Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

7 menit waktu bacaan

Mengulik Sejarah, Mitos, dan Fakta Imlek di Indonesia

by Estrin Vanadianti Lestari on 27 Januari, 2020

Masih dalam suasana Tahun Baru Cina atau Imlek, perayaan ini juga sangat berkaitan erat dengan turunnya hujan. Bahkan, Imlek seakan menjadi hari raya yang selalu dinanti-nanti bagi masyarakat keturunan Cina. Pasalnya, hujan yang turun di hari Imlek, menandakan sebuah keberkahan dari Tuhan.

sejarah, mitos dan fakta imlek di Indonesia

Tidak hanya soal hujan, warna merah, buah jeruk dan lainnya, juga menjadi bagian penting dari perayaan ini. Hari raya yang dirayakan oleh sebagian besar warga keturunan Cina ini, memang sangat unik dan menarik untuk diulik. Lantas, bagaimana sejarah, mitos, dan fakta Imlek di Indonesia sendiri?

Sebelum membahas lebih detail terkait sejarah, mitos, dan fakta Imlek di Indonesia, sebaiknya intip dulu fakta tentang hadirnya penduduk keturunan Cina di Indonesia berikut ini.

Seperti yang kita tahu, belum lama ini juga muncul sebuah kontroversi dari artis cantik Agnes Monica, yang menyebutkan bahwa dirinya tak memiliki “darah Indonesia”, karena ia merupakan warga keturunan Cina yang tinggal di Indonesia.

WNA Khususnya Keturunan Cina, Wajib Memiliki SBKRI

Pada 1958, SBKRI atau Surat Bukti Kewarganegaraan RI, dikeluarkan oleh G.A. Maengkom selaku Menteri Kehakiman, dan disahkan oleh Presiden Soekarno. Dimana surat ini wajib dimiliki oleh WNA termasuk penduduk keturunan Cina.

Pasalnya, jika tidak memiliki, mereka akan tetap dianggap warga negara asing. Tidak hanya itu, surat tersebut juga masih akan dituntut bagi orang keturunan Cina yang lahir dari orang tua yang sudah WNI.

Kenapa SBKRI Tidak Berlaku Untuk Keturunan Lain?

SBKRI tidak berlaku bagi warga keturunan Arab atau India selain Cina, karena dahulu pemimpin Cina, bernama Mao Zedong, mengklaim semua orang keturunan Cina di seluruh dunia adalah warga negaranya. Di Indonesia sendiri, keturunan Cina sebenarnya bisa memiliki kewarganegaraan ganda, berdasarkan perjanjian dwikewarganegaraan Indonesia-Cina.

SBKRI Sudah Tidak Berlaku Pada Tahun 1996

Meski sudah dihapus, SBKRI nyatanya masih membuat orang keturunan Cina merasa terintimidasi di Indonesia. Sehingga orang keturunan Cina tetap dianggap orang Cina, dan pendatang. Bahkan, untuk bisa diterima, orang keturunan Cina didorong untuk menggunakan nama Pribumi, seperti Slamet atau Bambang.

Namun, ternyata tidak semua orang Indonesia bersikap mengintimidasi, terhadap orang keturunan Cina. Dan sebagian kecil dari orang Indonesia yang mendiskriminasi keturunan Cina itu, bahkan tidak benar-benar cinta Indonesia. Karena, sejatinya Indonesia merupakan negara yang Bhineka Tunggal Ika. Namun, bagaimana dengan sejarah, mitos, dan fakta Imlek di Indonesia?

Sejarah Imlek di Indonesia

Dengan banyaknya orang keturunan Cina yang ada di Indonesia, membuat perayaan Imlek menjadi perayaan yang bisa semua orang nikmati, termasuk tanggal merahnya bukan? Ya, Imlek yang jatuh tanggal 25 Januari 2020 ini, memang memiliki sejarah yang panjang di Indonesia.

  • Imlek Sempat Dilarang di Indonesia

Sama seperti halnya wajib memiliki SBKRI bagi orang keturunan Cina, Imlek pun juga sempat dilarang pada era Soeharto. Dilansir dari laman Kompas, setidaknya ada 21 peraturan perundangan yang diterapkan presiden Soeharto terkait warga keturunan Cina dan perayaan Imlek.

  • Dikeluarkannya Inpres Nomor 14 Tahun 1967

Berdasarkan Inpres tersebut, yang berisi tentang Agama Kepercayaan dan Adat Istiadat China, Presiden mengintruksikan kepada Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan badan pemerintahan lainnya, untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan dan adat istiadat China.

Dimana isi inpres tersebut adalah Imlek harus dilaksanakan secara internal dalam hubungan keluarga atau perseorangan. Bahkan, perayaan pesta agama dan adat istiadat China hanya bisa dilakukan secara tidak mencolok di depan umum. Sehingga hanya dilakukan dalam lingkungan keluarga saja.

  • 32 Tahun Perayaan Imlek Dilakukan Sembunyi-sembunyi

Selama berlakukan instruksi dari Presiden, Imlek dilarang dirayakan di depan publik, bahkan seluruh perayaan tahun baru Imlek seperti Cap Go Meh, atraksi barongsai, hingga naga, dilarang dilakukan secara terbuka. Sehingga semua aktivitas perayaan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dalam 32 tahun pemerintahan Soeharto.

  • Perayaan Imlek Akhirnya Kembali Bebas Pasca-Reformasi

Pada tahun 1998, Presiden Habibie dalam masa jabatannya yang terbilang singkat, akhirnya menerbitkan Inpres Nomor 26 Tahun 1998, dimana berisi tentang pembatalan aturan-aturan diskriminatif terhadap komunitas Tionghoa. Tidak hanya itu, isi Inpres tersebut juga berisi tentang penghentian penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi.

  • Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang Dibuat Soeharto Dicabut Oleh Gus Dur

Pada tanggal 17 Januari 2000, Gus Dur mengeluarkan Inpres Nomor 6 Tahun 2000, dimana isinya mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang dibuat Soeharto, saat masa pemerintahannya.

Nah, sejak itulah Imlek dan perayaan yang menyangkut adat istiadat kaum Tionghoa, bisa diperingati dan dirayakan secara bebas.

  • Tahun 2002 Megawati Meresmikan Imlek Sebagai Hari Libur Nasional

Kemudian, Presiden Megawati, membuat Keppres dengan Nomor 19 Tahun 2020, pada tanggal 9 April 2002, dimana berisi tentang peresmian Imlek sebagai hari libur Nasional.

Mitos Perayaan Imlek

Disebut-sebut, Imlek pertama kali dirayakan pada tanggal 1 pada Dinasti Qin. Selain itu, Imlek juga memiliki mitologi Tahun Baru Imlek yang perlu diketahui, dimana sangat berkaitan dengan mitos-mitos Imlek.

Namun, mitos-mitos Imlek ini masih terus beredar dan masih dipegang teguh secara turun-temurun. Lantas, kira-kira apa saja mitos-mitos Imlek yang masih dipercaya, hingga saat ini? Berikut ulasannya:

  • Mitos Warna Merah

Seperti yang kita tahu, bahwa Imlek sangat identik dengan warna merah cerah. Dimana mulai dari aksesoris, baju, pernak-pernik, dan lain-lainnya, wajib menggunakan aksen warna merah. Namun, apakah kamu tahu bahwa ada mitos dibalik warna merah tersebut?

Perayaan imlek sendiri dirayakan, ketika mereka berhasil melawan seekor hewan mitos yang bernama Nian. Sehingga, masyarakat memiliki ide untuk menaruh sejumlah makanan atau sajian di depan pintu rumah masing-masing, setiap tanggal 1 di awal tahun.

Hal tersebut dilakukan karena, hewan Nian disebut hanya akan memakan makanan yang disediakan warga, dan bukan memangsa warga. Namun, pada suatu hari salah satu warga tidak sengaja melihat hewan Nian berlari ketika bertemu seorang anak menggunakan kostum berwarna merah.

Nah, sejak itulah warga mengetahui kekurangan hewan ini, bahwa ia takut akan segala hal yang berwarna merah. Sehingga, hal ini juga yang menjadikan tradisi Imlek, selalu identik dengan warna merah. Mulai dari pemasangan lentera merah, tirai merah, memakai baju merah, hingga aksesoris.

(Baca Juga: Belanja Imlek Pakai Kartu Kredit Mayapada Banyak Cuannya!)
Fakta-fakta Tentang Imlek

Tahun Baru Cina atau biasa disebut dengan Imlek ini, merupakan hari libur nasional yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia pada 2002. Imlek juga menjadi hari libur nasional, yang dijadikan sebagai musim liburan terpanjang di Tiongkok, bahkan hingga menjadi kegiatan mudik terbesar di dunia.

  • Mudik terbesar di dunia

Fakta Imlek yang pertama adalah adanya tradisi mudik, yang disebut paling besar di dunia. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Imlek juga dijadikan sebagai tradisi mudik seperti halnya Lebaran di Indonesia.

Menjelang Imlek, orang-orang Tionghoa yang merantau ke berbagai negara, akan kembali pulang ke kampung halamannya di China.

Bahkan, tradisi mudik saat Imlek ini pun menjadi yang terbesar di dunia. Hal tersebut pun dikarenakan jumlah penduduk Tiongkok sangat besar. Namun, sepertinya tradisi mudik Imlek di tahun ini agak berbeda, karena China sedang dilanda virus Corona yang sangat berbahaya.

  • Tradisi Bagi-bagi Angpao

Fakta Imlek yang selanjutnya adalah adanya tradisi bagi-bagi angpao. Pasalnya, kegiatan bagi-bagi angpao ini merupakan salah satu tradisi yang paling ditunggu-tunggu saat perayaan Imlek. Selain itu, angpao dengan amplop berwarna merah ini, juga tidak hanya diberikan ke anak-anak, tapi juga bisa ke karyawan, tetangga, saudara atau teman.

  • Buah Jeruk

Fakta Imlek yang tak kalah menarik adalah buah jeruk. Saat Imlek tiba, buah jeruk merupakan salah satu buah yang tak boleh ketinggalan untuk disajikan. Pasalnya, buah jeruk sendiri melambangkan rezeki yang melimpah, karena warnanya yang kuning keemasan.

  • Kue Keranjang/Nian Gao/Dodol Cina

Fakta Imlek lainnya yang tidak boleh dilewatkan adalah kue keranjang, Nian Gao, atau dodol Cina. Kue yang berwarna coklat muda, manis, dan kenyal ini terbuat dari tepung ketan dan gula merah.

Bukan hanya sekedar kue, kue keranjang ini ternyata memiliki filosofi loh. Kue yang satu ini merupakan bentuk harapan keluarga, agar dapat terus bersatu, dan bisa melewati berbagai masalah yang terjadi, pada tahun tersebut.

  • Nama Tahun Diambil dari Nama Hewan

Fakta Imlek berikutnya yang sering kita dengar adalah nama-nama tahun yang diambil dari nama hewan. Seperti contohnya, Imlek tahun ini jatuh di tahun Tikus Logam.

Terlebih, nama tahun di dalam kebudayaan Tionghoa, hanya menggunakan 12 nama hewan saja, atau lebih dikenal dengan sebutan shio. Setiap nama tahun, biasanya juga bisa dikaitkan dengan gambaran, terkait karier, kesehatan, hingga hubungan asmara seseorang, sesuai tahun lahir mereka.

Imlek Bersama Kartu Kredit Bank Mayapada

Bagaimana? Sejarah, mitos, hingga fakta Imlek sangat unik dan menarik untuk diulik bukan? Mumpung masih dalam suasana Imlek, yuk cari promo belanja menarik, seperti yang diberikan Bank Mayapada.

Kamu bisa dapatkan promo diskon belanja online, di Tokopedia dan JD.ID, dengan menggunakan kartu kredit Bank Mayapada. Mau tahu informasi lengkapnya, sekaligus mengajukan kartu kredit Bank Mayapada? Yuk langsung saja kunjungi situs Cekaja.com!

Tentang Penulis

Estrin Vanadianti Lestari

Sisuka makan banyak, tapi enggak gemuk-gemuk