Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

5 menit waktu bacaan

Pilih Mana, Tinggal di Rumah atau Apartemen?

by Sindhi Aderianti on 11 February, 2019

Tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Jika berkhayal sejenak, apabila Anda punya uang tunai sebesar Rp 30 juta, kira-kira jenis hunian seperti apa yang tepat untuk dibeli, Rumah atau apartemen?

Pada dasarnya, ada banyak pilihan tempat tinggal untuk dihuni. Meski demikian, harga tanah yang cenderung tinggi di lokasi strategis membuat sebagian orang mulai melirik hunian vertikal sebagai alternatif. 

Hunian vertikal seperti apartemen contohnya, memang lebih diincar saat ini. Semakin terbatasnya jumlah lahan membuat jenis hunian ini menjelma menjadi salah satu primadona bagi para pencari tempat tinggal.

Tinggal di Apartemen Praktis, Tapi…

Sebuah riset gabungan mengenai hunian di Harvard University pada 2014 memaparkan, orang-orang pada rentang usia 25 hingga 34 tahun cenderung kurang tertarik membeli rumah. Mereka lebih senang tinggal di apartemen.

Alasan teratas bermuara pada urusan finansial. Dengan uang Rp 30 juta tadi, bukan tidak mungkin Anda bisa mendapatkan satu unit apartemen untuk disewa selama kurang lebih setahun.

Tipenya juga bukan sembarangan, bisa dapat yang isinya 2 kamar sekaligus. Selain karena alasan harga, rumah tapak yang lokasinya sesuai keinginan juga mulai terbatas.

Beberapa orang yang tinggal di perkotaan menganggap, apartemen lebih mudah diakses dari lokasi aktivitas seperti sentral bisnis dan komersial. Letaknya strategis pula, karena umumnya berada di pusat kota.

Keuntungan lain tinggal di apartemen, tak lain beragam fasilitasnya yang membuat hidup terasa lebih praktis. Dari mulai security 24 jam, parkir yang luas, area fitness, hingga tempat perbelajaan.

Perawatan sekitar hunian pun cukup di dalam rumah saja, misalnya menyapu atau mengepel rumah secara rutin. Akan tetapi di sisi lain, apartemen juga banyak memiliki kekurangan.

Terutama dari segi biaya perawatan yang jauh lebih besar. Untuk satu bulan saja, tagihannya bisa mencapai Rp 3,5 juta.

Instrumen biaya tersebut termasuk didalamnya biaya listrik untuk fasilitas umum, biaya perawatan, biaya air dan termasuk didalamnya biaya untuk konsumsi listrik pribadi. Itu sebabnya, kata Agoes, tarif pemeliharaan yang dikenakan kepada para pemilik unit apartemen berbeda dengan tarif pemeliharaan lingkungan di perumahan.

(Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Tinggal di Apartemen)

Sertifikasi Apartemen yang Tricky

Pada umumnya bila Anda membeli rumah, ada sertifikat yang akan didapat. Sertifikat tersebut bernama Hak Milik (SHM).

Selain kepemilikannya jelas, juga bisa dimiliki sepanjang Anda mau. Nah, lain cerita kalau mempunyai apartemen.

Hak kepemilikan apartemen jauh lebih kompleks. Anda yang pemula, tentu akan sedikit bingung dengan hal ini.

Berdasarkan status tanahnya, apartemen digolongkan menjadi Tanah Negara, Tanah Hak Milik dan Tanah Pengelolaan. Tapi intinya, pemilik apartemen hanya mendapat Hak Guna Bangunan (HGB). 

Artinya, apartemen berada di atas tanah yang milik developer. Sehingga Anda hanya dapat menggunakan apartemen tersebut hingga 20 tahun. Untuk selanjutnya HGB harus diperpanjang degan sejumlah biaya.

Meski begitu ada juga Apartemen yang memiliki status hak milik bersama atau dikenal dengan istilah strata title. Namun biasanya untuk unit yang seperti ini biasanya tidak banyak dan biayanya relatif lebih mahal. 

(Baca juga: Alasan Mengapa Investasi Apartemen Sangat Menjanjikan)

Alasan Kenapa Sebaiknya Memilih Rumah

Perencana keuangan Eko Endarto menjelaskan, rumah tapak merupakan aset yang lebih baik dibanding apartemen. Mengapa? Karena dari tahun ke tahun, nilainya akan terus meningkat mengikuti laju inflasi.

Sertifikatnya pun jelas, yakni Hak Milik tanpa embel-embel lain. Dengan begitu Anda bisa bisa memperjual belikannya, menggadaikannya, bahkan mewariskannya secara turun temurun.

Mungkin Anda tidak akan mendapat fasilitas mewah layaknya apartemen, tapi setidaknya privasi lebih terjaga karena tidak harus berhadapan dengan banyak orang ketika berlalu-lalang.

Biaya bulanan yang harus dikeluarkan untuk berbagai tagihan, seperti listrik dan air, akan lebih murah. Anda juga terbebas dari parking fee.

Bila suatu hari nanti butuh pinjaman, rumah tersebut bisa pula Anda jadikan sebagai aset jaminan. Tapi, hal ini umumnya baru bisa dilakukan setelah Anda mencicil Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) selama dua tahun.

(Baca juga: Ini Bedanya Rusun, Apartemen dan Kondominium)

Jadikan KPR Solusinya

Ingin memiliki rumah, tapi dana terbatas? Tak perlu khawatir selama masih ada layanan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Memanfaatkan layanan KPR, berarti Anda dapat membeli rumah dengan cara menyicil dan memilih jangka waktu pembayaran kreditnya sesuai kemampuan. 

Ada tenor berjangka waktu pendek dan panjang. Lama tenor tersebut juga mempengaruhi jumlah cicilan yang harus dibayar. Sebagai contoh, Anda berusia 25 tahun kemudian mengambil rumah dengan jangka waktu cicilan 30 tahun, ini akan meringankan biaya cicilan per bulannya.

Meski bisa dihitung, cicilan rumah baru selesai pada usia pensiun yakni 55 tahun. Anda tinggal menikmati nilai investasinya yang terus bertumbuh setiap tahun saja.

Melalui CekAja.com, Anda bisa memilih beragam produk KPR. Entah itu dari bank atau perusahaan pembiayaan untuk mengurus kredit rumah yang Anda inginkan.

Selain itu, customer service CekAja juga siap menghubungi Anda untuk membantu menerangkan beragam produk yang tersedia.

(Baca juga: 4 Tips Aman Beli Apartemen untuk Anak Muda)

Syarat Pengajuan KPR

Syarat yang harus dipenuhi untuk pengajuan kredit online sama dengan persyaratan pengajuan permohonan kredit pada umumnya:

  • Warga Negara Indonesia (WNI), dan berdomisili di Indonesia
  • Berusia minimal 21 tahun; pada saat kredit berakhir maksimal berusia 55 tahun (pegawa), dan 60 tahun (profesional/wiraswasta)
  • Memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap, sebagai pegawai/profesional/wiraswasta, dengan masa kerja/usaha minimal 1 (satu) tahun (pegawai), atau 2 (dua) tahun (profesional/wiraswasta)
  • Nilai penghasilan tetap per bulan, minimal Rp 3 juta (bisa berbeda untuk wilayah di luar Jabodetabek)

Untuk dokumen yang dibutuhkan, pengajuan KPR untuk rumah baru dan bekas tentu berbeda. Proses pengajuan kredit rumah baru juga biasanya dibantu pihak pengembang, sementara KPR rumah bekas harus Anda urus sendiri.

Dengan beberapa kelebihan dan kekurangan yang ada, pilihan untuk membeli suatu hunian kembali lagi pada kebutuhan masing-masing. Melihat beberapa sisi positif dari memiliki rumah, setidaknya bisa menjadi bahan pertimbangan Anda kelak.

Tentang Penulis

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.

×

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami