Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

Pinjaman Syariah atau Pinjaman dari Bank Konvensional, Mana Yang Lebih Untung?

by lhmdi on 8 June, 2016

Mengajukan pinjaman melalui bank konvensional memang sudah biasa dilakukan. Namun, selain itu masyarakat kini dimudahkan dengan pinjaman syariah yang juga dikeluarkan oleh beberapa bank serta beberapa lembaga keuangan lainnya.

Hampir sama dengan bank konvensional yang menawarkan pinjaman tanpa agunan, bank syariah pun memiliki produk yang sama, yaitu masyarakat dapat meminjam sejumlah dana tanpa menggunakan jaminan.

Secara umum, perbedaan paling mendasar dari pinjaman dari bank konvensional dengan bank syariah. adalah bunga. Saat mengajukan pinjaman di bank konvensional, pastinya calon nasabah akan dibebankan dengan biaya bunga sebagai sebagai bentuk imbalan bagi bank setelah meminjamkan dana dengan jumlah yang telah disepakati.

Sementara itu, pinjaman syariah sebaliknya, tidak mengenal istilah bunga, namun disebut sebagai bagi hasil karena dibuat dengan bentuk kemitraan atau kerjasama antara bank dan calon nasabah.

Selain bunga ternyata masih banyak lagi perbedaan antara pinjaman bank konvensional dengan pinjaman bank syariah. Apa saja ya?

  1. Tambahan label halal

Pinjaman bank syariah

Jika ingin melakukan pinjaman secara syariah nasabah, bank biasanya akan menambahkan label halal. Maksudnya, pinjaman ini nantinya akan ditujukan untuk hal-hal yang bersifat halal. Beberapa bank pun bahkan menawarkan pinjaman untuk kebutuhan ibadah Umrah atau Haji.

Selain itu pinjaman ini ternyata juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan seperti kepemilikan kendaraan bermotor, tanah, hingga logam mulia hingga menambah modal bisnis.

Pinjaman bank konvensional

Tidak ada label halal ketika akan melakukan pinjaman di bank konvensional. Asalkan peminjaman ditujukan untuk memenuhi kebutuhan seorang calon nasabah serta kesanggupan membayar cicilan beserta bunga dan persyaratan lainnya, maka bank bisa saja meminjamkan sejumlah dana untuk kebutuhan calon nasabah.

  1. Proses peminjaman yang berbeda

Setiap bank memiliki standarnya masing-masing terkait dengan pinjaman syariah. Plafon yang disediakan oleh masing-masing bank pun berbeda. Mulai dari nominal kecil seperti Rp 5.000.000 hingga nominal besar senilai Rp 200 juta. Begitu pula dengan jangka waktu pinjaman yang bervariasi, mulai dari satu hingga empat tahun.

Misalnya, ketika nasabah mengajukan pinjaman untuk pembelian kendaraan bermotor, maka dalam perhitungan syariah disebutkan calon nasabah membeli kendaraan sesuai dengan harga pokok yang telah disepakati ditambah dengan nilai margin yang ditentukan pihak bank sebagai bentuk keuntungan.

Sementara itu, pinjaman melalui bank konvensional menerapkan bunga sebagai keuntungan bank meskipun jumlah peminjaman dan jangka waktu bervariasi. Jumlah bunganya pun berbeda-beda tergantung pada jumlah nominal pinjaman.

Istilah zakat

Saat pinjaman syariah dilakukan, maka bank akan menawarkan calon nasabah untuk aktif untuk pembayaran zakat. Jika melakukan pinjaman di bank syariah, 2.5% keuntungan yang diperoleh bank syariah disebut akan disalurkan untuk pembayaran zakat.

Jika ingin meminjam di bank konvensional tidak pernah persyaratan yang menjelaskan bahwa keuntungan yang diperoleh bank akan dibayarkan untuk zakat.

Tentang Penulis

Penulis yang hobi traveling ke daerah pelosok yang belum terjamah.