Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Sadar Gak, 6 Hal Ini Bikin Restoran All You Can Eat Untung Loh!

by Sindhi Aderianti on 8 November, 2019

Restoran all you can eat selalu ramai dikunjungi. Terutama konsep shabu-shabu atau yakiniku ala Jepang yang kian menjadi primadona. Hampir setiap weekend, pengunjung rela antri panjang demi bisa makan kenyang dan enak.

restoran all you can eat

Harga yang dipatok memang terbilang mahal, umumnya mulai dari Rp99.000 – Rp500.000. Namun, dengan membayar harga tersebut, pengunjung bisa makan apapun yang sudah disediakan di buffet. Mulai dari appetizer, lauk-pauk, sayuran, dessert, hingga minuman. Daging-dagingan untuk dibakar/rebus pun bebas untuk terus di-refill sampai waktu makan dinyatakan selesai. Jadi bila dihitung-hitung, jatuhnya murah.

Nah, dengan mengusung sistem makan all you can eat seperti itu, lantas dari mana untung yang didapat restoran? Mungkin selama ini kita tidak ngeh, kalau pihak restoran sebenarnya punya trik dan siasat untuk tetap diuntungkan oleh bisnis mereka. Berikut 6 hal di antaranya:

1. Ada batas waktu makan

Seperti yang tadi dikatakan, restoran all you can eat umumnya selalu memberi batas waktu makan untuk setiap pengunjung. Waktu makan tersebut antara 90 menit sampai 120 menit, tergantung tingkat kerumitan cara menyantap makanan itu sendiri. Semisal yakiniku yang harus melewati proses masak dengan memanggang, tentu waktu makannya bisa lebih dari 100 menit. Waktu makan ini diberlakukan guna membatasi pengunjung dari kemungkinan makan berlebih. Selain itu, agar pengunjung lain tidak mengantri terlalu lama juga, dengan begitu pergantian customer jadi lebih cepat.

(Baca juga: Mencicipi Kelezatan Restoran Terbaik di Dunia Tahun 2019)
2. Godaan side dish, sayuran, dan makanan manis

Demi menambah keuntungan, pihak restoran memiliki siasat yang mungkin selama ini tak kita sadari.  Pertama, menu daging-dagingan cukup lama dikeluarkan. Hal tersebut membuat pengunjung mau tak mau terlebih dulu menyantap side dish tinggi karbo, seperti kentang goreng atau chicken karage untuk ‘mengganjal perut’. Belum lagi godaan dari sayuran segar, makanan manis, dan sup yang juga menggiurkan lidah. Pada akhirnya makanan-makanan itu malah bikin kenyang duluan. Jadilah saat menyantap daging, kita enggan memesannya kembali dalam jumlah banyak.

3. Peralatan makan kecil

Jika diperhatikan, restoran all you can eat juga hampir tidak pernah menyediakan cutleries atau peralatan makanan seperti piring dan mangkuk berukuran besar. Sebagai gantinya, pihak restoran menyediakan piring berukuran kecil atau paling tidak ukurannya setengah dari piring normal. Tanpa disadari sadari, siasat yang satu ini cukup menguji psikologis pengunjung. Melansir artikel Psychology Today, ‘How All-You-Can-Eat Buffets Use Psychology to Make Money’ (6/10/2015), menggunakan peralatan makanan yang lebih kecil akan mempengaruhi porsi makan. Kita akan tersugesti telah makan banyak. Padahal sebenarnya tidak banyak, tapi karena piring yang digunakan memang kecil.

4. Kemampuan makan ada batasnya

Pengunjung yang datang ke restoran all you can eat, tentunya sudah berniat untuk makan banyak. Bahkan tak ragu mengosongkan perut terlebih dulu, agar tidak rugi sudah mengeluarkan ratusan ribu untuk ‘mukbang’. Namun perlu diingat kembali, setiap orang tetap memiliki batasan daya tampung. Kapasitas makan setiap jenis kelamin berbeda. Seorang laki-laki mampu memakan 6 buah donat dalam sekali makan. Hal tersebut berbeda dengan perempuan yang hanya bisa menyantap 2–3  potong donat saja. Nah, restoran dengan konsep ini menggambil rata–rata potensi makan pengunjung dengan mematok kapasitas tersebut.

5. Charge makanan yang bersisa

Menyantap sajian all you can eat memang suka bikin kalap. Terkadang karena merasa service harus sebanding dengan harga, pengunjung pun mengambil banyak makanan di buffet, sekaligus memesan daging berkali-kali. Mengingat kapasitas lambung juga punya batasan, ujung-ujungnya makanan ini tak habis. Di sini, pihak restoran membuat peraturan berupa charge atau biaya tambahan atas ‘pelanggaran’ tersebut. Ketika sudah billing, waiter yang bertugas akan mengecek kembali meja kita. Jika makanan tampak bersisa cukup banyak, pelanggan akan dikenai charge sebesar Rp50.000 – Rp100.000.

(Baca juga: 5 Trik Hemat Makan di Restoran Mewah)
6. Harga makan anak kecil dan lansia dibedakan

Anak-anak dan lansia  biasanya mendapat diskon 40% ketika makan di restoran all you can eat. Lalu, apakah kebijakan ini membuat restoran jadi rugi? Justru tidak. Dengan potongan harga ini, tentunya akan semakin menarik pengunjung untuk makan di restoran tersebut. Anak-anak memiliki kapasitas makan yang terbatas. Sementara para lansia tentunya menghindari makanan yang berlemak atau tinggi kolesterol. Mereka akan lebih memilih makanan sehat seperti buah dan sayur. Restoran untung karena buah dan sayur harganya lebih murah daripada daging-dagingan.

Selain karena trik dan siasat di atas, sEgmentasi restoran ini juga ditujukan untuk masyarakat kelas menengah yang tidak terlalu mempersoalkan harga. Mereka cenderung lebih mengedepankan selera dan kenyamanan hingga gengsi. Kondisi inilah yang membuat restoran all you can eat mampu bertahan, bahkan meraup untung banyak.

Mau makan all you can eat lebih murah? Gunakan promo dari kartu kredit yang bisa kamu apply langsung melalui CekAja.com.

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.