Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Prajogo Pangestu Persembahkan Bintang Jasa Utama untuk Istri dan Karyawan

by Gentur Putro Jati on 21 Agustus, 2019

Rabu (21/8) pagi ini ada pemandangan yang berbeda dari Wisma Barito Pacific, di Kawasan Slipi, Jakarta Barat. Di area lobby kantor pusat beberapa anak usaha Grup Barito Pacific seperti PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, Star Energy, dan SCG Barito Logistics itu terpampang backdrop digital ukuran besar lengkap dengan panggung dan podium, tamu undangan berpakaian batik serba merah, dan berbagai menu prasmanan yang menanti untuk disantap.

Prajogo Pangestu

Tidak lama berselang, master of ceremony (MC) memberikan sejumlah arahan termasuk mempersilakan para tamu VIP untuk menyambut kedatangan seorang pria berusia 75 tahun di kantor tersebut. Pria yang menjadi tokoh utama dari berdirinya Wisma Barito Pacific berikut seluruh anak perusahaan di dalamnya, yaitu Prajogo Pangestu.

Dibalut setelan jas berwarna gelap dengan dasi merah dan peci hitam yang dikenakannya, Prajogo turun dari kendaraan ditemani sang istri, Harlina Tjandinegara dan dua orang cucunya yang beranjak dewasa.

Manajemen perusahaan yang menyambut kedatangan Prajogo, bergantian menyalaminya dan mengucapkan selamat kepada pria yang saat ini menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Barito Pacific Tbk, perusahaan yang dirintisnya sejak 1978 silam.

Bersama istri tercinta dan manajemen perusahaan, Prajogo memasuki area lobby Wisma Barito Pacific diiringi tepuk tangan meriah para tamu undangan yang hadir untuk mengucapkan selamat atas Anugerah Bintang Jasa Utama yang diterimanya dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 15 Agustus 2019 lalu di Istana Negara.

Tentang Bintang Jasa Utama

Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia, setiap tahunnya pemerintah memberikan penghargaan kepada para tokoh nasional yang dianggap berjasa bagi kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa dan negara.

Tahun ini, penghargaan yang diberikan Presiden Jokowi berupa Bintang Mahaputera Utama untuk empat tokoh, Bintang Mahaputera Naraya untuk empat tokoh, Bintang Jasa Utama untuk Prajogo Pangestu dan 14 tokoh lainnya, Bintang Jasa Pratama untuk dua tokoh, Bintang Jasa Naraya untuk satu tokoh, dan tiga tokoh menerima anugerah tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.

Prajogo Pangestu sendiri menerima Bintang Jasa Utama dari pemerintah karena dinilai berperan besar dalam mengembangkan industri petrokimia dan panas bumi di Indonesia melalui dua perusahaan miliknya yaitu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dan Star Energy.

Chandra Asri merupakan produsen petrokimia berupa Polypropylene, Olefins, dan Polyethylene terbesar di Indonesia. Sementara Star Energy adalah operator tiga pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yaitu PLTP Wayang Windu, PLTP Salak, dan PLTP Darajat yang mampu menghasilkan setrum sebesar 875 MW. Menjadikan Star Energy produsen listrik panas bumi terbesar di Indonesia.

“Kita patut bangga, Pimpinan kita Bapak Prajogo Pangestu berhasil menerima penghargaan Bintang Jasa Utama. Suatu penghargaan yang tidak dengan mudah diberikan oleh Pemerintah, karena harus melalui berbagai tahap usulan, seleksi, evaluasi, sampai akhirnya diputuskan oleh Presiden diberikan kepada tokoh-tokoh nasional dan Bapak Prajogo salah satunya,” ujar Presiden Komisaris Chandra Asri, Djoko Suyanto saat memberikan kata sambutan di acara tersebut.

Cerita Prajogo Pangestu

Lahir 75 tahun lalu di Sambas, Kalimantan Barat dengan nama Phang Djoem Phen, Prajogo berasal dari keluarga penyadap getah karet yang hidup dari penghasilan pas-pasan sang Ayah, Phang Siu On.

Usai menamatkan sekolah tingkat menengah pertama, kesulitan ekonomi keluarga membuat Prajogo nekat merantau ke Jakarta untuk mengubah nasib.

Sayangnya, Ibu Kota masih terlalu kejam bagi Prajogo remaja, yang akhirnya memutuskan kembali ke Kalimantan dan mendapat pekerjaan sebagai sopir angkutan umum. Profesi yang kemudian mempertemukannya dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Bong Sun On atau lebih dikenal dengan panggilan Burhan Uray pada 1960-an.

Burhan merupakan pemilik PT Djajanti Group, tempat Prajogo beralih profesi menjadi karyawan mulai 1969. Kerja keras yang ditunjukkan Prajogo selama 7 tahun, membuat Burhan mempercayakan jabatan General Manager Pabrik Plywood Nusantara yang juga dimilikinya di Gresik, Jawa Timur.

Satu tahun berselang, Prajogo muda memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan untuk memulai bisnis sendiri bermodal pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Uang tersebut ia gunakan untuk membeli CV Pacific Lumber Coy yang kemudian diganti namanya menjadi PT Barito Pacific Lumber.

Bisnis kayu yang digeluti Prajogo membuat Barito Pacific Lumber tumbuh semakin besar. Pada 1993, Prajogo membawa perusahaannya melantai di bursa efek dan menjadi salah satu perusahaan publik terbesar di Indonesia.

Dalam perjalanannya, bisnis kayu yang tidak lagi jadi primadona di Indonesia karena kendala bahan baku membuat Prajogo memutuskan mendiversifikasi bisnis dan memangkas nama Lumber di perusahaannya pada 2007.

Sejak saat itu, tentakel bisnis Grup Barito Pacific merambah berbagai sektor mulai dari petrokimia, minyak sawit mentah, properti, transportasi, logistik, sampai energi.

Kekayaan Prajogo Pangestu

Kerja keras dalam mendirikan kerajaan bisnis Barito Pacific, otomatis terus menambah jumlah kekayaan Prajogo Pangestu yang sekaligus mensejahterakan para karyawannya.

Tidak heran jika setiap tahun nama Prajogo berseliweran dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes. Survei kekayaan konglomerat nasional yang dilakukan Forbes pada 2018 lalu, mencatat jumlah kekayaan Prajogo mencapai US$3 miliar setara Rp42,71 triliun. Menempatkannya di posisi ke-10 taipan terkaya di Indonesia.

Posisi tersebut tahun ini kemungkinan besar akan menanjak naik, karena Forbes memperkirakan sampai Agustus 2019 jumlah harta Prajogo bertambah menjadi US$4,9 miliar.

“Untuk mendapatkan Bintang Jasa Utama ini, rumit, panjang, dan sangat ketat syaratnya. Saya sangat berterimakasih dan terharu karena Pemerintah Indonesia kasih tanda jasa yang sangat tinggi buat saya. Saya akan terus bekerja keras di sisa hidup saya, untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan seperti menciptakan panas bumi sebagai clean energy dan Petrochemical Center di Indonesia,” kata Prajogo dalam pidatonya.

Persembahkan untuk Istri, Keluarga, dan Karyawan

Menurut Prajogo, keberhasilannya dalam membesarkan perusahaan hingga akhirnya bisa mendapat penghargaan dari pemerintah tidak lepas dari peran serta dan dukungan keluarga.

“Khususnya istri saya, Harlina Tjandinegara yang selalu setia mendampingi saya. Serta tidak lupa terima kasih saya sampaikan kepada seluruh karyawan dan manajemen perusahaan di lingkungan Barito Pacific yang sangat saya cintai dan banggakan ini,” tuturnya.

Prajogo Pangestu

Menurut Prajogo, dirinya sudah mengabdi untuk perusahaan selama lebih dari 50 tahun. Sehingga sudah merasakan suka duka melewati masa sulit dan kritis dari bisnis yang dirintisnya.

“Kini karyawan yang muda-muda ini pasti punya banyak ide bagus untuk mencapai target membangun PLTP dengan total kapasitas 2.000 MW, saya yakin bisa. Kuncinya kita harus fokus kerja keras untuk menjalankan keinginan dengan sepenuh hati, pasti bisa sukses dan berhasil,” imbuh Prajogo.

Tentang Penulis

Gentur Putro Jati

Ego in debitum, ergo sum