasi yang baik. Yuk dukung pemerintah tahan impor!

Tentang Penulis

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami