Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

Rupiah Kembali Loyo? Tak Perlu Panik

by Achmad Fauzi on 4 Juli, 2018

Minggu-minggu ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali loyo. Otot-otot rupiah tidak kuat menahan laju penguatan dolar AS. Bahkan, pada Selasa (3/7/2018) rupiah sempat dalam kondisi terlemah sejak 2015 di level Rp14.418 per dolar AS. Namun, Anda tak perlu panik.

Pada perdagangan hari ini rupiah berada di level Rp14.343 dan rupiah tetap tidak bisa menahan laju penguatan dolar AS. Meskipun begitu, Bank Indonesia (BI) menyebutkan masyarakat khususnya pelaku jasa keuangan tidak perlu panik dalam pelemahan rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa pelemahan rupiah harus diukur secara relatif dibandingkan dengan negara-negara lain. Saat ini pelemahan nilai tukar terhadap USD juga tengah terjadi atau dialami oleh negara-negara regional.

“Secara relatif, pergerakan nilai tukar rupiah tersebut masih terkendali (manageable) sebagai bagian dari fenomena global yang terjadi saat ini,” kata Perry Warjiyo seperti dilansir dalam keterangan tertulisnya.

Siapkan Langkah Stabilitas

Tentunya, Perry menyatakan BI tidak tinggal diam atas pelemahan rupiah yang terjadi. Menurut Perry, BI telah menyiapkan langkah-langkah untuk menstabilisasikan pergerakan rupiah terhadap dolar AS, salah satunya dengan kebijakan suku bunga.

Memang, dalam Rapat Dewan Gubernur Juni lalu Bank Sentral Indonesia telah menaikkan suku bunga acuannya atau BI 7-day (Reverse) Repo Rate 50 bps dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen.

Keputusan tersebut merupakan langkah lanjutan BI untuk secara pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve menjaga daya saing pasar keuangan domestik terhadap perubahan kebijakan moneter sejumlah negara dan ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Selain itu, BI juga menyiapkan langkah lain dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Langkah yang dimaksud yakni melalui intervensi untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valuta asing (valas) maupun rupiah, serta melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar. Dengan langkah tersebut diharapkan bahwa laju pergerakan rupiah terhadap dolar AS menjadi stabil. (Baca juga: Ini Bisnis yang Laku Saat Gelaran Piala Dunia)

Penyebab Rupiah Melemah

Terdapat beberapa faktor yang membuat nilai tukar rupiah terus melemah. Faktor tersebut lebih disebabkan oleh faktor eksternal yang berdampak pada Indonesia khususnya nilai tukar mata uang. Salah satunya yakni, kebijakan Bank Sentral Amerika yang akan menaikkan suku bunganya kembali.

Pada tahun ini, Bank Sentral Amerika yakni Federal Reserve semakin agresif menaikkan suku bunganya. BI sendiri memperkirakan suku bunga The Fed kemungkinan naik 4 kali, meskipun probabilitas lebih banyak 3 kali.

Selain itu, kebijakan fiskal atau pajak AS turut mempengaruhi mempengaruhi rupiah. Kebijakan fiskal AS dibawah kedudukan Donald Trump sangat agresif, mulai dari penurunan pajak, ekspansi fiskal yang lebih besar, sehingga defisit fiskal yang lebih tinggi menjadi 4 persen per PDB bahkan ada yang memperkirakan 5 persen per PDB tahun depan.

Meski demikian, BI meyakini Indonesia tidak akan menghadapi krisis moneter. Sebab, langkah yang disiapkan BI dianggap akan manjur untuk menahan laju dolar AS. Maka dari itu, Anda tidak perlu takut kondisi perekonomian anjlok, harga-harga mahal, dan imbasnya akan jadi krismon. (Baca juga: Cek 5 TK dengan Biaya Mahal di Jabodetabek)

Namun, jika Anda ingin dana tetap aman di tengah volatilitas pasar keuangan, maka sebaiknya segera berinvestasi. Anda bisa memilih dan membeli berbagai produk investasi secara mudah dan aman di CekAja.com.

Tentang Penulis

Jurnalis yang hampir menjadi pemain bola internasional.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami