Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

7 menit waktu bacaan

Perjalanan Karier dan Lagu Terpopuler Didi Kempot yang Meninggalkan Sobat Ambyar Saat Lagi Sayang-sayangnya

by Gentur Putro Jati on 5 Mei, 2020

Penyanyi dan penulis lagu campursari legendaris Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot menghembuskan nafas terakhir Selasa (5/5), pukul 07.30 WIB di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah. Sampai saat ini, penyebab meninggalnya pria kelahiran Surakarta, 31 Desember 1966 diduga karena serangan jantung.

Sontak berita duka tersebut merambat ke berbagai platform media sosial. Ribuan penggemar Didi Kempot mengucapkan beragam doa guna melepas idolanya.

Di ranah Twitter sendiri, sampai pukul 10.16 WIB tercatat empat cuitan terbanyak yang dituliskan netizen Indonesia terkait dengan meninggalnya musisi tersebut, yaitu: Didi Kempot sebanyak 168 ribu cuitan, #SobatAmbyarBerduka sebanyak 22.200 cuitan, Lord Didi 16.500 cuitan, dan Innalillahi sebanyak 31.900 cuitan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pria yang kerap disapa Pakdhe Didi berhasil menggaet jutaan penggemar segala umur berkat lantunan lagu-lagu berbahasa Jawa dengan tema cinta dan patah hati.

Sehingga tak heran jika Didi Kempot memperoleh gelar ‘the Godfather of Broken Heart’ dari Sadboys dan Sadgirls penggemarnya yang tergabung dalam komunitas ‘Sobat Ambyar’.

Untuk menghormati Lord Didi Kempot, berikut adalah fakta perjalanan karier serta lagu-lagu terbaik sang Maestro yang meninggalkan kita semua saat sedang sayang-sayangnya.

1. Keluarga seniman

Didi merupakan putra dari seniman Ranto Edi Gudel atau lebih dikenal dengan Mbah Ranto. Selain itu, Didi juga merupakan adik kandung dari Mamiek Prakoso, pelawak senior grup Srimulat.

2. Pengamen jalanan

Suaranya yang merdu serta kemampuannya dalam menulis lagu, membuatnya fokus mengasah bakat bermusiknya sejak kecil. Ia merintis kariernya sejak tahun 1984, dengan bermodalkan ukulele dan gendang untuk mengamen di kota kelahirannya, Surakarta.

Pada 1987, Didi memberanikan diri mengadu nasib di Jakarta menyusul jejak sang kakak yang lebih dulu merantau. Ia kerap mengamen bersama teman-temannya di daerah Slipi, Palmerah, Cakung, sampai Senen dan menamakan grupnya Kelompok Pengamen Trotoar, yang kalau disingkat menghasilkan Kempot, nama panggung yang akhirnya digunakan Didi hingga saat ini.

3. Album perdana

Bersama grup Kempot yang dibentuknya, Didi memberanikan diri merekam lagu-lagunya dan menitipkannya ke beberapa perusahaan rekaman di Jakarta. Selama 2 tahun terus menerus mendapat penolakan, akhirnya label Musica Studio’s tertarik untuk memproduksi album perdana Didi Kempot.

Tepat di tahun 1989, Didi meluncurkan album pertamanya dengan lagu andalan Cidro. Lagu patah hati yang ditulisnya berdasarkan pengalaman Didi, yang kisah asmaranya tidak disetujui orang tua sang kekasih.

Lagu itu pulalah yang membuat Didi diundang oleh KBRI di Suriname, Amerika Selatan pada tahun 1993 guna menggelar konser pelepas rindu ratusan warga setempat yang banyak keturunan Indonesia.

4. Konsisten bikin lagu ambyar

Tidak puas dengan pencapaian menggelar konser pertama di luar negeri, suami dari penyanyi dangdut Yan Vellia menjaga konsistensi dalam berkarya dan terus menciptakan lagu-lagu patah hati yang bikin ambyar. Didi beralasan sengaja memilih menulis lagu-lagu patah hati karena setiap orang pernah mengalaminya.

Pada 1996, ia menulis dan merekam lagu berjudul Layang Kangen di RotterdamBelanda dan menetap disana selama dua tahun lamanya. Setahun setelah pulang ke Indonesia atau tepatnya pada 1999, ia merilis lagu Stasiun Balapan yang melegenda.

(Baca juga: 15 Lagu Dangdut Terlaris di Indonesia Hits Sepanjang Masa)

Setelah tren musik campursari sempat meredup, Didi kembali meroket setelah mengeluarkan lagu Kalung Emas pada 2013 lalu. Berlanjut pada 2016, penyanyi asal Solo tersebut mengeluarkan lagu Suket Teki yang juga menjadi lagu favorit para Sobat Ambyar.

5. Tulis 700 lagu dan rekam 24 album

Setidaknya ada lebih dari 700 lagu patah hati yang ditulis oleh Didi Kempot. Sebagian besar lagu tersebut menggunakan Bahasa Jawa yang merupakan bahasa daerah asal sang legenda.

Di beberapa lagunya Didi juga kerap menggunakan nama-nama tempat di lagu-lagunya, seperti Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Tanjung Mas Ninggal Janji dan lain sebagainya.

Ketertarikannya membuat lagu dengan menyebut nama tempat, karena ia yakin sebuah tempat pasti punya kenangan tersendiri bagi setiap orang.

Meski tidak semua lagu yang dituliskannya masuk ke dalam album yang dirilisnya, Didi Kempot sangat produktif memproduksi album loh. Setidaknya ada 24 album rekaman yang dibuatnya sejak album Cidro pada 1989 sampai album Didi Kempot Live Studio Session yang dirilis 2018 lalu.

6. Rajin dapat penghargaan

Selama lebih dari 30 tahun berkarya, Didi menghiasi 13 tahun diantaranya dengan berbagai piagam penghargaan yang berhasil dimenangkan atau masuk dalam nominasi.

Dimulai dari tahun 2001, di mana ia menyabet penghargaan Anugerah Musik Indonesia untuk kategori Artis Solo Pria Terbaik dan Penyanyi Terbaik.

Sampai terakhir tahun 2019 lalu, ia menyabet penghargaan Indonesian Dangdut Award untuk tiga kategori yaitu Lagu Dangdut Terpopuler, Penyanyi Dangdut Solo Pria Terpopuler, serta Penghargaan Khusus Maestro Campursari.

7. Gelar ‘the Godfather of Broken Heart

Adalah komunitas Sobat Ambyar yang mentahbiskan gelar Bapak Patah Hati Nasional alias the Godfather of Broken Heart kepada Didi Kempot.

Komunitas ini berisikan anak-anak muda yang terbentuk pertama kali pada sebuah acara Musyawarah Nasional Solo Sad Bois Club, suatu fanbase Didi Kempot di Solo pada 15 Juni 2019.

Pengalaman patah hati yang sering dialami generasi milenial, membuat lagu-lagu Didi Kempot semakin populer dan berhasil menggaet pendengar dari berbagai generasi.

Kehadiran Sobat Ambyar juga membuat para penggemar karya Didi Kempot menjadi lebih terorganisir dan menggabungkan para Kempoters serta Sad Boys dan Sad Girls ke dalam satu barisan.

8. Brand Ambyarssador Shopee

Tahun lalu bintang sepakbola klub Juventus asal Portugal Cristiano Ronaldo, bisa dibilang sangat beruntung berdampingan dengan Didi Kempot menjadi duta merek marketplace raksasa Shopee di Indonesia.

Ya, Desember 2019 lalu, Didi resmi diangkat sebagai brand ambyarssador untuk Shopee Indonesia. Ia pun sukses memeriahkan acara TV Show Shopee 12.12 Birthday Sale silam dengan membawakan lagu-lagu hits seperti Pamer Bojo, Sewu Kutho, dan lainnya. Di awal tahun ini, Didi turut mewarnai kampanye diskon Shopee 2.2 Men Sale.

9. Konser amal Covid-19 dan lagu Ojo Mudik

Didi Kempot dikenal sebagai musisi yang rendah hati dan selalu bersemangat dalam membantu sesama. Beberapa konser amal digelar Didi untuk membantu warga di berbagai kota yang sedang terkena musibah.

Terakhir, tepatnya pada 11 April 2020 lalu, Didi Kempot menggandeng KompasTV untuk membantunya menyiarkan konser amal dari rumah.

Tujuan dari konser tersebut tidak lain untuk mengumpulkan donasi yang seluruh dananya disalurkan untuk penanganan pandemi Covid-19 alias virus Corona di Indonesia.

Dana yang terkumpul tidak main-main, totalnya mencapai Rp7,6 miliar, dan telah disalurkan kepada relawan dan pihak-pihak yang membutuhkan.

(Baca juga: Ragam Aksi Sosial Relawan Corona di Indonesia yang Inspiratif)

Bisa dibilang konser Didi Kempot merupakan konser amal yang mengumpulkan donasi paling besar sepanjang sejarah industri musik nasional.

Tidak hanya itu, Didi juga membantu Pemerintah Kota Solo untuk menekan penyebaran virus Corona dengan cara yang sangat dikuasainya, yaitu menulis lagu berjudul Ojo Mudik.

Dilansir dari kanal YouTube Didi Kempot, lagu itu berisi ajakan agar masyarakat melawan virus Corona dengan menjaga jarak, rajin cuci tangan, berada di rumah saja, dan tidak mudik pada musim Lebaran tahun ini.

Video yang diunggah pada 28 April 2020 lalu telah dilihat sebanyak 619.593 kali sampai kemarin, Senin (5/5). dan sempat menjadi video nomor 25 terpopuler di Indonesia.

5 Lagu Populer Didi Kempot

Dari 700-an lagu yang ditulisnya, beberapa lagu melekat erat di benak para penggemar Didi Kempot karena mewakili pengalaman patah hati yang pernah mereka alami. Berikut adalah 5 lagu Didi Kempot yang paling ambyar:

1. Cidro

Lagu Cidro yang dibuat Didi Kempot di awal dirinya merintis karier di dunia musik, kembali nge-hits setelah diaransemen ulang pada 2017 silam.

Cidro menceritakan pengalaman pribadi Didi Kempot yang patah hati karena hubungannya tidak direstui orang tua sang kekasih. Lebih parahnya lagi, setelah ingkar janji, sang kekasih juga meninggalkan dirinya.

2. Stasiun Balapan

Pada tahun 1999, hampir seluruh radio dan stasiun televisi di Indonesia memutar lagu Stasiun Balapan milik Didi Kempot.

Masih bertema patah hati, Didi melantunkan lirik yang menceritakan pedihnya melepas kepergian kekasih dari stasiun kereta api di kota Solo, sampai akhirnya pujaan hatinya tersebut lupa untuk kembali.

3. Pamer Bojo

Anggota Sobat Ambyar pasti pernah merasakan ditinggal menikah oleh kekasih atau mantan. Tidak heran kalau lagu Pamer Bojo dari Didi Kempot ini sangat populer karena menceritakan tentang seseorang yang sangat setia menunggu kembalinya sang kekasih.

Namun ternyata saat bertemu sudah menikah dengan orang lain. Auto nangis gak sih dengernya? Cendol dawet.. cendol dawet..

4. Sewu Kuto

Lagu Sewu Kuto juga populer karena menceritakan perjuangan seseorang dalam mencari kekasihnya yang pergi tanpa memberi kabar. Rasa rindu yang berkecamuk, membuatnya memutuskan untuk mencari sang pujaan hati sampai melalui lebih dari 1.000 kota (Sewu Kuto).

5. Suket Teki

Saking populernya lagu ini, sampai banyak penyanyi lain membawakan lagu Suket Teki milik Didi Kempot. Beberapa diantaranya adalah Nella Karisma dan Via Vallen.

Lirik dari lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang patah hati akibat dikhianati oleh pasangannya. Rasa sakit itulah yang membuatnya untuk mengalah dan berkorban perasaan dengan pamit mundur dari upaya memperjuangkan sang kekasih.

Selamat jalan Pakdhe Didi Kempot, the Godfather of Broken Heart jutaan Sobat Ambyar di Indonesia. Karyamu akan selalu dilantunkan setiap kali kami patah hati.   

Tentang Penulis

Gentur Putro Jati

Ego in debitum, ergo sum