Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Perang Swasta vs BUMN Rebutan Pengguna Uang Elektronik

by Miftahul Khoer on 26 Februari, 2019

Kehadiran sistem pembayaran digital kian menggeser kebiasaan bertransaksi dengan uang tunai. Saat ini, tak lagi harus mengeluarkan uang tunai untuk membayar apapun, karena ada beberapa platform yang mendukung pembayaran secara elektronik.

Dompet Digital e-Wallet Go Pay - CekAja

Data Bank Indonesia per 22 Februari 2019 menyebutkan terdapat 36 penyelenggara uang elektronik yang memperoleh izin dari bank sentral baik yang dikeluarkan oleh swasta maupun perusahaan milik pemerintah.

Dari ke-36 penyelenggara uang elektronik tersebut, setidaknya ada tiga pemain besar sistem pembayaran digital yang selama ini digunakan oleh masyarakat antara lain T-Cash keluaran PT Telekomunikasi Indonesia, Gopay keluaran PT Dompet Anak Bangsa, dan OVO yang diterbitkan PT Visionet Internasional grupnya Lippo.

(Baca juga: Lupakan yang Konvensional, Ini Zamannya Angpao Digital)

Gebrakan LinkAja

Sudah sekitar 10 tahun beroperasi, layanan T-Cash per 22 Februari 2019 berubah wujud menjadi LinkAja. Layanan dompet digital milik BUMN Telkomsel ini akan menggabungkan uang elektronik dari beberapa bank plat merah antara lain e-cash dari Bank Mandiri, Unikqu dari Bank BNI, Tbank dari Bank BRI dan T-cash serta T-Money dari Telkom Group. Nantinya, LinkAja akan berada di bawah naungan sebuah perusahaan financial technology bernama PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).

Kehadiran Finarya sendiri telah digodok sejak tahun lalu untuk membangkitkan kembali produk uang elektronik milik BUMN yang selama ini kurang diminati masyarakat akibat penetrasi masif dari kehadiran Gopay dan OVO.

Dari pembentukan perusahaan atas nama Finarya tersebut, Telkomsel mendominasi saham paling besar yakni 25 persen. Sisanya yakni BRI 20 persen, BNI 20 persen, Bank Mandiri 20 persen, BTN 7 persen, Pertamina 7 persen, dan Jiwasraya 1 persen.

Produk-produk e-money sebelumnya yang dikeluarkan perusahaan BUMN di atas sengaja digabungkan untuk membetot para pelanggan menggunakan produk e-money keluaran pemerintah. Sebagai gambaran saja, T-Cash memiliki 30 juta pelanggan dari total pelanggan Telkomsel yang mencapai 200 juta. Selain itu, rata-rata bank BUMN memiliki nasabah hingga 10 juta orang. Dengan demikian LinkAja diharapkan bisa menjadi platform yang menyerap pasar para pelanggan produk-produk dompet digital milik BUMN tersebut.

Tampaknya, kehadiran LinkAja akan menghantui dua pemain besar yakni Gopay dan OVO yang selama ini memanjakan masyarakat sebagai alat transaksi. Layanan LinkAja sejauh ini menawarkan dua fasilitas basic service dengan saldo maksimal Rp2 juta dan full service dengan saldo maksimal Rp10 juta.

Para pelanggan bisa menikmati berbagai layanan yang disediakan antara lain cash in, belanja online, bayar dan beli di ponsel, tap payment, kirim uang hingga cash out.

Cara menggunakannya pun hampir sama dengan para pemain lainnya. Kamu cukup install, registrasi, isi saldo dan tinggal lakukan transaksi dengan mudah. Selain itu, kamu juga bisa nikmati banyak promo yang ditawarkan.

(Baca juga: Mengenal Fungsi dan Manfaat Uang Elektronik)

Gopay yang Melesat

Sejak memperoleh izin berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia No.16/129/DKSP tanggal 18 Juli 2014 dan mulai beroperasi pada 5 Januari 2015, Gopay menjadi salah satu sistem pembayaran para pengguna Gojek non tunai.

Saat itu, Gopay jor-joran bakar uang sebagai ladang promosi. Maklum, suntikan modal dari investor kelas kakap macam Tencent, Google hingga Astra menjadikan produk yang dicetuskan Nadiem Makarim ini rela bakar-bakar uang demi bisnis yang satu ini. Sampai-sampai Nadiem mengklaim bahwa Gopay telah berkontribusi sebesar 30 persen atau sekitar 31,34 juta transaksi uang elektronik di Indonesia dari total 104,47 juta transaksi.

Data MDI Ventures pada 2017 menyebutkan jumlah pengguna Gopay mencapai 10 juta orang dengan jumlah transaksi per hari mencapai 1,5 juta transaksi. Jumlah tersebut kemungkinan terus bertambah seiring bertambah pula pengguna Gopay saat ini.

Gopay saat ini tak hanya digunakan untuk pembayaran Gojek tetapi sudah berfungsi untuk transaksi lain seperti mengisi pulsa, transfer, menarik uang ke rekening bank, tagihan listrik hingga BPJS. Ada juga promo yang diberikan Gopay kepada pengguna berupa diskon untuk merchant-merchant tertentu.

Gopay juga saat ini telah keluar dari ekosistem Gojek, artinya Gopay merupakan perusahaan sendiri meskipun masih di bawah entitas perusahaan yang menaungi Gojek. Seperti yang pernah dikatakan Nadiem, Gopay ke depan akan menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perusahaannya selain dari Goride atau Gofood, meskipun hingga saat ini Gopay masih dalam tahap bakar-bakar uang untuk promosi eksistensinya itu.

(Baca juga: Berbagai e-Wallet alias Dompet Digital yang Sedang Tren di Indonesia)

OVO Tak Mau Kalah

Beroperasi sejak Agustus 2017, OVO sebagai produk pembayaran digital keluaran PT Visionet Internasional dari Lippo Group mendapat lampu hijau dari Bank Indonesia dengan izin nomor 19/661/DKSP/Srt/B tanggal 7 Agustus 2017. Hampir dalam dua tahun terakhir ini OVO juga tak mau kalah jor-joran uang untuk promosi eksistensinya melalui perang diskon, dan cashback.

Sebagai contoh, belakangan ini mungkin kamu sering melihat promosi iklan Grabcar ke mana saja dengan hanya Rp1 dengan menggunakan OVO. Saat ini OVO juga tengah menjalin kerja sama dengan Tokopedia untuk menjadi partner sistem pembayaran.

Saat ini, platform uang elektronik yang telah bekerja sama dengan 60.000 outlet di seluruh Indonesia ini diklaim telah digunakan oleh 6 hingga 8 juta orang dengan jumlah transaksi per harinya mencapai 250.000 transaksi. Manfaat yang bisa dirasakan pengguna OVO antara lain untuk pembayaran tagihan listrik, telepon, internet, asuransi, hingga bayar parkir.

Ketiga pemain dompet digital di atas mulai dari LinkAja, Gopay dan OVO tentu sudah menerawang jauh-jauh bagaimana skema bisnis dari sistem cashless ini akan menguntungkan di kemudian hari. Termasuk mengaktivasi QR Code sebagai salah satu sistem pembayaran transaksinya.

Ketiga platform tersebut juga disebut-sebut sebagai aplikasi pembayaran digital terpopuler menurut hasil riset Fintech Report 2018 Daily Social. Riset tersebut menyebutkan fintech kategori uang elektronik paling populer yakni Gopay 79,39 persen, OVO 58,42 persen dan T-Cash yang saat menjelma LinkAja 55,52 persen.

Selain ketiga pemain tersebut, ada para pemain lain yang sama-sama berebut pengguna dompet digital atau uang elektronik sebagai alat transaksi yang mudah, aman, fleksibel dan efisien. Tentu saja, ke depan para pengguna uang elektronik akan terus bertambah dan menjadi peluang besar terhadap pengguna e-money. Sehingga para pemain e-money ini akan terus berlomba-lomba membetot perhatian mereka. Nah, kalau kamu lebih nyaman menggunakan aplikasi yang mana, LinkAja, Gopay atau OVO?

Tentang Penulis

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami