Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

Sebelum Saksikan Gerhana Matahari Total, Ketahui Dulu Mitos Fenomenanya di Seluruh Dunia

by Ariesta on 7 Maret, 2016

Rabu, 9 Maret 2016 mendatang, masyarakat Indonesia akan menyaksikan peristiwa alam berupa gerhana matahari total. Gerhana matahari total 2016 ini adalah yang pertama terjadi pada Abad ke-21 di Indonesia. Meski demikian, peristiwa gerhana matahari total bukan kali pertamanya terjadi di Indonesia. Fenomena itu pernah ada pada tahun 1983, 1988, dan 1995.

Adapun kota-kota yang dilewat oleh gerhana matahari total 100 persen antara lain Palembang, Pulau Belitong, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Luwuk, dan Ternate. Adapun masyarakat di Jakarta dan Jawa Barat tetap mendapatkan gerhana matahari sebagian yakni sekitar 80%.

Peristiwa alam yang unik ini tidak lepas dari berbagai mitos yang diyakini oleh orang-orang zaman dulu. Meskipun saat ini ilmu pengetahuan semakin berkembang, namun ritual-ritual saat gerhana matahari terjadi masih ada yang dilakukan hingga saat ini.

Apa-apa saja ya mitos-mitos tersebut?

(Baca juga: Daftar Tempat Wisata untuk Lihat Satwa Langka di Indonesia)

Matahari dimakan oleh hewan

Ternyata mitos jika matahari tiba-tiba menghilang akibat dimakan oleh hewan tidak hanya dipercaya oleh satu negara. Rakyat Vietnam percaya jika hilangnya matahari akibat ulah katak raksasa. Di China, mitos yang berkembang adalah matahari ditelan oleh naga raksasa. Sedangkan masyarakat Yunani kuno percaya jika matahari disantap oleh serigala. Begitu juga dengan suku Indian kuno yang tinggal di wilayah Amerika Utara yang percaya kalau seekor beruang berkelahi dengan matahari. Sang beruang kemudian menelan matahari dan menyebabkan terjadinya gerhana.

Pertanda bencana dan kehancuran

Sebelum ilmu pengetahuan berkembang, gerhana matahari dianggap sebagai hal yang menakutkan. Masyarakat Yunani kuno percaya jika gerhana matahari merupakan pertanda jika Tuhan sedang murka sehingga bencana atau kehancuran akan terjadi. Suku Tewa di Meksiko meyakini jika saat gerhana berlangsung, matahari sebenarnya sedang marah dengan manusia di bumi sehingga memilih berhenti menyinari.

Matahari dan bulan bermusuhan

Suku Batammaliba yang tinggal di Benin dan Togo di Afrika justru menggunakan fenomena gerhana matahari sebagai bahan pembelajaran. Berdasarkan legenda mereka, gerhana terjadi karena matahari dan bulan bertengkar. Agar hal tersebut tidak terjadi lagi dalam waktu dekat, manusia di bumi harus berhenti saling menyakiti dan menciptakan konflik.

(Baca juga: Daftar Tempat Wisata untuk Lihat Satwa Langka di Indonesia)

Ditelan iblis

Berdasarkan mitologi Hindu kuno di India, Iblis bernama Rahu dihukum oleh dewa yang lain karena ketahuan meminum ambrosia (minuman para dewa). Kepala Rahu yang dipenggal melayang di langit dan menelan matahari sehingga menyebabkan terjadinya gerhana. Untuk mengusir iblis, manusia di bumi membunyikan berbagai pekakas untuk membuat suara sebising mungkin. Dipercaya, suara berisik akan membuat iblis ketakutan. Masyarakat India juga percaya jika memasak saat gerhana matahari berlangsung akan membuat makanan jadi beracun.

Membawa kebaikan

Tidak semua mitos tentang gerhana matahari dikaitkan dengan keburukan. Di Italia misalnya, masyarakat setempat percaya jika bunga yang ditanam saat berlangsungnya gerhana justru tumbuh lebih subur dan lebih berwarna.

(Baca juga: Inilah Rumus Bisa Keliling Dunia Setelah Pensiun, Mau?)

Terlarang bagi wanita hamil hingga menyebabkan buta

Hingga saat ini, masih ada masyarakat modern yang percaya jika gerhana matahari berbahaya bagi wanita yang tengah hamil. Dipercaya jika anak yang dilahirkan bisa menjadi cacat jika wanita keluar rumah saat gerhana.

Bahkan saat gerhana matahari total melewati Indonesia pada 1983 lalu, pemerintah orde baru saat itu gencar melarang warga melihat langsung matahari total. Alasannya karena jika dilihat dengan atau tanpa alat bantu sekalipun tetap dapat menyebabkan kebutaan. Tak tanggung-tanggung, Soeharto bahkan mengeluarkan instruski khusus pada Menteri Penerangan Harmoko untuk menyebarluaskan mengenai bahaya gerhana matahari total.

Warga yang takut buta pun akhirnya menutup rapat semua celah rumah lalu bersembunyi di bawah meja saat gerhana berlangsung. Terdengar konyol ya? Padahal, gerhana matahari pada saat itu berlangsung sekitar lima menit dan cuaca sangat mendukung.

(Baca juga: Ingin Menikmati Gerhana Matahari Penuh? Ini Perkiraan Budget yang Harus Kamu Persiapkan)

Nah, karena kini kamu hidup di era modern, tidak ada alasan untuk takut menyaksikan gerhana matahari. Asalkan kamu membekali diri dengan pengetahuan tata cara melihat dan kacamata khusus gerhana, kamu tidak perlu khawatir. Yuk, jangan lewatkan kesempatan langka ini.

Widget TRV Insurance

Tentang Penulis