Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

6 menit waktu bacaan

Penyesalan Terbesar Empat Bos Perusahaan Raksasa Dunia

by Ariesta on 15 Agustus, 2016

mark zuckerberg _ investasi - CekAja.com

Sebagai manusia biasa, kita pasti pernah berbuat keliru. Tapi pernahkah kamu berbuat kesalahan yang menyebabkan kerugian hingga miliaran dollar?

Entrepreneur cerdas dan paling kaya di dunia pernah melakukannya. Salah satu dari mereka bahkan pernah berbuat kesalahan hingga merugi US$45 miliar. Bagi kamu yang tengah membangun kekayaan, belajarlah dari kesalahan mereka dan jangan mengulangi kesalahan sama di kemudian hari. Tapi siapa saja para miliarder yang khilaf tersebut?

Steve Jobs: Meninggalkan Apple

steve-jobs-wide

Kita mengenal Steve Jobs sebagai CEO terhebat karena membuat produk Apple begitu digandrungi. Dia memimpin Apple dengan kharisma, kepemimpinan dan inovasi. Namun pada awalnya, Jobs sebenarnya ragu kalau dia ditakdirkan menjadi CEO dari perusahaan yang dia dirikan. Keraguan tersebut membuatnya menyerah. Tahun 1977, sebuah keputusan membuatnya dipecat dari Apple.

Apple sendiri merupakan perusahaan partnership yang sepenuhnya dimiliki oleh Steve Jobs dan Steve Wozniak sampai Jobs mempekerjakan Mike Markkula di tahun 1977. Markkula merupakan entrepreneur dan investor yang menyediakan banyak modal bagi Apple .

Itulah awal Jobs kehilangan kontrol atas perusahaannya. Saat Markkula menjadi CEO di tahun 1983, Jobs ingin kembali mengontrol Apple. Secara mental dia telah siap menjadi CEO. Namun keinginan ini terganjal karena pemilik saham tidak ingin Apple yang sedang tumbuh pesat dipimpin oleh anak kemarin sore yang masih berusia 28 tahun.

Tidak punya kuasa apa-apa di perusahaan yang dibangunnya sendiri, Jobs setuju untuk merekrut John Sculley yang sebelumnya mengepalai Pepsi-Cola. Inilah awal konflik dalam Apple terjadi. Saat konflik makin memanas, Markkula berada di pihak Sculley. Singkat kata, Jobs kemudian dipecat dari Apple Inc.

Tanpa ide-ide unik Steve, Apple perlahan-lahan mundur. Kegagalan Apple ini menjadi peluang besar bagi kompetesinya, Microsoft yang dipimpin Bill Gates untuk menyalip.

(Baca juga: Apa Itu Suku Bunga Kredit dan Pengaruhnya pada Pinjaman?)

Pelajaran yang bisa diambil:
Steve Jobs memang tidak berpengalaman, tapi dia mencintai dan mengerti perusahaannya lebih dari siapapun di planet ini.

Kalau kamu ingin perusahaan startup-mu tumbuh, kamu harus membagi kuasa pada orang lain. Tapi berhati-hatilah dengan seberapa besar dan kepada siapa kuasa yang kamu berikan. Tentunya kamu tidak ingin bernasib seperti Steve Jobs, dikhianati oleh orang yang kamu beri kepercayaan dan kekuasaan.

Bill Gates: mengabaikan Search Engine

bill-gates-wide

Microsoft merupakan pionir perusahaan software komputer di tahun 1975, pionir graphical user interface tahun 1985 (Windows 1.0), dan perusahaan pertama yang mengenalkan dunia pada internet pada 1995 (Windows 95 diluncurkan sepaket dengan Internet Explorer).

Tapi tahun 2005, Bill gagal memprediksi peluang miliaran dollar dari search engine. Dan, pada tahun-tahun berikutnya, Google lah yang justru menjadi raja search engine.

“Google telah menendang bokong kami,” kata Bill Gates sewaktu masih menjadi CEO Microsoft.

(Baca juga:  Peran Bank Kustodian dan Manajer Investasi dalam Reksadana)

Microsoft memang memperkenalkan MSN search engine tahun 1998, tepatnya tahun yang sama saat Sergey Brin mendirikan Google. Dibandingkan MSN, Google sangat cepat, inovatif, dan akurat.

Sudah jelas jika Gates melewatkan peluang besar. Pasalnya di tahun 2002, Google menghasilkan US$348 juta di tahun tersebut. Setahun kemudian, Google menghasilkan tiga kali lipat alias US$962 juta. Melihat keuntungannya yang besar, akhirnya Microsoft mulai mengembangkan search engine.

Microsoft merilis Windows Live Search di tahun 2006, namun gagal menyaingi Google. Belum menyerah, tiga tahun kemudian Microsoft memperkenalkan Bing. Namun pengeluaran untuk mengembangkan Bing lebih mahal daripada pendapatannya. Bing bahkan membuat Microsoft rugi US$2,5 miliar.

Pelajaran:
Tahun 1998, tidak ada perusahaan yang lebih berjaya di bidang internet dibandingkan Microsoft. Bayangkan jika Gates fokus untuk mengembangkan search engine. Mungkin Google akan menjadi nomor dua.

Larry Page: Melewatkan media sosial

larry-page-wide

Google tumbuh semakin besar sejak Larry Page dan Sergey Brin membuat search engine di tahun 1998. Mereka mempertahankan kesederhanaan tampilan Google sambil melebarkan ekspansi (Google maps, YouTube, Gmail).

Tapi sama halnya dengan Bill Gates yang gagal mengekseskusi peluang untuk mendominasi search engine, Larry Page gagal karena melewatkan sesuatu yang di masa depan digunakan secara masif: media sosial. Bagian terburuknya, Page sebenarnya menyadari potensi media sosial, tapi tidak melakukan eksekusi apapun.

Sebagai jalan pintas, Google menawarkan US$30 juta untuk membeli media sosial Friendster yang saat itu populer. Namun Friendster menolak tawaran tersebut. Seharusnya penolakan ini membuat Larry Page terpikir membuat media sosial versi Google. Tapi Larry Page tetap tidak melakukan apa-apa. Sampai pada akhirnya Google Buzz dirilis tahun 2010 dan digantikan oleh Google Plus tahun 2011.

Merasa telah menyia-nyiakan kesempatan, Page mengekspresikan kekecewaannya. “Aku sebenarnya tahu harus berbuat apa, tapi aku gagal melakukannya.”

Bisa kamu bayangkan jika Google mendayagunakan tim developer dan mengenalkan sosial medianya pada pengguna search engine yang jumlahnya jutaan? Mungkin Facebook tidak ada apa-apanya hari ini.

Pelajaran:

Page telah mengakui kesalahannya. Setelah Friendster menolak tawaran, Page langsung menyerah dan bahkan tidak membuat media sosial tandingan versi Google.

Jangan membuat kesalahan yang sama. Lain kali jika kamu tahu bisnismu melewatkan kesempatan besar, ambil langkah dan mulai membuat kesempatan versimu sendiri.

Mark Zuckerberg: Menjadi wajah Facebook

mark-zuckerberg-wide

Tidak ada yang menjuluki Mark Zuckerberg bodoh. Apalagi setelah pencapaiannya menjadi miliarder termuda. Tapi layaknya anak muda biasa, Zuckerberg ingin dikenal sebagai orang sukses. Tak mengherankan jika dia memakai fotonya sebagai wajah dari perusahaannya.

“Aku baru saja membunuh babi dan domba,” tulis sang CEO Facebook.

Kalimat tersebut memicu kontroversi saat Zuckerberg memosting di akun Facebooknya pada Mei 2011. Pencinta hewan merasa kalimat itu tidak pantas. Meskipun sebenarnya wajar babi dan domba dipotong untuk disantap. Jika yang dipotong daging hewan pelihara seperti kucing atau anjing tentu karier Zuckerberg berhenti saat itu juga.

Tapi yang pasti, karena kejadian ini banyak pihak yang meragukan kemampuan public relation si pendiri Facebook.

(Baca juga: Kerja Puluhan Tahun, Sudah Cek Saldo Jamsostek Belum?)

Pelajaran:
“Pada dasarnya semua kesalahan yang kamu pikir akan kamu lakukan, sudah pernah dilakukan dan mungkin akan kamu lakukan beberapa tahun ke depan. Intinya semua orang pernah berbuat salah,” Aku Mark Zuckerberg.

Kini kemampuan komunikasi Zuckerberg sudah semakin membaik. Dia bahkan mulai dijuluki kharismatik karena selalu tampil sederhana. Facebook juga semakin maju di bawah kepemimpinannya. Orang-orang mencintai Facebook selama jejaring sosial ini masih menjadi cara terbaik untuk terhubung secara online dengan teman lama.

Kesalahan Steve Jobs dimanfaatkan oleh Bill Gates untuk mendominasi industri komputer. Kesalahan Gates membuka peluang bagi Larry Page untuk mendominasi industri search engine. Sedangkan kesalahan Larry Page membuka peluang bagi Zuckerberg untuk menjadi raja situs media sosial.

Kamu juga bisa mengalami apa yang mereka alami. Intinya, selalu tangkap peluang dan lakukan sesuatu saat kesempatan datang. Jika tidak, maka kamu telah mengulang kesalahan besar yang telah empat orang di atas lakukan.

Tentang Penulis

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami