Pinjaman Untuk Ibu Rumah Tangga, Inilah Pilihan Yang Cocok!

6 min. membaca Oleh Teti Purwanti on

Banyak ibu rumah tangga yang bekerja mengurus kebutuhan rumah tangga sehari-hari dan sudah meninggalkan kursi kerjanya di kantor. Banyak yang mulai berhenti bekerja kantoran setelah sudah memiliki anak.

pinjaman untuk ibu rumah tangga

Oleh karena itu, kondisi keuangan rumah tangga pada awal-awal seorang ibu berhenti kerja mulai goyah. Karena biasanya disokong oleh pendapatan dari suami dan istri, kini sumber pendapatan hanya bertumpu dari penghasilan suami saja.

Namun, banyak hal yang bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga untuk turut andil dan berkontribusi membantu keuangan keluarga. Salah satunya adalah dengan membuka usaha ataupun bisnis rumahan.

Akan tetapi, pada saat ingin memulai usaha biasanya terkendala masalah pendanaan untuk modal usaha. karena uang dari suami tidak cukup untuk dijadikan modal.

Apabila menghadapi kondisi seperti ini, tidak perlu khawatir. Karena tersedia beberapa opsi yang bisa dijadikan tujuan untuk mengajukan pinjaman untuk ibu rumah tangga sebagai sumber modal usaha. Sehingga pada saat usaha sudah berjalan nantinya, bisa membantu keuangan keluarga.

Beberapa opsi tersebut antara lain:

Pembiayaan Ultra Mikro (UMi)

Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) merupakan program tahap lanjutan dari program bantuan sosial menjadi kemandirian usaha yang menyasar usaha mikro yang berada di lapisan terbawah, yang belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

UMi memberikan fasilitas pembiayaan maksimal Rp10 juta per nasabah dan disalurkan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB). UMi adalah program pembiayaan dari pemerintah untuk memberdayakan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga.

Pemerintah menunjuk Badan Layanan Umum Pusat Investasi Pemerintah (BLU PIP) sebagai coordinated fund pembiayaan UMi. Pembiayaan UMi disalurkan melalui Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).

Saat ini lembaga yang menyalurkan pembiayaan UMi antara lain: PT Pegadaian (Persero), PT Bahana Artha Ventura, serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Sumber pendanaan berasal dari APBN, kontribusi pemerintah daerah dan lembaga-lembaga keuangan, baik domestik maupun global.

BLU PIP memberikan pinjaman ke LKBB dengan bunga 2-4 persen per tahun. Adapun, bunga yang dikenakan LKBB untuk debitur bervariasi, mulai dari 8-12 persen per tahun. Besaran bunga ini jauh lebih ringan daripada pinjaman dari perbankan seperti Kredit Tanpa Agunan.

UMi menawarkan pinjaman jangka pendek, yaitu dengan tenor hingga 52 minggu dan plafon pinjaman hingga Rp 10 juta.

Agar ibu rumah tangga bisa mendapatkan pinjaman tanpa agunan dari pembiayaan UMi ini, pengajuan harus dilakukan secara kelompok agar nantinya LKBB terkait dapat memberikan pendampingan dan pelatihan secara intensif sehingga pengelolaan dana pinjaman dan pelaksanaan usaha jadi lebih efektif.

Setelah usaha yang dijalani berkembang dan debitur memiliki aset yang dapat dijaminkan, barulah debitur bisa lepas dari kelompok dan dapat mengambil pinjaman dengan skema individu.

Persyaratan yang diperlukan untuk pengajuan UMi

Agar bisa mengajukan pembiayaan dari UMi, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi selain melakukan pengajuan pinjaman secara berkelompok.

Persyaratan yang harus dipenuhi antara lain:
A. Tidak sedang dibiayai oleh lembaga keuangan/koperasi
B. Warga Negara Indonesia (WNI) dan memiliki KTP
C. Memiliki izin usaha/keterangan usaha dari instansi pemerintah dan/atau surat keterangan usaha dari penyalur

Hal yang perlu dipahami dari pembiayaan UMi adalah debitur UMi hanya bisa mengajukan pinjaman maksimal selama 48 bulan atau empat tahun. Dengan catatan usaha yang dijalani masih dalam kategori usaha mikro.

Apabila kamu telah mengajukan pinjaman UMi dengan tenor selama 6 bulan, maka sisa hak kamu untuk bisa mendapatkan pinjaman UMi berikutnya tinggal 42 bulan.

Kredit Usaha Rakyat

Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga merupakan program pemerintah untuk memberikan pembiayaan kepada masyarakat yang ingin menjalankan usaha atau yang sudah memiliki usaha baik skala mikro ataupun ritel.

Dana KUR bisa disalurkan untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, calon tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di luar negeri, calon pekerja magang di luar negeri, serta anggota keluarga dari karyawan/karyawati yang berpenghasilan tetap atau bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia.

Selain itu, KUR juga bisa disalurkan untuk TKI yang pernah bekerja di luar negeri, pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja, pelaku UMKM di wilayah perbatasan dengan negara lain, ataupun kelompok usaha seperti kelompok usaha bersama (KUBE), Gabungan Kelompok Tani dan Nelayan (Gapoktan), dan kelompok usaha lainnya.

Kriteria usaha yang bisa mendapatkan KUR

Berdasarkan keterangan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, kriteria usaha yang bisa mendapatkan pendanaan KUR antara lain:

  • Terdiri atas seluruh anggota yang memiliki usaha produktif dan layak, dan/atau diperbolehkan beberapa anggota merupakan pelaku usaha pemula;
  • Dalam hal anggota Kelompok Usaha terdapat pelaku usaha pemula maka harus memiliki surat rekomendasi pengajuan kredit/pembiayaan dari Ketua Kelompok Usaha;
  • Kegiatan Usaha dapat dilakukan secara mandiri dan/atau bekerja sama dengan mitra usaha
  • Kegiatan Kelompok usaha dilaksanakan untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggotanya;
  • Kelompok Usaha telah memiliki surat keterangan Kelompok Usaha yang diterbitkan oleh dinas/ instansi terkait dan/atau surat keterangan lainnya;
  • Pengajuan permohonan kredit/pembiayaan dilakukan oleh Kelompok Usaha melalui ketua Kelompok Usaha dengan jumlah pengajuan berdasarkan plafon kredit/pembiayaan yang diajukan oleh masing-masing anggota Kelompok Usaha;
  • Perjanjian kredit/pembiayaan untuk Kelompok Usaha dilakukan oleh masing-masing individu anggota Kelompok Usaha dengan Penyalur KUR;
  • Dalam hal hasil penilaian Penyalur atas pengajuan kredit/pembiayaan yang dilakukan oleh Kelompok Usaha membutuhkan agunan tambahan maka Kelompok Usaha dapat memberikan agunan tambahan kolektif yang bersumber dari aset Kelompok Usaha itu sendiri atau aset dari sebagian anggota Kelompok Usaha yang dapat dipertanggungjawabkan melalui mekanisme tanggung renteng;
  • Dalam hal terdapat kegagalan pembayaran angsuran kredit/pembiayaan maka ketua Kelompok Usaha mengkoordinir pelaksanaan mekanisme tanggung renteng antar anggota Kelompok Usaha.

Jangka waktu pinjaman KUR

Pembiayaan melalui KUR memiliki tenor pinjaman yang berbeda-beda, tergantung dengan peruntukan usaha dari pinjaman tersebut.
KUR Mikro tenor pinjaman paling lama 3 tahun untuk kredit ataupun pembiayaan modal kerja, atau paling lama 5 tahun untuk kredit ataupun pembiayaan investasi.

Jangka waktu tersebut apabila diperlukan bisa diperpanjang menjadi maksimal 4 tahun untuk pembiayaan modal kerja dan 7 tahun untuk pembiayaan investasi yang terhitung sejak waktu tanggal perjanjian kredit atau pembiayaan awal.

Total akumulasi plafon termasuk suplesi atau perpanjangan maksimal Rp75.000.000,- (tujuh puluh lima juta rupiah) per penerima KUR.

Selanjutnya, jangka waktu pinjaman untuk KUR Ritel juga sama dengan KUR Mikro, begitupun dengan skema perpanjangan waktunya.

Sementara untuk jangka waktu pinjaman KUR penempatan TKI paling lama sama dengan masa kontrak kerja dan tidak melebihi jangka waktu paling lama 3 tahun.

Suku bunga kredit yang berlaku untuk seluruh jenis KUR sangat terjangkau. Yakni hanya 7% per tahun karena mendapatkan subsidi bunga dari pemerintah.

Total plafon pembiayaan dari KUR ini sebesar Rp25 juta hingga Rp500 juta tergantung pada jenis usaha yang diajukan.

Untuk lebih jelasnya terkait KUR seperti sektor yang bisa mendapatkan pembiayaan, besaran pinjaman, dan lainnya di https://kur.ekon.go.id/

Kredit Tanpa Agunan

Apabila ibu rumah tangga tidak memiliki perkumpulan ataupun kelompok usaha. Sehingga tidak bisa mendapatkan pembiayaan dari UMi, ataupun mungkin tidak bisa mengajukan kredit lewat skema KUR, tidak perlu khawatir. Karena masih ada opsi pendanaan lainnya yang bisa dicoba untuk mendapatkan pinjaman untuk ibu rumah tangga.

Opsi yang bisa dicoba adalah mengajukan pinjaman ke perbankan melalui skema Kredit Tanpa Agunan (KTA) dari perbankan.

Pengajuan KTA saat ini bisa dilakukan secara online tidak perlu datang ke kantor cabang bank sehingga sangat memudahkan dan tidak membuang banyak waktu.

Secara umum, persyaratan yang perlu dipersiapkan untuk pengajuan KTA antara lain:

  • Berkewarganegaraan Indonesia
  • Usia minimal 21 tahun dan maksimal 55 tahun
  • Berpenghasilan tetap minimal Rp2,5 juta per bulan
  • Fotokopi KTP, KK, dan surat nikah bila sudah berkeluarga
  • Fotokopi NPWP pribadi ataupun SPT PPh 21
  • Cetak rekening tabungan 3 bulan terakhir
  • Surat Keterangan Kerja asli dan slip gaji
  • Tagihan kartu kredit terakhir bila ada
  • Salinan SIUP, TDP, NPWP perusahaan untuk wiraswasta
  • Salinan izin praktik profesional untuk profesi tertentu
  • Salinan laporan keuangan untuk wiraswasta
  • Materai

Bunga yang ditawarkan kredit tanpa agunan lebih tinggi daripada bunga pada pinjaman pembiayaan UMi ataupun KUR. Karena tidak mendapatkan subsidi pemerintah.

Bunga yang ditawarkan mulai dari 0,95% per bulan. Dengan limit pinjaman bisa mencapai Rp300 juta dengan tenor pengembalian 12 hingga 60 bulan.

(Baca Juga: Tanpa Riba, Cek Pinjaman Online Syariah Terbaik Ini)

Ketiga sumber pembiayaan tersebut bisa menjadi alternatif pinjaman untuk ibu rumah tangga yang ingin berbisnis dan menjalankan usaha guna menopang dan membantu perekonomian keluarga.

Akan tetapi, sebelum mengajukan pinjaman ada baiknya dibicarakan terlebih dahulu bersama suami. Agar bisa merencanakan usaha, jumlah pinjaman, cara pengembalian, ataupun hal lainnya. Sehingga pinjaman tersebut bisa benar-benar bermanfaat untuk ekonomi keluarga.

Tentang kami

Teti Purwanti

Teti Purwanti