Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

Pernah Jadi Tempat Pengasingan Tokoh Bangsa, Kini Tempat Ini Jadi Destinasi Wisata Seru

by Ariesta on 25 Januari, 2016

Negara Indonesia lahir tak lepas dari perjuangan para tokoh bangsa. Soekarno, Moh Hatta, Syahrir, rela diasingkan demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Daripada bekerja sama dengan Belanda, mereka lebih memiling dibuang ke tempat terpencil.

Bukannya menyerah, saat diasingkan inilah mereka justru melahirkan ide dan cita-cita baru. Tujuh puluh tahun telah berlalu sejak proklamasi dibacakan. Kini tempat pengasingan tersebut beralih fungsi menjadi destinasi wisata.

Bagi kamu yang bosan dengan wisata mainstream namun senang belajar sejarah, tempat-tempat berikut ini wajib kamu kunjungi.

Boven Digoel, Papua

Monumen Patung Wakil Presiden Republik Indonesia I Mohammad Hatta berdiri kokoh di kompleks Situs penjara dan kamp pengasingan Boven Digoel di Tanah Merah, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, Senin (13/4). Sebagian bekas penjara dan kamp pengungsian masih terawat hingga sekarang. Namun demikian, rumah-rumah pengasingan lainnya telah berubah fungsi dan rusak. Di tempat ini, Bung Hatta bersama tokoh-tokoh pergerakan nasional pernah diasingkan. Kompas/Aloysius Budi Kurniawan (ABK) 13-05-2015

Boven Digoel merupakan kamp konsentrasi pertama yang dibuat di Indonesia oleh Belanda. Letaknya berada di Tanah Merah, Provinsi Papua. Kamp konsentrasi ini sengaja dibangun di pinggir Sungai Digoel yang dahulu masih banyak dihuni buaya-buaya buas dengan alasan agar tahanan tidak mudah dikunjungi.

(Baca juga: Traveling ke Pulau Jawa, Pilih Naik Pesawat atau Kereta Api?)

Tak hanya buaya, kondisi alam di Boven Digoel juga terbilang keras, suhu udara di sana panas, dan dikelilingi hutan lebat.  Para tahanan juga terancam penyakit malaria dan beri-beri. Umumnya, orang-orang yang dibuang keDigoel adalah orang-orang yang memiliki pengaruh tinggi.

Sekarang, bekas penjara Boven Digoel menjadi bangunan cagar budaya. Jika berkunjung ke sana, kamu bisa melihat ruang tahanan dan menara pengawas penjara yang sayangnya kurang terurus.

Meski sekarang Digoel sudah dihuni kaum transmigran, daerah ini masih agak terisolasi karena akses perjalanan darat yang jauh. Dibutuhkan waktu minimal delapan jam dari Merauke dengan kondisi jalanan rusak.

Rencanakan liburan yang lebih aman dengan asuransi perjalanan di sini.

Widget TRV Insurance

Ende, Flores

Soekarno Ende

Selain terkenal dengan alamnya yang indah, Flores juga menyajikan wisata sejarah yang tidak kalah menarik. Soekarno, presiden pertama Indonesia, sempat diasingkan oleh pemerintah Kolonial Belanda selama empat tahun di Ende.

Sejak 1934 sampai 1938, Soekarno ditahan di sana dengan tujuan mengerem aktivitas politiknya dan menjauhkannya dari rekan-rekan seperjuangan di Pulau Jawa.

Bukannya frustrasi dan putuh harapan, Soekarno justru rajin berinteraksi dengan warga lokal Ende. Bahkan konon katanya, ideologi kebangsaan Pancasila lahir saat sang bapak bangsa tengah duduk merenung di bawah pohon sukun berbatang lima.

Untuk mengenang momen tersebut, didirikan patung Soekarno berpose duduk di bawah pohon Ende. Kamu juga bisa mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno. Rumah tersebut bercat putih dengan jendela dan pintu kayu sederhana.

Pilihan kartu kredit yang bisa kasih bonus liburan gratis ada di sini.

Rengasdenglok, Karawang, Jawa Barat

Rengasdenglok

Pada 16 Agustus 45 dini hari, Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana serta pemuda lainnya menculik Soekarno dan Hatta agar keduanya tidak terpengaruh dan segera merumuskan perihal kemerdekaan Indonesia.

Rengasdengklok dipilih karena lokasinya yang berjarak sekitar 81 kilometer dari Jakarta jauh dari pengawasan tentara Jepang. Para pemuda memilih rumah Djiauw Kie Siong  karena dekat dengan markas Peta yang sekarang dijadikan Monumen Kebulatan Tekad.

Ternyata lokasi rumah yang sekarang bukan lokasi asli rumah Djiauw Kie Siong. Rumah aslinya berada di pinggiran Sungai Citarum dan dipindahkan ke lokasi yang berjarak sekitar 150 pada tahun 1957 untuk menghindari erosi sungai.

(Baca juga: Tiga Biaya yang Sering Dilupakan Para Traveler saat Liburan)

Arsitektur dan beberapa perabotan masih dipertahankan keasliannya termasuk ranjang asli tempat Bung Hatta beristirahat. Sayangnya, tidak ada informasi atau keterangan yang menjelaskan peristiwa pengasingan tersebut. Padahal rumah tersebut merupakan bagian penting dari sejarah kemerdekaan Indonesia.

Banda Neira, Maluku

Banda Neira

Di tempat ini, Bung Hatta dan  pejuang kemerdekaan lainnya seperti Sutan Syahrir, Dr.Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri diasingkan. Dulunya Banda Neira terkenal sebagai pulau penghasil rempah-rempah.

Ada yang menarik dari rumah pengasingan Bung Hatta. Meski sudah sedikit lapuk, meja, serta kursi sudah berdebu, masih terdapat samar-samar tulisan tangan Bung Hatta di papan tulis. Saat pengasingan, Bung Hatta memang senang mengajar anak-anak lokal.

(Baca juga: Mau Merasakan Sensasi Jadi Astronot? Ayo Liburan ke Tempat Ini)

Tak hanya rumah pengasingan, kamu juga wajib Benteng Belgica, Istana Mini Neira tempat gubernur VOC tinggal, dan rumah budaya.

Di rumah budaya inilah diceritakan sejarah pembantaian orang terpandang di Banda oleh VOC, berbagai jenis meriam, dan barang-barang peninggalan VOC. Ditambah dengan panorama laut yang indah, Banda Neira adalah destinasi wisata kaya wawasan di timur Indonesia.

Tentang Penulis