Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

5 menit waktu bacaan

Rusuh di Tanah Abang dan Sarinah, Ini Sejarah Lokasi Tersebut!

by Miftahul Khoer on 24 Mei, 2019

Kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada Rabu, 22 Mei 2019 memakan korban jiwa dan juga puluhan orang luka-luka. Peristiwa tersebut merupakan bentuk respon beberapa kelompok masyarakat atas pengumuman pemenang Pilpres 2019.

tanah abang

Kerusuhan membuat rusak sejumlah pusat perbelanjaan baik yang berskala kecil maupun besar. Ada dua lokasi yang terdampak atas kerusuhan, salah satunya adalah pusat perbelanjaan Pasar Tanah Abang.

Kerugian yang terjadi di pasar grosir terbesar se Asia Tenggara itu diperkirakan mencapai angka Rp700 miliar. Adanya penutupan operasional yang terjadi sejak tanggal 22 Mei 2019 itu diduga menjadi faktor utama terjadinya kerugian.

Kawasan Pasar Tanah Abang menjadi salah satu lokasi bentrokan aparat dengan massa aksi yang berdampak kerusakan di beberapa titik. Akhirnya para pedagang langsung menutup lokasi usahanya untuk menghindari amukan massa.

Para pedagang diperkirakan akan kembali buka secara normal pada Sabtu, 25 Mei 2019. Adapun pusat perbelanjaan lainnya yaitu Gedung Sarinah yang tak jauh dari lokasi unjuk rasa berujung kericuhan di area Kantor Bawaslu RI.

Pada saat kerusuhan, para pedagang di Sarinah pun memilih untuk menutup usahanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, tetap saja oknum pengunjuk rasa merusak beberapa fasilitas Gedung Sarinah, salah satunya logo utama Sarinah di depan gedung tersebut.

Kita tahu, bahwa Pasar Tanah Abang dan Sarinah merupakan dua pusat perbelanjaan yang memiliki nilai sejarah dan ekonomi yang sangat penting bagi Indonesia. Nah, berikut kami akan mengulas sekilas sejarah kedua pusat perbelanjaan tersebut. Yuk simak.

(Baca juga: Pilih Tempat Liburan Saat Lebaran di Jakarta)
Pasar Tanah Abang

Jauh sebelum Indonesia merdeka, Pasar Tanah Abang sudah menjadi pusat perbelanjaan masyarakat yang saat itu masih dikuasai Belanda. Pasar ini berdiri sejak tahun 1735 oleh Yustinus Vinck yang dikenal sebagai salah satu pendiri pasar perdagangan saat itu.

Yustinus memperoleh izin mendirikan Pasar Tanah Abang dari Gubernur Jenderal Abraham Patramini yang sebelumnya dikenal sebagai Pasar Sabtu. Selain dikenal sebagai Pasar Sabtu, orang-orang Belanda saat itu menyebutnya sebagai kawasan De Nabang.

Konon, di kawasan ini saat itu banyak pohon nabang atau palem. Setelah itu warga Batavia mulai menyebutnya sebagai kawasan Tenabang.

Kawasan Tenabang juga sebelumnya dikenal sebagai pasar hewan. Di kawasan Tanah Abang, saat itu masih asri dan banyak pepohonan.

Bahkan jauh sebelumnya kawasan Tanah Abang dikenal sebagai kawasan yang terhampar perkebunan mulai dari sirih, nanas, melati, jahe hingga sayur-sayuran.

(Baca juga: Bosan ke Mall? Ini 8 Tempat Belanja Unik dan Murah di Jakarta)
Sempat terjadi kerusuhan

Kerusuhan di kawasan Pasar Tanah Abang juga gak hanya terjadi saat ini. Pada masa sebelum kemerdekaan juga kawasan pasar ini sempat mengalami kerusuhan tepatnya ketika Yustinus Vinck mendirikan Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen.

Saat itu, di kawasan Tanah Abang terjadi pembunuhan orang-orang China oleh Belanda dan merampas harta benda serta membakar kebun-kebunnya.

Seketika, Tanah Abang lumpuh dan perekonomian hancur. Untungnya, pada tahun 1881 Pasar Tanah Abang yang dijadikan kembali sebagai pusat perbelanjaan para pengusaha Arab dan China kembali membuka usahanya pada hari Sabtu dan Rabu.

Mulai saat itulah, Pasar Tanah Abang menjadi pusat grosir yang mendunia karena dikenal dengan produk-produk pakaian dan bahan pakaian dengan harga terjangkau.

Saat ini, Pasar Tanah Abang berada di bawah naungan PD Pasar Jaya yakni Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov DKI Jakarta. Seiring waktu, Pasar Tanah Abang semakin luas mulai dari Blok A hingga Blok G.

endapatan secara keseluruhan di Pasar Tanah Abang per harinya bisa tembus hingga Rp100 miliar. Jadi, jika ada kerusuhan di kawasan pasar tersebut dan memaksa para pedagang untuk menutup usahanya, maka diperkirakan kerugian ratusan miliar ditelan para pedagang.

(Baca juga: Lokasi dan Cara Mendapatkan Voucher Belanja Gratis)
Sarinah

Awal mula terbangunnya Gedung Sarinah di kawasan Jalan Thamrin Jakarta tak lepas dari peran Presiden Soekarno. Pada 17 Agustus 1962, PT Sarinah (Persero) resmi berdiri dan belakangan menjadi badan usaha milik negara (BUMN).

Pemilihan kata Sarinah berawal dari apresiasi Soekarno terhadap seorang perempuan pengasuh dirinya saat masih kecil. Sarinah dinilai sebagai sosok yang sangat berjasa terhadap kelangsungan hidup Soekarno pada saat itu.

Sarinah menjadi salah satu pusat perbelanjaan pertama yang berdiri di Indonesia dengan bangunan mewah saat itu. Diharapkan, Sarinah mampu menjadi mitra bagi para pengusaha kecil untuk memasarkan produk-produknya. Tepat pada 15 Agustus 1966, Sarinah resmi dibuka sebagai pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia.

Soekarno saat itu mewantikan agar Sarinah harus menjadi pusat promosi penualan barang-barang produksi dalam negeri, terutama hasil pertanian dan perindustrian rakyat. Sejak 1980-an, bisnis Sarinah terus berkembang hingga memeroleh permodalan untuk mengembangkan usahanya.

Tercatat ada beberapa cabang Sarinah yang dibangun di Semarang untuk memfasilitasi pelaku UMKM dalam menawarkan produknya.

Selain melakukan ekspansi, Sarinah juga mulai merenovasi bangunannya pada 1990-an dengan menjadikan bisnisnya lebih moderen. Hal ini membuat para tenan baru berdatangan membuka usahanya di Sarinah mulai dari dalam hingga produk luar negeri seperti McDonald’s.

Tak hanya itu, Sarinah juga menjadi bagian dari unit bisnis lain di luar sektor ritel yakni proyek-proyek perhotelan, jasa penukaran valuta asing serta waralaba minuman A Cup of Java.

Kini, pusat perbelanjaan dengan 15 lantai tersebut masih tetap berdiri kokoh meski perlahan cita-cita Soekarno untuk memfasilitasi produk-produk karya dalam negeri mulai tergantikan dengan merek-merek ternama.

Semoga Sarinah tetap menjadi pusat perbelanjaan bagi warga Indonesia terutama Jakarta. Semoga Sarinah tetap berdiri, tak peduli kerusuhan 22 Mei 2019 bahkan ledakan bom yang dikenal Bom Sarinah pada 14 Januari 2016 terjadi.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dibutuhkan strategi mitigasi yang mumpuni. Salah satunya adalah dengan asuransi properti.

Dapatkan di CekAja.com ragam asuransi properti yang sesuai dengan kebutuhanmu dan segera ajukan.

Tentang Penulis

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.