Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Perkembangan TV Berlangganan di Indonesia

by JTO on 2 September, 2014

Minimnya tayangan yang diberikan oleh siaran televisi (TV) lokal, membuat banyak orang saat ini akhirnya memilih untuk menggunakan layanan TV berlangganan. Namun, bagaimana sejarah TV berlangganan di Indonesia dimulai? Berikut ulasannya.

Berkembangnya TV berlangganan di Indonesia baru dimulai pada era 90-an. Indovision mengklaim dirinya sebagai perusahaan televisi berlangganan pertama yang mengaplikasikan sistem DBS dengan menggunakan satelit Palapa C-2 sejak pertama berdiri pada bulan Agustus 1988.

Walau begitu, dibawah Skyvision –anak perusahaan PT Media Nusantara Citra (MNC) – Indovision baru pertamakali diluncurkan pada tahun 1994. Sebagai pemain pertama dalam industri TV berlangganan, produk inipun belum mampu merambah pasar secara luas karena harganya yang masih mahal. Hingga, sebagian besar pelanggannya hanya masyarakat menengah ke atas.

Kemunculan Indovision sebagai penyedia TV berlangganan pertama ini membawa pengaruh besar pada perkembangan dan sejarah TV berlangganan di Indonesia. Salah satunya adalah masuknya pemain-pemain baru. Buktinya, tidak lama setelah Indovision hadir di pasaran, PT Broadband Multimedia – kini bernama PT First Media –  menghadirkan dua mereknya, yaitu Kabelvision dan Digital1.

(Baca juga: Memilih TV Berlangganan Terbaik)

Muncul 5 Pemain

Setelah hampir 5 tahun bersaing, akhirnya pada pada tahun 1999 muncul Telkomvision. Provider ini merupakan produk dari PT Indonusa Telemedia, yang merupakan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom Indonesia).

Kemudian, PT Indosat Mega Media menyusul dengan meluncurkan produk televisi berlangganan sekaligus koneksi internet dengan merek dagang Indosat M2. Selanjutnya, pada 2006 muncul provider asal Malaysia dengan produk Astro yang dipegang oleh PT Direct Vision untuk wilayah Indonesia.

Hingga 2007, tercatat hanya ada lima pemain di industri televisi berlangganan yang sudah beroperasi, yaitu Indovision, Astro, First Media, IM2 dan TelkomVision. Namun, kini jumlah tersebut telah bertambah. Jumlah perusahaan yang telah mengantongi Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) jasa televisi berbayar sudah berkembang dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya.

Beberapa perusahaan baru itu diantaranya adalah PT Nusantara Vision (Oke Vision), PT Media Commerce Indonesia (B-Vision), PT Cipta Skynindo (I-Sky-Net), PT Global Comm Nusantara (Safuan TV), PT Mentari Multimedia (M2TV)  serta PT Karya Megah Adijaya (Aora TV yang sebelumnya memiliki izin nama Citra TV). Namun, sejak tanggal 20 Oktober 2008, Astro menghentikan siarannya di Indonesia karena berakhirnya lisensi penggunaan merek dagang Astro.

Hak Siar BPL Jadi Unggulan

Kini, layanan TV berbayar telah dihiasi oleh berbagai provider yang mengklaim layanannya adalah TV berlangganan terbaik atau TV berlangganan murah. Dengan munculnya berbagai layanan tersebut, para konsumen pun ditantang untuk selalu melakukan perbandingan harga TV berlangganan dan layanan yang ditawarkan.

Untuk menggaet pelanggannya, tidak jarang saat ini banyak layanan TV berlangganan yang memberikan promo menggiurkan dari paket-paket yang ditawarkan. Perkembangan TV berbayar di Indonesia pun semakin bersinar.

Hadirnya operator TV berlangganan di Indonesia memberikan alternatif baru bagi masyarakat untuk memilih acara-acara yang menarik yang ditawarkan seperti HBO, ESPN, Fashion TV, Discovery Channel, CNN, dan lain-lain. Pay TV juga menawarkan kenyamanan lebih dalam menonton TV dengan tidak adanya jeda iklan di sela-sela tayangan yang disajikan.

Pada tahun 2012 hadir Topas TV, yaitu televisi berlangganan yang diluncurkan di Bandung, Jawa Barat. Topas TV adalah bagian dari Grup Mayapada yang memiliki saham di bidang perbankan, multifinance, properti, media, retail, dan travel.

Melalui siarannya, Topas TV menargetkan jangkauan pemasarannya meliputi semua kota-kota besar di Indonesia, hingga ke desa-desa terpencil.

(Baca juga: Keuntungan Gunakan TV Berlangganan)

2% Per Tahun

Selanjutnya pada Maret 2013, melalui PT Digital Vision Nusantara, Kelompok Kompas Gramedia meluncurkan TV berbayar berbasis satelit bernama K-Vision. Dengan investasi sebesar Rp 1 trilun untuk peluncurannya, K-Vision mematok target 1 juta pelanggan pada tahun 2014 ini.

Di tahun yang sama, jalur voucher prabayar dijalani oleh PT Mega Media Indonesia, lewat merek dagang Orange TV. Sampai kini, Orange TV yang berbasis satelit memiliki siaran unggulan dengan mengantongi hak siar Liga Inggris (Barclay’s Premier League\BPL) selama musim pertandingan 2013-2014, dan 2015-2016.

Saking popularnya hak siar BPL, siaran ini pun dimiliki beberapa layanan TV berlangganan lain. Sebut saja PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK) melalui layanan TV berbayar berbasis digital terestrialnya bernama Nexmedia, serta PT First Media Tbk.

Pada Oktober 2013, hadir Big TV, yaitu TV berlangganan yang berada dalam portofolio bisnis Lippo Grup dan dikelola oleh PT Indonesia Media Televisi (IMTV). Seakan tidak mau kalah, anak usaha PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), yakni PT Digital Media Asia meluncurkan TV berbayar berbasis satelit VIVA+ pada 22 April 2014.

Dalam peluncurannya, diketahui investasi VIVA+ sekitar US$ 150 juta, dan target pelanggan dipatok 300.000 sampai 400.000 pelanggan hingga akhir 2014.

Walau mengalami perkembangan yang cukup berarti, perkembangan TV berlangganan di Indonesia masih rendah. Hal itu dikemukakan oleh hasil riset yang dilaporkan oleh Pricewaterhouse Coopers (PWC) pada 2013 yang melaporkan bahwa perkembangan industri televisi berbayar di Indonesia merupakan yang paling lambat di Asia.

Sebab, industri ini hanya mampu penetrasi ke 3% rumah tangga atau sekitar 1,3 juta rumah di berbagai daerah pada 2010. Dalam riset ini, pertumbuhan pasar televisi berbayar di Indonesia hanya berkisar 2% per tahun, dan angka itu jauh di bawah Vietnam, Malaysia, bahkan Pakistan.

Bandingkan sekarang juga puluhan paket TV dan Internet yaitu BigTV, OrangeTV, Indovision bisa berlangganan secara online di sini.

Tentang Penulis

Penulis dan jurnalis yang menetap di tanjung laut Batavia.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami