Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Ragam Sistem UN, Ujian yang Ingin Dihapus Prabowo-Sandi

by Sindhi Aderianti on 18 Maret, 2019

Ada yang menarik dari Debat Calon Wakil Presiden kemarin (17/3/2019). Sebagai informasi, Debat Cawapres 2019 tahap ketiga ini mengusung tema “Pendidikan, Kesehatan, Ketenagakerjaan, serta Sosial dan Kebudayaan”.

Cawapres nomor urut 2, Sandiaga Uno pun menyatakan bahwa kubu Prabowo-Sandi akan menghapus Ujian Nasional (UN) jika kelak terpilih memimpin Indonesia selama periode 2019-2024.

Menurut Sandi, banyak kurikulum dalam ujian nasional yang kurang terpakai begitu terjun ke dunia kerja. Alih-alih meneruskan ‘syarat’ kelulusan itu, kubu oposisi berencana fokus membangun sistem pendidikan yang mengutamakan minat dan bakat siswa.

Diikuti dengan sistem pendidikan link and match, dimana semua pembelajaran akan langsung tersambung dengan lapangan kerja.

Polemik Ujian Nasional Dari Tahun ke Tahun

Dari tahun ke tahun, penyelenggaraan Ujian Nasional memang tak pernah lepas dari kontroversi. Selalu ada perubahan yang mempengaruhi standarisasi kelulusan.

Mungkin, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki niat dan tujuan yang baik atas segala perubahan tersebut. Namun disadari atau tidak, hal ini justru membuat siswa-siswi kerap dirundung rasa cemas.

Lalu, perubahan apa saja yang pernah terjadi dalam penerapan Ujian Nasional dari tahun ke tahun? Kurang lebih selama hampir satu dekade, berikut ragam perbedaan sistemnya:

(Baca juga: Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik)
  • 2010 – Bertambahnya Naskah Soal

Tahun ini merupakan awal mula ditambahnya jumlah naskah soal UN. Bukan hanya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika saja.

Tapi juga beberapa mata pelajaran lain yang disesuaikan dengan peminatan IPA/IPS. Misalnya untuk jurusan IPS, ada tambahan Geografi, Sosiologi, dan Ekonomi.

Hari penyelenggaraan ujian pun otomatis bertambah menjadi empat hari. Hebohnya lagi, naskah soal tersebut dibedakan pula menjadi 2 paket, yakni A dan B.

Sehingga tiap siswa tidak menerima soal yang sama untuk meminimalisir kecurangan.

  • 2011 – Jumlah Paket Jadi 5

Lalu di tahun selanjutnya, jumlah paket ditambah lagi menjadi 5. Secara teknis, sistem ini semakin memberatkan para siswa.

Bagaimana penerapan jumlah paket UN tersebut? Tiap satu paket soal hanya dikerjakan oleh empat orang dalam kelas, mengingat satu ruangan UN hanya boleh ditempati oleh maksimal dua puluh peserta.

  • 2012 – Isu UN Dihapuskan

Sempat ada wacana yang muncul di kalangan masyarakat bahwa UN akan dihapus. Tapi, Mohammad Nuh selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu membantah wacana tersebut.

Beliau menegaskan bahwa Ujian Nasional akan tetap dilaksanakan. Meski begitu, tidak ada perubahan yang begitu berarti dalam pelaksanaannya di tahun 2012. Kemendikbud masih kukuh dengan sistem lima paket yang diterapkan dulu.

(Baca juga: Cara Persiapkan Biaya Pendidikan dengan Modal Minim)
  • 2013 – Penggunaan Sistem Barcode

Pemerintah lewat Kemendikbud pun menerapkan sistem yang berbeda di tahun 2013. Ada barcode pada naskah soal dan Lembar Jawaban Komputer (LJK).

Lagi-lagi, tujuannya demi mempersempit peluang untuk saling menyontek. Apabila siswa nekat berbagi jawaban, sementara lembar soalnya tidak ditukar, maka semua jawaban dipastikan salah.

Dengan adanya sistem barcode ini, tiap peserta UN juga tak perlu lagi menuliskan kode paket soal di lembar jawaban, karena di barcode tersebut sudah tertera.

  • 2014 – Nilai UN Sebagai Pertimbangan Masuk Kuliah

Untuk menyempurnakan sistem dari tahun-tahun sebelumnya, Kemendikbud memberi kebijakan untuk menjadikan hasil UN 2014 sebagai pertimbangan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Di tahun itu, adapun bobot soal yang diberikan berubah menjadi 10% mudah, 70% sedang, dan 20% sulit. Nilai rapor juga bisa digunakan untuk mendukung nilai Ujian Nasional.

  • 2015 – Uji Coba UNBK

Berganti tahun, Kemendikbud memutuskan untuk melaksanakan UN dengan sistem computer-based. Dari situlah istilah UN perlahan berubah menjadi UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer).

Namun, tidak semua sekolah di Indonesia langsung menerapkan sistem tersebut. Hanya SMA-SMA unggulan dengan standar khusus yang dipilih oleh pemerintah saja.

Penerapan sistem ini bertujuan untuk meningkatkan literasi murid terhadap TIK. Terdapat 556 sekolah yang sekiranya terlibat, yakni 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK di 29 provinsi dan luar negeri.

Untuk tahun-tahun selanjutnya hingga sekarang, Ujian Nasional terus diterapkan.

Hanya saja konsisten pada sistem berbasis komputerisasi. Dimana pelaksanaan ujian tersebut bukan lagi menggunakan kertas, tapi komputer sebagai media ujiannya.

(Baca juga: 10 Tip Sederhana Siapkan Tabungan Pendidikan Anak)
Anggaran UN Sangat Besar?

Besarnya anggaran juga menjadi alasan di balik wacana Prabowo-Sandi menghapuskan Ujian Nasioanal. Konon dari tahun ke tahun, dana yang disedot lebih dari setengah triliun.

Sebut saja UN tahun 2012 yang menembus angka Rp600 miliar. Tahun 2013 bahkan meningkat hingga Rp644 miliar. Sedangkan tahun 2014 turun sedikit menjadi Rp545 miliar. Pembiayaan ini meliputi biaya cetak, pengiriman, pengawasan dan lain-lain.

Namun perlu diketahui, anggaran tersebut sebetulnya sudah mengalami penyusutan semenjak UNBK diterapkan. Kemendikbud menyebutkan, Ujian Nasional Berbasis Komputer ini menghemat anggaran hingga 70 persen. 

Janji penghapusan Ujian Nasional dari paslon Prabowo-Sandi memang cukup menarik bagi sejumlah pihak. Walau begitu, seyogyanya UN tetap diperlukan sebagai pijakan untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.

Bila ada sekolah nilainya kurang dari rata-rata UN yang ditetapkan, maka beberapa hal dapat langsung dievaluasi. Mulai dari sarana, guru, hingga kurikulum.

Sebaliknya jika tidak ada ujian tersebut, indikator evaluasi inilah yang masih perlu dipertimbangkan. Meskipun berdasarkan pernyataan Sandi, akan ada kurikulum pengganti yang lebih baik nantinya.

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami