Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Punya Cicilan Kredit Lain Tapi Ingin Ajukan KPR, Pelajari Dulu Simulasinya

by JTO on 30 Oktober, 2014

indent rumah _ KPR - CekAja.com

Apakah bisa cicil KPR jika masih punya cicilan lain seperti kendaraan atau kartu kredit? Jawabannya bisa! Asalkan tahu bagaimana cara hitungnya. Berikut simulasinya.

Apa yang kamu pertimbangkan saat membeli rumah dengan kredit pemilikan rumah (KPR)? Pastinya, jumlah cicilan dan tenor adalah dua hal yang wajib diperhitungkan. Salah hitung kemampuan bayar, maka kredit pun akan macet.

Pada umumnya, bank menilai rasio kredit seseorang sejumlah 30% dari total penghasilan suami dan istri. Ketika total penghasilan bersama suami atau istri adalah Rp 10 juta, maka batas cicilan per bulan yang dapat diberikan oleh bank adalah Rp 3 juta.

Mengapa harus demikian? Tujuannya agar sisa dari penghasilan dapat digunakan untuk memenuhi keperluan hidup lainnya. Pada KPR, besar cicilan yang dilakukan juga tergantung dari besar uang yang disetorkan sebagai uang muka kredit rumah.

Jadi, bila ingin mendapatkan kredit dengan plafon tinggi dan cicilan rendah, maka uang muka yang disetorkan pun harus besar. Karena hal itu akan mempengaruhi jumlah sisa cicilan yang dilakukan. (Baca: Beda Cara Menghitung BPHTB Jual Beli dan BPHTB Warisan)

Lalu, bagaimana caranya menghitung segala biaya yang dibutuhkan saat mengajukan KPR?

Untuk mengetahui berapa biaya, cicilan, dan plafon kredit yang bisa didapatkan saat mengajukan KPR, lakukan simulasi terlebih dahulu. Atau, gunakan kalkulator KPR CekAja yang dapat menghitung jumlah pinjaman dan estimasi cicilan yang dapat dilakukan. Namun, ada beberapa catatan yang wajib diketahui sebelum melangkah ke simulasi;

  1. KPR memiliki sistem bunga yaitu bunga flat (tetap), berjenjang dan bunga floating (menyesuaikan kondisi pasar). Biasanya, bank memberlakukan bunga tetap untuk waktu yang terbatas seperti jangka waktu 1-3 tahun saja. Namun, setiap bank berbeda-beda kebijakannya. Selanjutnya, akan diberlakukan bunga floating. (Baca: Bunga Pinjaman Pegadaian dan Bank, Mana Lebih Murah?)
  2. DP atau uang muka untuk rumah pertama dan seterusnya memiliki persentase yang berbeda.
  3. Ada istilah DBR atau debt burden ratio, yaitu rasio seluruh cicilan terhadap pendapatan bersih atau take home pay (THP). Besarnya persentase DBR tergantung kebijakan masing-masing bank, namun umumnya 30% – 40% THP.
    Istilah DBR ini diberlakukan jika sebelumnya calon debitur telah memiliki cicilan (kendaraan atau bahkan cicilan kartu kredit). Ada dua cara perhitungannya; pertama jumlah cicilan tidak boleh melebihi persentase DBR. Kedua, dihitung dari THP atau yang menjadi dasar perhitungan DBR adalah THP yang telah dikurangi cicilan. Untuk cara kedua, total DBR bisa lebih dari persentase yang telah ditentukan.

Setiap bank memiliki simulasi yang berbeda dalam menentukan jumlah cicilan kredit yang harus dilakukan pada produk KPR yang dimiliki. Namun, cobalah sekali lagi menghitungnya dengan kalkulator kredit.

Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah simulasinya;

“Pasangan suami istri yang bahagia, Akmal dan Nilam, memiliki THP sebesar Rp 15 juta. Mereka berencana mengajukan KPR. Namun, pada saat itu mereka juga memiliki tanggungan kredit mobil sebesar Rp 3 juta per bulan. Bila memakai DBR sebesar 40% dari THP, berapa rasio kredit yang mereka dapatkan?”

Hitung Cicilan KPR Anda
Jumlah PinjamanRp.
Jumlah Angsuran
Bunga Efektif (per tahun)% per tahun
Estimasi Cicilan per BulanRp. per bulan
Estimasi Total PinjamanRp. per bulan
  • Bila memakai metode pertama, maka Akmal dan Nilam hanya memiliki kemampuan angsuran Rp 3 juta.
    Perhitungannya; Rp 15 juta X 40% = Rp 6 juta.
    Bila mereka memiliki cicilan lain sebesar Rp 3 juta, maka Rp 6 juta – Rp 3 juta = Rp 3 juta.
  • Bila memakai perhitungan metode kedua, peluang kredit mereka akan lebih besar. Sebab, perhitungannya adalah; (Rp 15 juta – Rp 3juta) X 40% = Rp 4,8 juta.

Lalu, dikaitkan dengan KPR, berapa cicilan yang mereka bisa lakukan? (Baca: Mau Ajukan Kredit Rumah Kedua, Ini Aturannya)

Bila memakai asumsi suku bunga 12% efektif dan tenor 180 bulan atau 15 tahun, maka maksimal plafon kredit yang mereka dapatkan adalah Rp 249.964.991,97.

Namun, bila tenor yang diambil adalah 120 bulan atau 10 tahun, maka besar plafon kredit yang mereka bisa dapatkan untuk waktu tersebut adalah Rp 209.101.566,09.

Catatan! Untuk cicilan pertama, biasanya akan dikenai sejumlah biaya seperti  biaya asuransi, biaya provisi, administrasi, appraisal, dan lainnya. Persentase dan besarnya biaya tergantung dari kebijakan bank.

Sudah tahu bagaimana caranya menilai kemampuan kredit untuk mengajukan KPR. Tidak usah bingung lagi, pilih kredit rumah terbaik dan ajukan sekarang juga di sini.

Tentang Penulis

JTO

Penulis dan jurnalis yang menetap di tanjung laut Batavia.