Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Hari Kartini, Perayaan Semata Atau Semangat?

by Gito on 22 April, 2019

Siapa yang tak kenal dengan Kartini? Rasanya hampir setiap dari kita pasti pernah mendengar tentang wanita kelahiran Jepara, Jawa Tengah yang sukses mendobrak tatanan budaya patriarki itu.

Raden Ajeng Kartini Djojo Hadiningrat,wanita kelahiran 21 April 1879 adalah salah satu sosok yang berjasa merubah budaya patriarki yang dulu melekat erat di sistem pemerintahan dan juga sistem sosial masyarakat Indonesia.

Melalui goresan penanya yang kemudian dijadikan buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” menggugah banyak pihak tentang pentingnya peran wanita untuk bisa sejajar dengan kaum pria.

Hingga akhirnya setiap tanggal 21 April yang bertepatan dengan hari kelahiran Kartini dijadikan sebagai hari kartini. Hari dimana masing-masing dari kita kembali diingatkan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai objek kehidupan saja.

Melainkan subjek yang juga memilki hak dan juga mimpi didalam kehidupan.

(Baca juga: Kiprah 3 Srikandi Inspiratif yang Sukses Lagi Kaya)
Sejarah Kartini

Kartini sejatinya dibesarkan dan dilahirkan oleh keluarga yang terlanjur kaya. Ayahnya yang menjabat sebagai Bupati Jepara, Radenmas Adipati Ario Sosroningrat membesarkan Kartini dengan aturan yang sangat kental sekali aroma aristokratnya.

Semasa kecilnya, dia sudah berbenturan dengan budaya poligami raja-raja. Ya, pada zaman itu, seorang bangsawan diharuskan menikah dengan bangsawan pula.

Nah karena adanya budaya feodal tersebut, ibu kandung Kartini, M.A Ngasirah yang merupakan putri Ulama di Teluwakur, Jepara Kyai Haji Madirono harus rela digeser posisinya sebagai istri pertama oleh putri bangsawan keturunan Raja Madura, Raden Adjeng Woerjan.

Setelah posisinya digeser menjadi istri kedua, M.A Ngasirah masih harus menghadapi budaya yang mengharuskan menggunakan kata “ndoro” untuk menyapa anak-anak dari sang istri pertama maupun anak kandungnya sendiri.

Namun itu hanyalah sekelumit budaya yang harus dihadapi Kartini dan juga ibunya dalam hidupnya. Tetapi lahir sebagai anak Bupati memberikan banyak kesempatan kepada Kartini untuk mengembangkan diri.

Karena statusnya sebagai putri bangsawan, sang Ayah memberikan pendidikan yang cukup kepada Kartini. Dia akhirnya bersekolah bahasa di Europese Lagere School (ELS) hingga usia 12 tahun. Setelah itu, dia seperti banyaknya kaum perempuan lainnya menjadi tahanan rumah alias “dipingit”.

Bukan Kartini namanya jika akhirnya menyerah, dia terus memperdalam ilmunya dengan belajar di rumah. Dia juga terus melakukan korepondensi dengan teman-temannya yang berasal dari Belanda.

Sekolah Wanita Pertama

Tekadnya yang kuat membuat Kartini muda melahap banyak sekali buku dari berbagai genre, mulai dari kebudayaan, cinta, roman dan feminisme yang kesemuanya berbahasa Belanda.

Karena itu jualah lahir pemikiran-pemikiran layaknya wanita di Eropa. Karena di buku – buku yang dibacanya ditambah dengan diskusi oleh sahabat penanya, wanita di Eropa bisa memilih takdirnya sendiri.

Tidak seperti yang saat itu Kartini hadapi, dimana takdir perempuan sudah digariskan hanya untuk urusan sumur, dapur dan Kasur semata.

Lalu apakah dengan modal pemikiran seperti itu Kartini muda dapat langsung merubah budaya yang sudah lama mengakar itu? Jawabannya tidak, Kartini masih harus menghadapi sendiri takdir yang sudah ditentukan oleh Ayahnya.

Meskipun dia diberikan kelonggaran untuk melanjutkan angannya membangun kemandirian wanita Jawa oleh sang Ayah, dengan menjadi Guru.

Kartini pada akhirnya harus menyerah kepada takdir yang tidak diciptakannya, pada usia 24 tahun dia dinikahkan dengan seorang Bupati Rembang untuk menjadi istri ke empat, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Setahun berselang, Kartini kemudian melahirkan seorang anak yang diberinama Susalit Joyo Adhiningrat. Namun 4 hari setelah kelahiran sang buah hati atau 10 bulan pernikahannya, Kartini “mangkat”di tahun 1904.

Informasi yang beredar mengatakan bahwa Kartini meninggal akibat sakit preeklampsia atau tekanan darah tinggi dan kelebihan kadar protein dalam urine yang ada di ibu hamil.

Semasa menikah, Kartini terus berupaya mewujudkan cita-citanya. Hingga kemudian sang Suami mengizinkan Kartini untuk mendirikan sekolah wanita pertama yang berlokasi di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang.

Perjuangan Kartini ternyata berbuah hasil. Pada tahun 1912 atau 8 tahun berselang dari tahun wafatnya sang pahlawan emansipasi, berdiri sekolah wanita di kota Semarang yang didirikan oleh Yayasan Kartini milik keluarga Van Deventer, tokoh politik etis di zaman kolonial Belanda.

Perkembangan Sekolah Kartini berjalan pesat hingga kemudian muncul sekolah lainnya di berbagai kota seperti Surabaya, Cirebon, Malang dan daerah lainnya.

(Baca juga: Para Kartini Muda, Yuk Belajar Belanja Hemat Ala Ibu Kita Saat Zaman Dulu)
Semangat atau Hanya Perayaan

Sudah lebih dari 115 tahun Kartini wafat. Banyak juga perubahan yang terjadi di tatanan sosial dan juga tatanan pemerintah. Mulai dari hadirnya perempuan sebagai salah satu presiden di republik ini, yakni Megawati Soekarno Putri.

Kemudian juga munculnya srikandi-srikandi yang memiliki peran strategis di pemerintahan ataupun badan usaha milik swasta.

Namun kenyataan itu tidak ubahnya seperti dua sisi mata uang. Ada hal positif di salah satu sisinya, namun di sisi lainnya juga terdapat beberapa hal yang berseberangan. Seperti belum rampungnya kasus pembunuhan Marsinah, aktivis buruh yang meninggal pada tahun 1993.

“Hukuman mati” yang diberikan oleh “sang algojo” memberikan pesan bahwa kelas sosial perempuan berada di bawah laki-laki. Ya, Marsinah tewas dengan luka tembak yang ada di kemaluannya.

Hal itu belum lagi ditambah dengan masih banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang rata-rata korbannya adalah wanita.

Bahkan pada tahun 2017 jumlah KDRT yang dilaporkan menurut Komnas Perempuan mencapai 300 ribu kasus. Koordinator Bidang pemantauan Komisi Nasional Perempuan, Dewi Ayu Kartika Sari pernah mengatakan bahwa KDRT selalu menjadi kasus yang terbanyak karena di Indonesia masih ada budaya patriarki.

Data tersebut kembali mengetuk hati kita, apakah perjuangan yang sudah Kartini lakukan diakui hanya sebatas perayaan saja atau memang semangat emansipasi sudah mengalir deras dalam darah setiap masyarakat.

Jika memang semangat sudah membara, mengapa wanita masih saja menjadi objek bagi sebagian masyarakat?

Tentang Penulis

Veritas Vos Liberabit

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami